Daycare Bukan Solusi Bagi Ibu Pekerja


OPINI


Oleh Adinda khoirunisa           

Aktivis Muslimah


Muslimahkaffahmedia.eu.org-Lahan bisnis yang banyak bermunculan selama satu dekade adalah daycare. Hal ini wajar, mengingat banyak lapangan pekerjaan yang menggunakan tenaga kerja perempuan. Dalam peringatan Hari Buruh Internasional 2026, Presiden Prabowo menyampaikan akan memperjuangkan secepatnya perihal tempat penitipan anak (daycare) untuk buruh. (news.detik.com, 1-05-2026)


Banyaknya jumlah ibu bekerja bukanlah suatu prestasi bahkan ini adalah kondisi yang memprihatinkan. Fakta ini menunjukkan bahwa tengah terjadi eksploitasi khususnya pada kaum ibu. Kebutuhan rumah tangga kian hari terus meningkat. Para ibu harus ikut bekerja membantu ekonomi keluarga, sementara tuntutan pengasuhan adalah tanggung jawab utama.


Peran utama seorang ibu dalam pengasuhan tidak bisa dijalankan dalam kehidupan yang kapitalistik. Kapitalisme melahiran permasalahan kehidupan yang begitu kompleks. Masyarakat jauh dari kesejahteraan, beban hidup kian hari makin berat. Seharusnya negara membantu para ibu menjalankan peran pengasuhan tanpa was-was akan problem ekonomi.


Keberadaan daycare seolah terlihat membantu. Cara pandang kapitalisme mengarahkan bahwa daycare mampu mengatasi masalah ibu pekerja. Padahal semua ini sangat bertentangan dengan fitrah perempuan. Sosok ibu secara fitrah merupakan pribadi yang menentramkan dengan kasih sayang dan pengasuhannya. Andai diberi pilihan, tentu para ibu lebih memilih untuk menjalankan perannya mengurus anak dan rumah tangga. 


Semakin miris, ketika negara hadir dengan ala kadarnya dan solusi-solusi praktis, tetapi tidak mampu menjawab tuntas inti masalah ibu pekerja. Bahkan, negara seolah turut “memaksa” kaum perempuan dengan menciptakan atmosfer kerja yang katanya berpihak pada perempuan. Solusi pengadaan daycare hanya memberikan ketenangan ilusi bagi ibu pekerja. 


Sesungguhnya kebijakan yang dirumuskan sebenarnya menjebak perempuan dan membuat perempuan abai terhadap fitrahnya. Rumah kehilangan sosok ibu dan anak kehilangan sebagian hak pengasuhan. Akibat peran ganda sebagai pekerja sekaligus ibu rumah tangga tentu mentalitas ibu pekerja terkuras secara fisik dan psikis. Kondisi ini justru membuat rumah tangga jauh dari sejahtera. Bahkan, kondisi yang tidak ideal ini akan mengancam keutuhan bahtera rumah tangga.


Mengesampingkan fitrah ibu dalam pengasuhan anak dan mengalihkannya pada daycare merupakan malapetaka. Daycare ibarat obat penenang bagi pengasuhan anak, sehingga sewaktu-waktu akan menimbulkan resistensi dan malfungsi. Oleh karena itu, kerangka berpikir masyarakat tidak boleh terjebak oleh kapitalisme. Bahkan, masyarakat harus memahami bahwa keberadaan daycare adalah cara kapitalisme mengalihkan sistem pengasuhan yang sesungguhnya sudah diatur syariat.


Anak yang terlahir bukanlah sekadar penyejuk mata kedua orang tua, melainkan juga amanah yang wajib dijaga. Islam memiliki aturan berkaitan dengan pengasuhan (hadhanah). Kewajiban pengasuhan merupakan tanggung jawab orang tua, terutama para ibu. 


Imam Abu Dawud meriwayatkan hadis dari Abdullah bin ‘Amru bin Al-‘Ash ra., bahwa beliau berkata, "Sesungguhnya seorang perempuan pernah berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya anakku ini, perutku yang menjadi tempatnya, puting susuku yang menjadi tempat minumnya, pangkuankulah yang menjadi tempat bernaung, sedangkan bapaknya menceraikanku dan hendak mengambil dia dariku.” Rasulullah saw. bersabda, “Kamu lebih berhak atas anak itu selama kamu belum menikah lagi.” (HR. Abu Dawud dan Al-Hakim. Imam Hakim menshahîhkan hadis ini dan disetujui oleh Al-Hafidz Adz-Dzahabi).


Hadis-hadis di atas mengindikasikan bahwa menjalankan pengasuhan adalah tugas utama para ibu yang tidak dapat dialihkan pada pihak yang lain. Pengasuhan ini dimulai sejak kehamilan, penyusuan hingga masa pengasuhan itu sendiri. Oleh karena itu, kaum muslim harus memahami tuntunan syariat terkait sistem pengasuhan dan berupaya untuk mengembalikan posisi mulia ibu sebagai ummun wa rabbatul bait.


Sosok ibu merupakan posisi yang sangat mulia di dalam Islam. Fungsi ibu bukan bersifat biologis semata. Ibu juga memiliki peran strategis dan politis sebagai mashna’ ar-rijâl, yaitu “arsitek” generasi pemimpin masa depan. Oleh karena itu, Islam menuntut agar kaum perempuan benar-benar menjalankan fungsi keibuan ini dengan sebaik-baiknya karena tugas utama perempuan adalah sebagai ummun wa rabbat al-bayt (ibu dan pengatur rumah tangga).


Peran strategis ibu ini membutuhkan peran negara. Islam tidak menjadikan peran domestik ini sebagai bagian yang terpisah dari peran publik. Realisasi peran pengasuhan seorang ibu menjadi suatu yang dipastikan oleh negara telah berjalan secara ideal. Mekanismenya bukan dengan mengalihkan pengasuhan, tetapi dengan memastikan pengasuhan benar-benar berjalan karena merupakan perintah syariat.


Kebutuhan para ibu akan dipastikan pemenuhannya secara ideal oleh negara. Para ibu tidak akan dipusingkan dengan kebutuhan ekonomi yang menuntutnya untuk bekerja. Mekanismenya dengan membuka lapangan kerja khususnya bagi kaum laki-laki (wali). Selain membuka lapangan kerja, negara juga dapat memberi modal kepada para wali yang digunakan untuk mengembangkan usaha untuk meningkatkan taraf hidup tanggungannya.


Kondisi ini tidak lantas menghilangkan rasa waswas para ibu terkait ekonomi keluarga, hingga merasa tenang dalam menjalankan perannya. Andaipun ada ibu yang bekerja, itu tetap diperbolehkan, karena hukum ibu bekerja dalam Islam adalah mubah (boleh). Namun, negara wajib memastikan para ibu tidak melalaikan kewajiban utamanya terhadap keluarganya.


Di sisi lain, negara dengan visi politik Islam memandang bahwa peran pengasuhan ini berkorelasi dengan peradaban Islam di masa mendatang. Para ibu yang hebat akan mampu melahirkan sosok-sosok politisi, generasi para syuhada, para pemikir, dan pengisi peradaban. Ketika peran strategis ini diabaikan, negara sejatinya sedang mengabaikan satu bagian vital dalam mengkonstruksi peradaban mulia.


Demikianlah, konsep pengasuhan ini sejatinya terkait erat dengan sistem kehidupan dan tata aturan yang berlaku. Peran domestik ibu dalam hal pengasuhan akan mampu mewujudkan peradaban mulia jika ditopang dengan sistem politik negara yang sesuai dengan Islam. Islam adalah satu-satunya sistem yang memiliki konsep pengasuhan yang komprehensif dan politis. Sebaliknya, kapitalisme dengan lensa profit dan eksploitatifnya terbukti merusak mekanisme pengasuhan dan abai dalam memastikan kesejahteraan rakyat. 


Wallahualam bissawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic

Kasus Pagar Laut, Bukti Penguasa Tunduk Kepada Pengusaha

Akhir Jeda Sebuah Keteguhan