Dolar Menguat, Rakyat Menjerit Kegagalan Kapitalisme dan Solusi Sistemik


OPINI


Oleh Anita Humayroh

Pegiat Literasi dan Pemerhati Sosial


Muslimahkaffahmedia.eu.org-Kenaikan nilai dolar Amerika Serikat hampir selalu menjadi kabar buruk bagi masyarakat di banyak negara berkembang. Ketika dolar menguat, harga barang impor naik, biaya produksi meningkat, utang luar negeri membengkak, dan pada akhirnya rakyatlah yang harus menanggung beban tersebut melalui kenaikan harga kebutuhan pokok maupun menurunnya daya beli. Fenomena ini bukan sekadar persoalan fluktuasi pasar yang terjadi sesaat, melainkan konsekuensi logis dari sistem ekonomi kapitalis yang menjadikan pasar global dan mata uang asing sebagai poros utama aktivitas ekonomi. (BBC.com, 16/05/2026)


Dalam sistem kapitalisme, kekuatan ekonomi suatu negara sering kali ditentukan oleh faktor-faktor yang berada di luar kendalinya. Ketergantungan terhadap dolar membuat stabilitas ekonomi nasional rentan terhadap kebijakan negara lain, terutama Amerika Serikat. Ketika bank sentral Amerika menaikkan suku bunga atau terjadi gejolak ekonomi global, negara-negara yang bergantung pada dolar ikut merasakan dampaknya. Akibatnya, rakyat yang tidak pernah terlibat dalam pengambilan keputusan tingkat global justru menjadi pihak yang paling terdampak.


Hal yang lebih memprihatinkan adalah ketika kondisi tersebut dihadapi oleh para pemimpin yang gagal memahami akar persoalan. Di tengah kekhawatiran masyarakat terhadap kenaikan harga dan melemahnya daya beli, yang muncul justru pernyataan-pernyataan sensasional, candaan yang tidak relevan, atau slogan-slogan lama yang miskin solusi. Alih-alih memberikan edukasi mengenai penyebab krisis dan langkah konkret yang akan ditempuh pemerintah, publik sering kali disuguhi narasi yang lebih berorientasi pada pencitraan daripada penyelesaian masalah.


Masyarakat tentu tidak membutuhkan kalimat-kalimat basi yang hanya menenangkan sesaat tanpa menyentuh substansi persoalan. Rakyat membutuhkan kepemimpinan yang mampu membaca realitas ekonomi secara jernih, memahami penyebab struktural dari krisis yang terjadi, dan menghadirkan kebijakan yang melindungi kepentingan publik. Ketika para pemimpin lebih sibuk mengelola persepsi daripada mengelola negara, maka kepercayaan publik akan terus terkikis.


Dalam pandangan sebagian kalangan, persoalan ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengganti pejabat atau mengubah kebijakan teknis semata. Masalah utamanya terletak pada sistem yang digunakan. Selama ekonomi dibangun di atas fondasi kapitalisme yang menempatkan keuntungan sebagai orientasi utama dan menjadikan mata uang fiat sebagai instrumen dominan, maka ketidakstabilan akan terus berulang. Krisis demi krisis akan datang dalam bentuk yang berbeda, tetapi dengan korban yang sama: rakyat biasa.


Daulah Islam menawarkan skema ekonomi Islam sebagai alternatif yang bersumber dari hukum syara'. Islam memiliki seperangkat aturan ekonomi yang berbeda secara mendasar dari kapitalisme. Salah satunya adalah penggunaan dinar dan dirham yang berbasis emas dan perak sebagai alat tukar. Dinar dirham, adalah mata uang yang memiliki nilai intrinsik dan dianggap lebih stabil dibandingkan uang kertas yang nilainya sangat bergantung pada kebijakan negara dan kepercayaan pasar.


Dalam perspektif Islam, penggunaan dinar dan dirham dapat mengurangi ketergantungan terhadap mata uang asing serta membatasi praktik-praktik spekulatif yang sering memicu gejolak ekonomi. Ketika nilai mata uang ditopang oleh komoditas yang memiliki nilai riil, maka ruang manipulasi moneter dinilai menjadi lebih sempit. Selain itu, perdagangan internasional tidak harus bergantung pada dominasi satu mata uang tertentu yang dapat memberikan keuntungan politik dan ekonomi bagi negara penerbitnya.


Lebih jauh lagi, ekonomi Islam tidak hanya berbicara mengenai mata uang. Sistem ini juga mengatur kepemilikan sumber daya alam, distribusi kekayaan, mekanisme perdagangan, larangan riba, serta tanggung jawab negara dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Dalam konsep tersebut, sumber daya strategis seperti energi, tambang, dan kekayaan alam lainnya tidak boleh dikuasai segelintir korporasi demi keuntungan pribadi, melainkan harus dikelola untuk kemaslahatan umum.


Sistem Islam dapat menciptakan kemandirian ekonomi yang lebih kuat. Negara tidak akan pernah bergantung pada utang berbunga, tidak mudah terpengaruh oleh fluktuasi kurs asing, dan memiliki instrumen yang lebih besar untuk menjamin kesejahteraan rakyat. Dengan demikian, orientasi pembangunan tidak lagi berpusat pada pertumbuhan angka-angka statistik semata, tetapi pada terpenuhinya kebutuhan masyarakat secara nyata.


Sejarah mencatat bahwa peradaban Islam pernah tampil sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia. Sejak masa Khulafaur Rasyidin, dilanjutkan oleh Daulah Umayyah dan Abbasiyah, dinar dan dirham menjadi instrumen penting dalam aktivitas ekonomi yang membentang dari Asia Tengah hingga Afrika Utara dan sebagian Eropa. Dengan wilayah yang luas dan pasar yang terintegrasi, perdagangan berlangsung secara dinamis tanpa ketergantungan pada mata uang asing sebagaimana yang terjadi pada banyak negara saat ini.


Pada masa kejayaannya, kota-kota seperti Baghdad, Damaskus, Kairo, dan Cordoba berkembang menjadi pusat perdagangan internasional. Para pedagang Muslim membawa komoditas, ilmu pengetahuan, dan teknologi ke berbagai penjuru dunia. Stabilitas mata uang berbasis emas dan perak memberikan tingkat kepercayaan yang tinggi dalam transaksi lintas wilayah. Nilai dinar dan dirham tidak ditentukan oleh spekulasi pasar atau keputusan lembaga keuangan tertentu, melainkan oleh kandungan logam mulia yang dimilikinya.


Kondisi tersebut turut mendukung lahirnya iklim ekonomi yang produktif. Negara memperoleh pemasukan dari sektor-sektor riil, perdagangan berkembang, dan masyarakat memiliki alat tukar yang relatif stabil. Dalam pandangan banyak pemikir Islam, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa sistem ekonomi yang bertumpu pada aset nyata memiliki ketahanan lebih baik dibandingkan sistem keuangan modern yang sangat bergantung pada uang fiat dan instrumen spekulatif.


Lebih dari sekadar persoalan mata uang, kejayaan peradaban Islam lahir dari penerapan aturan ekonomi yang berupaya menghubungkan aktivitas ekonomi dengan nilai keadilan. Negara bertindak sebagai pengurus urusan rakyat, memastikan distribusi kekayaan tidak beredar hanya di kalangan elite, serta menjaga agar sumber daya strategis dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemaslahatan umum. Karena itu, ketika berbicara mengenai dinar dan dirham, yang sesungguhnya dibicarakan bukan hanya bentuk mata uangnya, melainkan keseluruhan sistem yang menopangnya.


Di tengah ketidakpastian ekonomi global saat ini, sejarah kegemilangan Islam tersebut menjadi keinginan mutlak bagi setiap manusia yang menginginkan lahirnya kembali sistem ekonomi yang dapat menyejahterakan siapa pun yang berada di dalamnya. Penggunaan dinar dan dirham bukanlah romantisme masa lalu, melainkan simbol kemandirian ekonomi yang terbebas dari dominasi mata uang asing dan tekanan sistem kapitalis global. Dari sudut pandang ini, kebangkitan ekonomi Islam dipandang sebagai upaya menghadirkan kembali tata kelola ekonomi yang diyakini lebih adil, lebih stabil, dan lebih berpihak kepada kepentingan rakyat.


Pada akhirnya, kenaikan dolar bukan sekadar persoalan angka di layar pasar keuangan. Ia adalah cermin dari kerentanan sistem ekonomi yang menopang kehidupan masyarakat. Dan ketika kerentanan itu bertemu dengan kepemimpinan yang gagal menghadirkan solusi, maka penderitaan rakyat menjadi semakin panjang.


Wallahualam bissawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic

Kasus Pagar Laut, Bukti Penguasa Tunduk Kepada Pengusaha

Akhir Jeda Sebuah Keteguhan