Transportasi Aman dan Nyaman Mungkinkah Terwujud?
Saat ini, kita hidup dalam sistem kapitalis yang menjadikan transportasi sebagai komoditas bisnis.
OPINI
Oleh Yuli Ummu Raihan
Muslimah Peduli Generasi
Muslimahkaffahmedia.eu.org, OPINI -Mudik lebaran sudah menjadi ritual tahunan masyarakat Indonesia. Setiap momen mudik, selalu ada cerita tentang kemacetan hingga kecelakaan yang memakan korban harta hingga nyawa. Seperti kemacetan dan penumpukan kendaraan yang terjadi di Pelabuhan Gilimanuk menuju Ketapang -Banyuwangi yang mencapai 31 kilometer. Seorang ibu asal Kebumen Jawa Tengah dilaporkan meninggal dunia setelah pingsan karena harus mengantre lama di dalam bus untuk keluar dari Bali. Beberapa pemudik juga tumbang karena kelelahan ditambah cuaca yang sangat panas.(Suara.com, 10/3/2026).
Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, mengatakan bahwa antrean panjang di Pelabuhan Gilimanuk terjadi karena sistem kedatangan ke pelabuhan yang belum tertata dan penambahan armada kapal yang tidak dibarengi dengan pembangunan dermaga. Zona penyangga juga masih kurang.
Momen mudik yang seharusnya penuh kebahagiaan berubah menjadi duka mendalam bagi keluarga yang mengalami kecelakaan tragis di Tol Pejagan-Tegal KM 290 B Jawa Tengah pada Kamis, 19/3/2026. Kecelakaan ini mengakibatkan empat orang meninggal dunia.
Seorang pemudik dilaporkan tenggelam di Sungai Kapuas, Perairan Desa Pinang Luar, Kecamatan Kubu Kalimantan Barat pada Kamis, 19/3/2026. Korban jatuh dari atas kapal klotok dan masih dalam proses pencarian.
Dilansir dari Vibizmedia, arus mudik pada 2026 ini mencatat terjadi penurunan angka kecelakaan lalu lintas sebesar 5,3% dan jumlah korban meninggal dunia turun hingga 30,4%. Hal ini disampaikan oleh Direktur Utama PT Jasa Raharja, Muhammad Awaluddin pada Kamis, 26/3/2026. Penurunan ini menunjukkan efektivitas sinergi antara rekayasa lalu lintas, pengawasan aparat, serta meningkatnya kesadaran masyarakat dalam berlalu lintas.
Kita patut apresiasi keberhasilan ini, tetapi kita berharap bisa terwujud pula transportasi yang aman dan nyaman. Saat ini, kita hidup dalam sistem kapitalis yang menjadikan transportasi sebagai komoditas bisnis. Penguasa hanya menjadi regulator dan pengaturannya diserahkan kepada pihak ketiga (investor) yang tujuan utamanya adalah keuntungan. Masyarakat harus membayar mahal untuk bisa mendapatkan pelayanan yang bagus.
Berbeda dengan sistem Islam, dimana negara berfungsi sebagai pelayan dan pelindung rakyat. Negara akan berupaya semaksimal mungkin untuk menyediakan layanan transportasi massal yang aman dan nyaman serta harga yang terjangkau dan mudah diakses. Semua dilakukan dalam rangka pelayanan bukan mencari keuntungan.
Negara akan membangun infrastruktur yang diperlukan oleh rakyat seperti jalan yang layak. Pembangunan akan merata sehingga tidak ada ketimpangan ekonomi atau infrastruktur antara satu wilayah dengan wilayah lain. Dengan demikian, masyarakat tidak perlu bermigrasi besar-besaran seperti hari ini. Sehingga ketika hari raya tiba selalu ada pemandangan mudik yang diwarnai kemacetan.
Di samping itu, Negara juga akan melakukan perencanaan pembangunan wilayah yang baik sehingga akan mengurangi kebutuhan transportasi. Sebuah wilayah akan dibangun untuk jumlah penduduk tertentu dan di sana akan dibangun sarana publik seperti masjid, sekolah, area komersial, rumah sakit, dan fasilitas umum lainnya. Sehingga sebagian besar warga tidak perlu menempuh perjalanan yang jauh untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, seperti menuntut ilmu dan bekerja.
Negara Islam juga akan membangun infrastruktur publik dengan standar teknologi terbaik mulai dari teknologi navigasi, telekomunikasi, fisik jalan, dan moda transportasi massal. Negara akan mendorong para ilmuwan untuk meneliti dan mengembangkan ilmu terkait navigasi dan apa saja yang dibutuhkan untuk kemaslahatan rakyat.
Hal ini bisa kita lihat dari catatan sejarah Islam, bahwa sejak tahun 950 jalan-jalan di Cordoba sudah diperkeras dan diterangi lampu-lampu minyak. Pada abad ke-10 sudah terdapat kapal dagang berkapasitas di atas 1.000 ton dan kapal perang untuk 1.500 orang. Ilmuwan Muslim, Abbas Ibnu Firnas sudah memikirkan transportasi udara pada tahun 800-an Masehi. Pada abad ke-19, Khilafah Utsmani berusaha mengembangkan infrastruktur transportasi, salah satunya adalah membangun jalur kereta api dengan tujuan utama melancarkan perjalanan haji. Sultan Abdul Hamid II merencanakan proyek Hejaz Railway yang menghemat waktu dan biaya perjalanan.
Tidak hanya memberikan kenyamanan dan keselamatan bagi manusia, bahkan hewan pun mendapatkan perlakuan baik dan perlindungan dari para pemimpin Islam. Seperti kisah Umar bin Khattab yang membuang sebagian beban yang diangkut seekor keledai dan memperbaiki jalan yang rusak hanya karena ada seekor keledai yang terperosok di jalan yang rusak.
Kondisi tersebut tentu saja berbeda dengan kondisi hari ini. Jalanan rusak sudah merenggut ribuan nyawa tetapi masih banyak kita temukan jalanan rusak hingga tidak layak untuk dilewati. Padahal, kelak semua itu akan dimintai pertanggungjawaban. Mari kita renungkan sabda Rasulullah saw. berikut:
"Jabatan itu permulaannya penyesalan, pertengahannya kesengsaraan dan akhirnya azab pada hari kiamat." (HR Ath-Thabrani)
Dalam Islam, pendanaan pembangunan infrastruktur berasal dari dana Baitul Mal, bukan dari masyarakat (pajak). Baitul Mal memiliki sumber-sumber pendapatan yang tetap dan tidak tetap, yang memungkinkan untuk membiayai semua kebutuhan negara. Jika kas Baitul Mal kosong, sementara ada kebutuhan yang sangat penting dan bisa menimbulkan mudharat ketika tidak dilaksanakan, maka negara bisa mendorong masyarakat untuk berinfak, jika belum juga mencukupi maka negara boleh berutang kepada rakyat atau asing tanpa riba dan syarat yang bertentangan dengan syariat Islam. Negara juga boleh menarik dharibah (pajak) dari orang-orang kaya sampai kebutuhan tersebut terpenuhi (tidak permanen). Namun, kemungkinan kondisi ini terjadi sangat kecil karena sumber daya kekayaan negara Islam sangat luar biasa.
Ketika pembangunan infrastruktur itu tidak terlalu penting, maka utang dan pajak tidak perlu dilakukan. Kebijakan yang diambil negara adalah menunda pembangunan infrastruktur tersebut. Jadi, negara Islam membangun infrastruktur sesuai kebutuhan, bukan sekadar pencitraan, apalagi untuk pemborosan.
Selain membangun infrastruktur jalan yang bagus, negara Islam di era Khalifah Umar bin Khattab pernah meminta Gubernur Mesir untuk menyediakan jamuan makanan dengan stok melimpah dan gratis untuk orang-orang yang melakukan perjalanan di sepanjang Makkah dan Madinah. Sehingga masyarakat dapat merasakan perjalanan dengan aman dan nyaman. Semua itu hanya bisa terwujud ketika Islam diterapkan secara kafah dalam segala aspek kehidupan manusia. Tidakkah kita rindu akan kejayaan Islam itu kembali?
Wallahualam bissawab.

Komentar
Posting Komentar