Pertamax Naik Lagi, Rakyat Makin Tercekik
OPINI
Oleh Ermawati
Aktivis Muslimah
Muslimahkaffahmedia.eu.org-Lagi dan lagi, pemerintah menaikkan harga pertamax. Hal ini dilakukan untuk menutupi terjadinya kebocoran anggaran negara. Mirisnya, rakyatlah yang harus menanggung kebocoran anggaran tersebut. Kenaikan harga BBM yang terjadi secara terus menerus sangat berpengaruh terhadap naiknya harga kebutuhan pokok. Ini berarti rakyat yang sudah tertekan kehidupannya akan semakin tercekik dengan harga kebutuhan yang terus melambung.
Lantas, apakah rakyat dapat menghindari kenaikan harga kebutuhan tersebut? Apakah setiap masalah di negara ini solusinya harus dengan menaikkan harga? Ataukah ada kesalahan sistem?
Dilansir dari BBC.com (10-06-2026), Pertamina Patra Niaga mengumumkan pada Selasa (09/06) malam, harga Pertamax (RON 92) naik menjadi Rp16.250 per liter dari harga sebelumnya Rp12.300 per liter. Adapun Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Dua jenis BBM ini masuk kategori nonsubsidi, alias pemerintah tidak memberi bantuan dana dari APBN guna memotong harga jual produk tersebut. Akibatnya, daya beli menurun terutama masyarakat kelas menengah ke bawah, sedangkan menengah atas juga bakalan terbebani.
Sungguh kondisi ini makin menambah penderitaan rakyat. Sebenarnya, hal ini tak lain disebabkan melemahnya rupiah terhadap dolar AS sehingga berpengaruh pula terhadap barang-barang yang diimpor dari luar negeri, karena pembayaran barang impor tersebut menggunakan dolar AS. Inilah yang dikhawatirkan jika dolar naik, maka dipastikan kehidupan rakyat di kota maupun di desa akan merasakan dampaknya, meskipun mereka tidak menggunakan dolar. Sebab, kebutuhan rumah tangga akan mengalami lonjakan harga. Di sini rakyat kian tertekan seolah tak berdaya, bila memprotes kebijakan tersebut maka akan dianggap salah, tetapi jika tidak diprotes nasibnya seakan seperti orang hidup tetapi mati.
Negara tidak mampu memberikan solusi berupa kebijakan yang mengutamakan dan menguntungkan rakyat. Rakyat selalu menjadi korban dari setiap permasalahan negara. Seharusnya jika sumber daya alam yang melimpah dikelola negara dengan benar, dapat membantu menyejahterakan rakyat.
Negara harusnya lebih arif dan bijaksana dalam menyelesaikan masalah, jangan hanya rakyat kecil saja yang ditekan dengan semua kenaikkan harga. Ada para pejabat yang gaji dan tunjangan hidupnya lebih besar dari rakyat yang bisa dipangkas untuk membantu kas negara. Bukan gaji rakyat yang pas-pasan masih harus dipotong pajak, serta dana efesiensi lainnya. Negara perlu berpikir jernih, masih kurangkah semua beban yang harus ditanggung rakyat sehingga masih tetap menaikkan harga pertamax. Belum lagi harus memikirkan beban biaya pendidikan dan kesehatan yang selangit. Ditambah lagi kebutuhan hidup yang setiap hari melonjak.
Negara harusnya adil, bukan rakyat kecil yang selalu dikorbankan, tetapi para pejabat pun ikut merasakan setiap kesulitan yang dialami negara. Bukan hanya berharap gaji dan tunjangannya saja besar, tetapi tidak ada pengorbanannya untuk rakyat. Begitupun dengan pemerintah yang juga harus berhemat sehingga bukan hanya rakyat saja yang disuruh berhemat. Dalam keadaan ekonomi yang lemah seperti ini, pemerintah tidak perlu menghamburkan uang rakyat hanya untuk hal-hal yang tidak penting, di luar kepentingan negara. Jika hal tersebut tetap dilakukan, maka inilah bentuk kezaliman. Artinya pemerintah sama saja bersenang-senang di atas penderitaan rakyat. Rasulullah saw. bersabda,
"كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ..."
Artinya: "Setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang imam (kepala negara) adalah pemimpin atas rakyatnya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka..." (HR. Bukhari dan Muslim)
Namun, kenyataannya saat ini pemimpin negeri ini abai terhadap kehidupan rakyatnya. Negara belum dapat memberikan dan melayani rakyat dengan sepenuh hati. Negara dalam sistem kapitalisme hanya mementingkan dan menguntungkan para oligarki dan golongan elit saja. Padahal, sistem yang diadopsi dari Barat ini semakin menampakkan wajah aslinya. Sistem yang rusak dan bobrok banyak melahirkan para pemimpin yang rakus, tamak, dan menindas dengan segala peraturan dan kebijakan dengqn mengharuskan rakyat membayar pajak setinggi-tingginya, tetapi korupsi terus merajalela. Oleh karena itu, masih pantaskah sistem ini terus diterapkan?
Bila dicermati, dari segala permasalahan yang ada, yang perlu diperbaiki adalah sistemnya. Di sistem kapitalisme banyak kebijakan yang harusnya untuk kesejahteraan rakyat malah disalahgunakan. Ada banyak pulau yang diperjualbelikan dan menjadi hak milik asing. Pun melimpah ruahnya sumber daya alam yang seharusnya dapat dinikmati rakyat secara murah bahkan gratis sehingga dapat hidup berkecukupan, tetapi faktanya justru rakyat hidupnya miskin. Sedangkan, yang kaya dalam sistem kapitalisme adalah mereka yang berkuasa dan para elit oligarki. Sedangkan, rakyat hidup menderita dan kian tercekik. Maka dari itu, masihkah kita percaya pada sistem yang telah membawa banyak kerusakan di setiap aspek kehidupan?
IsIam memiliki solusi yang sempurna dalam mengurus dan melayani rakyat dengan sebaik mungkin. Negara akan menjamin seluruh kebutuhan hidup rakyat, mulai dari sandang, pangan, dan papan. Sumber daya alam yang ada akan dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat, agar rakyat hidup sejahtera dan tercukupi. Rakyat akan mendapatkan harga kebutuhan pokok secara murah dan mendapatkan layanan fasilitas umum secara gratis. Selain itu, pemimpin dalam sistem IsIam akan bekerja dengan baik dan amanah sehingga tidak ada penjualan dan kepemilikan tanah atau SDA oleh segelintir orang. Semua akan dikelola negara untuk kepentingan rakyat.
Maka dari itu, sangat penting bagi umat untuk berpegang teguh pada keimanan yang berakidah IsIam secara kafah. Menjalankan syariat Allah Swt. dan menjadikan satu-satunya hukum dalam kehidupan sehari-hari, agar tidak mudah goyah oleh sistem kapitalisme yang merusak dan menggerus pemikiran umat. Oleh karena itu, sudah saatnya umat bangkit dan bersatu di bawah kepemimpinan IsIam, agar kesejahteraan hidup dapat terwujud.
Wallahualam bissawab.

Komentar
Posting Komentar