Pelecehan Seksual Verbal, Bukti Sistem Kapitalis Merusak Generasi
OPINI
Oleh Kandiwriter12
Muslimahkaffahmedia.eu.org-Ketika dunia sedang disibukkan dengan berita perang Iran VS As dan Israel, serta kenaikan harga BBM melambung tinggi, di negeri ini malah viral dengan berita pelecehan seksual verbal yang dilakukan oleh oknum mahasiswa universitas ternama di Indonesia yakni UI dari beberapa mahasiswa fakultas hukum. Fakultas yang seharusnya mengerti bagaimana mereka berbicara, berperilaku dan segala tindakan yang tidak semestinya akan bisa menjadi delik hukum bila tidak berhati-hati dalam hal tersebut.
Terdapat 16 Mahasiswa (FH UI) diduga melakukan perbuatan pelecehan seksual secara tulisan melalui chat di grup terhadap puluhan mahasiswi hingga dosen di fakultas tersebut. Kasus tersebut terungkap setelah oknum salah seorang pelaku mengviralkan tangkapan layar percakapan tersebut ke media sosial dengan nama akun "sampahfhui". Saat ini kasusnya masih ditangani oleh Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) UI. Pelecehan seksual di dunia pendidikan bukan lagi kasus per kasus namun sudah menjadi pola sistemik dalam pendidikan di negeri ini, negeri yang katanya menjunjung tinggi nilai-nilai moralitas dan agama.
Wakil Ketua Umum MUI KH Cholil Nafis menilai, kasus tersebut menjadi peringatan serius bahwa pendidikan tinggi tidak cukup hanya menekankan aspek intelektualitas, tetapi juga harus memperkuat dimensi moral dan spiritual mahasiswa. Ia mengatakan, “Ya saya sedih ya anak-anak kita calon pemimpin di masa yang akan datang di kampus favorit yang melahirkan pemimpin di masa yang akan datang. Kita perlu juga mungkin menambah pendidikan moral, pendidikan Pancasila, pendidikan keagamaan di mana orang menjadi pemimpin itu tidak cukup hanya pandai, pintar intelektual tapi juga perlu moral", usai acara silaturrahmi nasional ormas Islam dan halal bi halal idul fitri 1447 H Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Jakarta. (khazanah.republika.co.id, 16/4/2026)
Mirisnya, hal ini terjadi di dalam kampus atau sekolah tinggi, yang di mana seharusnya tempat tersebut menjadi ruang yang aman bagi para pendidik sekaligus murid atau mahasiswa dalam menjalankan aktivitas belajar mengajar dalam lingkungan sekolah tinggi atau kampus. Saat ini pelaku pelecehan tidak lagi guru atau dosen ke murid, namun murid ke guru atau dosen pun bisa melakukan hal yang tidak pantas .
Ironisnya, negeri ini adalah negeri yang begitu menggaungkan profil pemuda Pancasila yang harus tunduk pada norma-norma Pancasila namun kenyataannya jauh dari yang digembar-gemborkan selama ini. Sistem kapitalisme telah merusak kehidupan para anak bangsa ini, sistem yang terlalu mengagungkan kebebasan berpendapat, berperilaku hingga merusak tatanan sosial dan menjadikan pelecehan seksual secara verbal pun menjadi bebas dilakukan, seolah-olah tidak lagi peduli siapa yang menjadi objek pelecehan tersebut.
Mereka berkomentar secara sahut-menyahut dalam jaringan medsos yang terbuka dalam grup tanpa rasa risih atau malu membicarakan hal-hal yang seharusnya tidak perlu di komentari atau di diskusikan di ruang tersebut. Membicarakan objektivitas perempuan dari segala sisi, merendahkan perempuan, menganggapnya sebagai sekadar pemuas hasrat, dan hal ini dianggap biasa atau lumrah.
Bahkan orang tua dari pelaku tersebut ada yang berkomentar tidak layak, tidak sepatutnya orang tua berkomentar seperti itu, menanggapi kasus anaknya dengan tidak bijak. Komentar orang tua terkesan menormalisasi keadaan yang rusak ini , tanpa memikirkan perasaan orang-orang yang dilecehkan.
Islam Solusi Hakiki
Kasus-kasus seperti ini juga banyak terjadi, setelah viral dari UI menyusul dari kampus-kampus ternama lainya. Allah ingin menunjukkan kepada kita bagaimana sistem demokrasi ini semakin hari semakin rusak dan sudah seharusnya mulai mengganti dengan sistem yang benar-benar memanusiakan manusia dengan aturan-aturan ilahi. Bukan dengan aturan manusia yang terkadang penuh tambal sulam bagaikan baju yang sudah tak layak pakai, bolong di sana sini namun masih saja digunakan dengan hanya menambalnya, sehingga menjadi baju yang compang-camping penuh tambalan di mana-mana. Selain sudah tidak enak dilihat, juga sudah tidak pantas dipakai, namun terus dipaksakan untuk dipakai.
Ibarat sebuah kendaraan, sudah waktunya diganti semuanya alias dibeli yang baru, ini hanya selalu diganti supir dan sparepartnya saja, sehingga kendaraan terus bermasalah. Dari hari ke hari masalah terus berulang dan masalah baru muncul. Namun tetap saja tidak mau ganti dengan berbagai alasan. Coba jika berusaha sekuat tenaga menggantinya dengan kendaraan yang baru dengan semua sistem dan perangkat baru maka akan terasa dampak perubahannya sangat besar.
Begitu pula dengan sistem kehidupan sekarang ini, jika sekarang masih menggunakan sistem kapitalisme sekuler, maka akan selalu ada kasus-kasus seperti ini bahkan mungkin lebih parah lagi. Selain sistem yang rusak, hukumnya pun tak membuat mereka jera karena hukum bisa di pilih-pilih dengan adanya uang atau kekuasaan, sehingga tidak ada keadilan bagi si korban yang dilecehkan.
Sudahlah nama mereka tercemar, mereka para korban juga akan mengalami trauma seumur hidup mereka, dan apakah ini tidak terpikirkan oleh para pelaku yang belajar tentang hukum, yang seharusnya menjadi tameng pelindung hukum malah mereka yang melakukan tindakkan asusila tersebut. Beginilah ketika sistem yang digunakan adalah sistem buatan tangan manusia, tak memedulikan halal dan haramnya, hanya mementingkan keinginan nafsu manusia semata.
Jika saja menggunakan hukum buatan Allah, yakni syariat Islam, pelaku akan dihukum berat. Dan hal seperti ini tidak terjadi lagi, pelaku akan jera dengan hukuman yang diberikan. Inilah indahnya hukum syariat Islam apabila diterapkan. Manusia tidak boleh sewenang-wenang melakukan perbuatan yang merugikan orang lain, termasuk pelecehan. Sebab Islam mengatur bahwa manusia terikat dengan hukum syara. Baik lisan (verbal) atau pun tulisan yang diketik di dalam grup seharusnya tidak boleh keluar kata-kata tidak senonoh. Apalagi seorang muslim, yang mana kata-katanya seharusnya berisi kebaikan yang semakin mendekatkan dirinya kepada Allah demi meraih rida-Nya.
Pelecehan seksual verbal jelas hal yang di haramkan dalam Islam, dan perbuatan tersebut harus diberi sanksi tegas. Tanpa adanya sanksi yang tegas maka para pelaku akan selalu ada datang silih berganti. Oleh karena itu, pergaulan dalam Islam diatur secara sistemik dan komprehensif, sehingga tidak akan memberi ruang kemaksiatan terjadi begitu saja kepada individu bahkan secara massal. Dan akan berpikir ulang apabila ingin melakukan kejahatan karena adanya sanksi berat yang akan dipertanggungjawabkan baik di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya Allah amatlah murka terhadap seorang yang keji lagi jahat". (HR. Tirmidzi)
Wallahu alam bissawaab.

Komentar
Posting Komentar