Umat Islam Bersatu dan Bangkitlah!
OPINI
Irma Hidayati, S.Pd
Pegiat Dakwah
Muslimahkaffahmedia.eu.org-Gencatan senjata telah disepakati. Perang reda sementara. Namun, tekanan syarat-syarat perdamaian tetap berlangsung. Inilah perang modern. Tak hanya perang fisik tapi perang proksi.
Perang AS-Isreal melawan Iran semakin membuka mata dunia. Bagaimana hegemoni militer AS yang nampak sempurna ternyata mudah dipatahkan oleh Iran. Serangan yang dilancarkan berhasil terdeteksi bahkan sudah tertebak akan serangan-serangan berikutnya. Gambaran kecanggihan dan kejeniusan strategi perang hanya nampak di film Hollywood. Bahkan sekedar melindungi pangkalan militernya yang berada di Libanon saja tak mampu. Akhirnya, kekalahan diminimalisir dengan diumumkan gencatan senjata. Iran menyatakan dirinya telah memenangkan peperangan ini. (mediaindonesia.com, 10/4/2024).
Sikap Pongah AS
AS, negara super power yang bertindak sebagai polisi dunia. Setelah berhasil mengobrak-abrik Venezuela, berhasrat untuk menundukkan Iran. Bayangannya akan mudah karena selama ini Iran adalah negara satelitnya AS. Selama beberapa dekade lalu telah menjadi perpanjangan tangan perang di kawasan Teluk. Rezim Iran kala itu melakukan pembunuhan kepada sesama muslim.
AS berharap dengan menyerang Iran dan berhasil membunuh pimpinan tertingginya, maka penggantinya adalah penguasa yang tunduk padanya. Harapan AS ternyata bertolak belakang. Penggantinya adalah putranya sendiri yang mempunyai keberanian bahkan kegarangannya melebihi ayahnya.
Rezim Iran kali ini lebih mengedepankan harga diri sebagai negara Persia yang pernah jaya. Serta ingin menyelamatkan umat muslim yang selama ini dibantai Israel. Iran menolak keras pendudukan oleh AS-Israel terhadap Palestina dan Libanon. Selayaknya negara-negara teluk juga mempunyai kebijakan yang diambil sama, keluar dari bayang-bayang AS dan Israel.
Taktik Adu Domba
Sudah sering opini perseteruan sesama muslim dilontarkan ke publik. Konflik antara Sunni dan Syiah, yang memorakporandakan segala lini kehidupan umat Islam tanpa pandang bulu. AS senantiasa mengulang-ulang narasi semacam ini untuk memuluskan penjajahannya. Seperti saat invasi AS ke Irak tahun 2003. AS -pelaku imperialisme- diposisikan sebagai negara asing yang akhirnya bisa diusir. Namun sejatinya tidak benar-benar pergi dari negeri jajahannya. Karena menggunakan para anteknya untuk mengadu domba umat Islam. Diciptakanlah perseteruan antara Sunni dan Syiah.
Akibatnya, jihad melawan pendudukan AS bergeser menjadi perpecahan sesama muslim. Fakta saat ini juga demikian. AS kembali melontarkan narasi Sunni dan Syiah agar negara teluk tidak bersatu melawannya. Bahkan menggiring opini dunia untuk mendukung perang AS serta memosisikan Iran sebagai rezim pembantai sesama muslim.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk sadar politik. Mengingatkan kaum Muslim secara umum pada sejumlah fakta. Di antaranya adalah kita sama-sama muslim wajib bersatu di bawah satu kepemimpinan melawan hegemoni kafir. Musuh bersama kita adalah orang kafir bukanlah Sunni dan Syiah yang sama muslimnya.
Untuk itu, seorang muslim tidak seharusnya bergembira atas serangan AS dan Israel terhadap Iran. Meskipun dulu rezim Iran telah melakukan kezaliman terhadap saudara kita.
Hal terpenting yang harus disadari adalah perang ini tidak semata-mata ditujukan kepada Iran, melainkan untuk melemahkan kekuatan regional dan menjadikannya di bawah dominasi AS dan Israel Yahudi.
AS memaksakan kontrol penuh atas wilayah ini. Ingin menguasai seluruh potensi umat Islam dengan menjadikan Iran sebagai negara yang tunduk kepadanya. AS juga memaksa Iran untuk menghentikan program pengayaan uranium dan pengembangan kemampuan pertahanan misil.
Oleh karena itu, sikap kita jangan mengecam tindakan Iran. Bahkan kita dukung karena upayanya untuk membebaskan negeri-negeri Islam yang jatuh ke dalam cengkeraman penjajahan, yang selama ini menjadi asisten rumah tangga bagi Amerika dan Israel.
Dalam agresi AS ke Iran sangat sulit ditundukkan. Taktik selanjutnya penekanan lewat jalur perundingan. Semoga Iran tidak terbujuk dan berani menolak semua syarat yang diajukan AS. Jika AS yang menang, maka akan semakin congkak dan merajalela. Entitas Yahudi akan semakin tinggi kedudukannya. Mereka akan semakin sewenang-wenang kepada umat Islam. Baik dalam memperlakukan tempat ibadah maupun merendahkan kehormatan muslim.
Negeri-negeri Islam Wajib Bersatu
Saat ini hanya satu negeri Islam yaitu Iran, yang berani melawan agresi AS-Israel. Membayangkan, seandainya semua negeri Islam di kawasan teluk bersatu, bahkan semua umat muslim melawannya insyaAllah zionis Yahudi akan tumbang. Sistem kapitalis yang selama ini mengatur dunia bisa sirna. Jadi, persatuan umat saat ini sangatlah dibutuhkan.
Dari sini diperlukan kesadaran politik seluruh dunia Islam, agar bersatu dalam satu komando. Saatnya umat Islam bersatu. Membangun kekuatan politik yang solid. Sebuah sistem pemerintahan yang independen, jangan bergantung pada AS, yaitu kekuatan politik Islam yang Kafah dan menyeluruh. Inilah solusi agar berhasil menghancurkan entitas zionis. Melemahkan AS sebagai pengusung kapitalisme. Mampu menghancurkan hegemoni barat dan sekutunya.
Khilafah Islam yang akan menjadi pionir untuk membebaskan penderitaan negeri- negeri muslim yang terjajah. Dengan dakwah dan jihad, khilafah Islam akan menebar rahmat bagi semua penduduk dunia.
Mari kita satukan barisan agar umat Islam kembali jaya dan tampil sebagai pemimpin dunia di bawah naungan negara khilafah Rasyidah sesuai metode kenabian.
Wallahualam bissawab

Komentar
Posting Komentar