Gejala Cemas dan Depresi Melanda Anak Indonesia, Tanggung Jawab Siapa?
OPINI
Pegiat Literasi
Muslimahkaffahmedia.eu.org-Kesehatan mental anak Indonesia kini berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Anak-anak yang seharusnya tumbuh dengan keceriaan justru banyak yang mengalami kecemasan dan depresi. Fenomena ini tidak bisa lagi dianggap sebagai masalah kecil, karena menyangkut masa depan generasi bangsa. Pertanyaannya, ketika anak-anak mulai dilanda gangguan mental, sebenarnya siapa yang harus bertanggung jawab?
Alarm Kesehatan Mental Anak
Hasil skrining kesehatan mental yang dilakukan pemerintah terhadap jutaan anak menemukan bahwa, sekitar 700 ribu anak Indonesia mengalami gejala kecemasan dan depresi.
Menurut Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, dari jumlah tersebut sekitar 4,4 persen anak mengalami gangguan kecemasan (anxiety disorder) dan 4,8 persen mengalami gejala depresi (depression disorder).
Data dari Survei Kesehatan Siswa Berbasis Sekolah Global juga menunjukkan tren peningkatan anak yang mencoba bunuh diri. Angkanya naik dari 3,9 persen pada tahun 2015 menjadi 10,7 persen pada tahun 2023. Kekhawatiran pemerintah pun bukan tanpa alasan. Jika kesehatan mental ini tidak segera ditangani maka akan berkembang menjadi masalah yang lebih berat di masa depan. (CNNIndonesia.com,13-03-2026)
Data ini jelas menjadi alarm serius. Jika generasi muda sejak dini sudah dihantui tekanan mental, maka masa depan bangsa tentu ikut terancam. Gangguan kecemasan dan depresi dapat berdampak pada berbagai aspek kehidupan anak, mulai dari prestasi belajar, hubungan sosial, hingga perkembangan kepribadian mereka.
Namun, masalah ini tidak bisa hanya dipahami sebagai persoalan medis atau psikologis semata. Fenomena ini sesungguhnya merupakan gejala dari problem yang lebih mendasar dalam sistem kehidupan modern.
Tekanan Kehidupan Modern
Ada berbagai faktor yang memicu munculnya kecemasan dan depresi pada anak, antara lain:
Pertama, tekanan keluarga. Banyak orang tua saat ini terjebak dalam rutinitas kerja yang melelahkan. Demi memenuhi kebutuhan hidup yang semakin mahal, mereka harus menghabiskan sebagian besar waktu untuk bekerja. Akibatnya, waktu bersama anak menjadi sangat terbatas.
Anak kehilangan ruang komunikasi dan kehangatan emosional yang sebenarnya sangat mereka butuhkan. Ketika anak menghadapi masalah, mereka tidak memiliki tempat yang aman untuk bercerita.
Kedua, tekanan pendidikan. Sistem keberhasilan pendidikan modern sering menempatkan nilai dan prestasi sebagai ukuran utama. Anak dituntut untuk selalu unggul, mendapatkan nilai tinggi, dan memenangkan berbagai kompetisi.
Akibatnya, sekolah yang seharusnya menjadi tempat belajar yang menyenangkan justru berubah menjadi sumber stres bagi anak.
Ketiga, pengaruh media sosial dan dunia digital. Anak-anak kini tumbuh dalam lingkungan digital yang penuh dengan tekanan sosial. Media sosial menampilkan standar kehidupan yang tidak realistis: popularitas, kecantikan, kekayaan, dan kesuksesan instan.
Anak yang belum matang secara emosional mudah membandingkan dirinya dengan orang lain. Perasaan tidak cukup baik, tidak populer, atau tidak sempurna dapat memicu kecemasan bahkan depresi.
Keempat, lingkungan sosial yang semakin individualistik. Dalam masyarakat modern, hubungan antar manusia menjadi semakin renggang. Anak lebih banyak berinteraksi dengan layar gawai dibanding dengan manusia.
Akibatnya, mereka kehilangan dukungan sosial yang sebenarnya sangat penting bagi kesehatan mental.
Akar Masalahnya Kapitalisme-Sekularisme
Jika dicermati lebih dalam, berbagai faktor tersebut sebenarnya bermuara pada satu akar persoalan yakni, sistem sekuler-kapitalis yang mendominasi kehidupan modern. Sekularisme, memisahkan agama dari kehidupan publik. Nilai-nilai spiritual tidak lagi menjadi landasan dalam mengatur kehidupan sosial, pendidikan, maupun ekonomi. Akibatnya, manusia kehilangan arah dan tujuan hidup yang jelas.
Sementara itu, kapitalisme menjadikan materi dan keuntungan sebagai tujuan utama kehidupan. Dalam sistem ini, orang tua didorong untuk bekerja keras demi mengejar kesejahteraan materi. Waktu bersama keluarga sering kali menjadi korban.
Di sisi lain, industri digital memanfaatkan perhatian manusia sebagai komoditas ekonomi. Platform media sosial dirancang agar pengguna terus menghabiskan waktu di dalamnya. Semakin lama seseorang berada di platform tersebut, semakin besar keuntungan yang diperoleh perusahaan. Anak-anak akhirnya menjadi target pasar yang sangat potensial. Mereka terus dibombardir dengan konten yang memancing emosi, sensasi, dan kecanduan.
Dalam kerangka kapitalisme digital, manusia tidak lagi dipandang sebagai individu yang harus dilindungi, tetapi sebagai komoditas pasar yang dapat dimonetisasi. Tidak mengherankan jika generasi muda akhirnya tumbuh dalam lingkungan yang penuh tekanan psikologis.
Oleh karena itu, meningkatnya kecemasan dan depresi adalah masalah individu, sekaligus cerminan dari kegagalan sistem kehidupan kapitalis-sekuler dalam menjaga kesehatan mental generasi.
Solusi Islam, Menjaga Kesehatan Mental Generasi
Islam hadir menjadi solusi yang paripurna dalam mengatasi berbagai permasalahan kehidupan manusia. Sebab, Islam datang dari wahyu Allah Swt. yang senantiasa menjaga akidah, membawa keselamatan, kesejahteraan, dan termasuk pula dalam menjaga kesehatan mental anak agar terhindar dari kecemasan dan depresi.
Islam memiliki konsep yang sangat komprehensif dalam mengatasi kecemasan dan depresi pada anak tersebut, di antaranya:
Pertama, Islam menempatkan keluarga sebagai institusi utama dalam pendidikan dan perlindungan anak. Hubungan keluarga dibangun atas dasar kasih sayang dan tanggung jawab. Allah Swt. berfirman,
"Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." (QS. At-Tahrim: 6)
Kedua, Islam memberikan landasan spiritual yang kuat bagi ketenangan jiwa. Anak dididik untuk mengenal tujuan hidup dan memiliki hubungan yang dekat dengan Allah. Nilai spiritual ini menjadi sumber ketenangan yang tidak dapat digantikan oleh materi.
Ketiga, Islam mendorong terciptanya masyarakat yang saling peduli melalui budaya amar makruf nahi mungkar. Lingkungan sosial yang peduli akan membantu anak merasa aman dan dihargai.
Keempat, dalam sistem Islam negara memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga generasi. Negara wajib menyediakan pendidikan yang berbasis akidah Islam, melindungi masyarakat dari konten yang merusak moral, serta menciptakan sistem ekonomi yang tidak menekan keluarga.
Dengan sistem Islam yang berorientasi pada kemaslahatan manusia, generasi muda dapat tumbuh dalam lingkungan yang stabil secara psikologis.
Khatimah
Meningkatnya gejala kecemasan dan depresi pada anak Indonesia merupakan peringatan serius dan menjafi tanggung jawab bagi semua pihak, baik keluarga, masyarakat, maupun negara. Fakta bahwa ratusan ribu anak mengalami gangguan mental menunjukkan bahwa ada sesuatu yang salah dalam sistem kehidupan saat ini. Selama sistem kehidupan masih berorientasi pada materi dan keuntungan semata, tekanan psikologis pada generasi muda kemungkinan akan terus meningkat.
Oleh karena itu, sudah saatnya kembali pada sistem Islam yang memberikan solusi secara menyeluruh bagi kesehatan mental generasi. Generasi yang sehat secara mental bukan hanya lahir dari terapi psikologi, tetapi dari sistem kehidupan yang benar dalam memandang manusia dan tujuan hidupnya.
Wallaahualam bissawab.

Komentar
Posting Komentar