Aktivisme Gen Z: Ketika Ruang Digital Tak Pernah Netral


OPINI


Oleh Haifa Manar

Penulis dan Aktivis Dakwah


Muslimahkaffahmedia.eu.org-Di balik cahaya layar yang tak pernah benar-benar redup, sebuah generasi tumbuh dengan mata terbuka luas, tetapi sering kali memiliki hati yang rentan lelah. Jari-jari mereka pun lincah menari di atas gawai, menyusuri lini masa yang tak berujung, kemudian menelan kabar duka dan euforia dalam satu tarikan napas yang sama.


Kini era digital tidak hadir sebagai ruang hampa yang menunggu untuk diisi dengan sebuah nilai. Sebab ia lahir dari rahim peradaban tertentu, dibesarkan oleh kepentingan tertentu, dan diarahkan untuk melayani ideologi tertentu. Oleh sebab itu, pada hari ini, ruang digital tumbuh subur di bawah naungan sistem sekuler-kapitalistik, sebuah sistem yang menempatkan materi, keuntungan, dan kebebasan individu sebagai poros utama dalam kehidupan.


Dengan demikian, bagi Generasi Z, generasi yang sejak lahir telah akrab dengan gawai dan jaringan internet. Ruang digital bukanlah sekadar alat bantu, melainkan sudah menjelma habitat yang dituju. Di sanalah mereka belajar, membangun identitas, mengekspresikan keresahan, bahkan merumuskan sikap politik dan sosial. Maka dari itu, tak heran jikalau Gen Z menjadi aktor utama dalam berbagai bentuk aktivisme digital. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: aktivisme seperti apa yang sedang dibangun, dan dalam kerangka nilai siapa pergerakan itu kemudian bergerak?


Kemajuan Teknologi yang Tak Sejalan dengan Kesadaran


Sementara itu, data menunjukkan, bahwa pengguna internet di Indonesia pada 2025 telah mencapai ratusan juta orang, dengan Gen Z sebagai kelompok yang paling dominan. Fakta ini sering dipuji sebagai indikator kemajuan dan keterbukaan. Dunia seakan mengecil, jarak menjadi ilusi, dan informasi berhamburan tanpa permisi. Namun, di balik kilau teknologi, lagi-lagi kuantitas akses tidak otomatis berbanding lurus dengan kualitas kesadaran.


Selain itu, era digital memang menawarkan kemudahan, yakni akses ilmu pengetahuan, kecepatan informasi, serta peluang belajar lintas batas. Akan tetapi, di balik itu, ruang digital juga menjadi medium efektif penyebaran ideologi sekuler kapitalistik. Platform digital dibangun di atas logika pasar, di mana atensi adalah komoditas, manusia adalah data, dan emosi adalah alat untuk mempertahankan keterlibatan pengguna. Seperti konten-konten yang memamerkan kebodohan, menampilkan prank-prank yang merugikan korban, mengeksploitasi hewan maupun anak di bawah usia.


Sesungguhnya, algoritma media sosial pun tidak serta merta bekerja untuk menumbuhkan kebijaksanaan, melainkan hanya untuk memaksimalkan durasi layar. Di mana konten yang provokatif, sensasional, dan emosional lebih kerap diunggulkan jikalau dibandingkan dengan konten berisi pemikiran mendalam dan reflektif. Sehingga dalam jangka panjang, kondisi ini bisa membentuk pola pikir instan, dangkal, dan reaktif, yaitu sebuah karakter yang sangat menguntungkan bagi sistem kapitalisme melalui digital.


Gen Z di Tengah Tekanan Sistemik Digital


Di samping itu, narasi yang kerap dilekatkan pada Gen Z adalah narasi kelemahan: generasi yang rapuh, mudah cemas, dan tidak tahan oleh tekanan. Padahal, jika ditelisik lebih dalam, Gen Z bukanlah generasi lemah, melainkan generasi yang hidup dalam tekanan sistemik yang berlapis. Di mana tekanan media sosial, tuntutan produktivitas, standar kesuksesan yang semu, serta tsunami informasi tanpa henti telah menciptakan krisis kesehatan mental yang nyata adanya.


Ironisnya, solusi yang ditawarkan sistem kerap kali bersifat individual dan teknis: mengatur waktu layar, berdamai dengan diri sendiri, atau sekadar menarik napas lebih dalam, bukan bersifat struktural. Sehingga Gen Z hanya diminta untuk beradaptasi, bukan diajak untuk memahami dan mengkritisi sistem yang sedang melukai mereka.


Di sisi lain, Gen Z pun memiliki potensi kritis yang besar. Sebab mereka peka terhadap isu ketidakadilan, cepat merespons tragedi kemanusiaan global, dan mampu mengonsolidasikan dukungan melalui media sosial. Sederhananya, Generasi Z memiliki kemampuan untuk memanfaatkan segala peluang dan kesempatan yang ada di depan mata. Inilah yang melahirkan fenomena aktivisme digital dan glocal activism, yaitu kesadaran global yang dimobilisasi melalui ruang lokal digital.


Aktivisme Digital: Antara Kesadaran dan Ilusi Perlawanan


Fenomena aktivisme Gen Z di ruang digital sering dipersepsikan sebagai tanda kebangkitan kesadaran politik dan sosial. Terdapat tagar solidaritas, unggahan edukatif, hingga boikot digital kini menjadi bentuk perlawanan yang populer. Namun, di sinilah masalah mendasarnya muncul, di mana sebagian besar aktivisme digital bergerak dalam koridor yang masih aman bagi sistem saat ini. Ia lantang mengkritik gejala, tetapi jarang menyentuh akar persoalan. Kapitalisme global, sekularisme sebagai fondasi nilai, dan peran negara dalam melanggengkan ketimpangan sering kali luput dari sorotan.


Akhirnya, pergerakan menjadi pragmatis dan simbolik semata. Validasi sosial kerap menjadi tujuan utama, dalam bentuk likes, shares, dan pengakuan komunitas yang sering kali lebih dominan daripada orientasi perubahan sistemis. Aktivisme semacam ini berisiko menjadi ilusi perlawanan, tampak radikal di permukaan, tetapi tidak mengancam struktur kekuasaan yang ada.


Saat Agama Dipertanyakan, Sekularisme Dinormalkan


Sehubungan dengan hal itu, ruang digital juga menjadi arena yang menormalisasi nilai-nilai sekuler-liberal. Terkadang, ia tidak selalu hadir sebagai ideologi yang diproklamasikan, melainkan sebagai kebiasaan yang dinormalkan. Narasi inklusif-progresif kerap disajikan sebagai kebenaran universal, sementara agama (terutama Islam) sering diposisikan sebagai sesuatu yang perlu dikritik, disesuaikan, dinegosiasikan, atau bahkan ditinggalkan demi modernitas.


Gen Z didorong untuk membangun nilai sendiri, terlepas dari otoritas agama dan tradisi. Kebenaran menjadi relatif, moral menjadi personal, dan agama direduksi menjadi urusan privat yang kemudian disisihkan dari ruang publik. Dalam situasi ini, sekularisme tidak lagi terasa sebagai ideologi, melainkan sebagai kenormalan.


Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla dalam Surah Al-Jasiyah ayat 23:


"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?" (TQS. Al-Jasiyah 45: 23)


Akibatnya, lahirlah generasi yang kritis terhadap agama, tetapi tidak kritis terhadap sistem kapitalisme global. Mereka berani mempertanyakan hukum Tuhan, tetapi jarang mempertanyakan mengapa ketimpangan struktural terus dilanggengkan.


Selama Sistem Tak Disentuh, Luka Takkan Pernah Sembuh


Dalam hal ini, permasalahan utama Gen Z bukan pada kurangnya kepedulian atau keberanian, melainkan pada kerangka berpikir yang digunakan untuk membaca realitas. Selama paradigma sekuler-kapitalistik tetap menjadi landasan, aktivisme seperti itu akan terus berputar di permukaan. Karenanya, menyelamatkan generasi berarti menyelamatkan cara berpikir mereka dengan menaikkan taraf berpikirnya. Sebab paradigma sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan harus digantikan dengan paradigma Islam yang menyeluruh. Sebab Islam memandang kehidupan sebagai kesatuan antara dunia dan akhirat, individu dan masyarakat, serta nilai dan sistem.


Dalam paradigma Islam, keadilan tidak cukup diperjuangkan melalui kampanye simbolik, tetapi harus diwujudkan melalui perubahan sistem. Islam tidak berhenti pada kritik moral, melainkan menawarkan solusi ideologis yang menyentuh akar persoalan. Maka dari itu, energi Gen Z adalah modal besar perubahan. Namun, energi tanpa arah ideologis hanya akan menjadi bahan bakar sistem yang sama. Aktivisme Gen Z perlu diarahkan agar tidak sekadar reaktif, tetapi transformatif.


Pada hakikatnya, Islam memberikan kerangka perjuangan yang jelas: bahwa ketidakadilan lahir dari sistem yang rusak, dan sistem yang rusak tidak bisa diperbaiki dengan tambalan kosmetik. Perubahan hakiki menuntut perubahan paradigma dan struktur. Aktivisme berbasis Islam mengajak Gen Z untuk berpikir melampaui tren, melampaui viralitas, dan melampaui kepentingan sesaat. Ia membentuk kesadaran bahwa perjuangan adalah jalan panjang yang membutuhkan ilmu, kesabaran, dan konsistensi. Dan, perubahan yang dituju bukan sekadar regulasi tambal sulam, melainkan transformasi sistem yang meniscayakan kehidupan yang adil dan bermartabat.


Siapa yang Bertanggung Jawab atas Generasi?


Sebagai kesimpulan, upaya menyelamatkan Gen Z tidak bisa hanya dibebankan pada individu semata. Keluarga harus menjadi ruang pertama dalam penanaman akidah dan pola pikir Islam. Masyarakat perlu membangun ekosistem yang mendukung tumbuhnya kesadaran kolektif, dan menjadi ruang untuk menguatkan nilai serta solidaritas. Negara tidak boleh abai, sebab ia memiliki tanggung jawab besar untuk tidak menyerahkan ruang digital sepenuhnya pada mekanisme pasar.


Sebaliknya, tanpa sinergi ini, Gen Z akan terus menjadi sasaran empuk hegemoni digital global. Gen Z bukanlah generasi yang apatis. Mereka peduli, mereka gelisah, dan mereka ingin berubah. Namun, kepedulian saja tidaklah cukup. Sebab tanpa arah ideologis yang benar, aktivisme justru dapat menjadi alat penjinakan untuk melanggengkan hegemoni budaya sekuler-kapitalistik.


Islam sebagai Kompas Perjuangan di Peradaban


Untuk itu, di tengah riuh ruang digital, Islam hadir bukan sebagai penghambat kemajuan, melainkan sebagai kompas peradaban. Dengan paradigma Islam, Gen Z dapat mengubah aktivisme dari sekadar ekspresi emosi menjadi gerakan pembebasan yang hakiki. Sebab mereka adalah generasi yang mencari pijakan di tengah derasnya arus digital, bukan generasi yang apatis maupun pesimis.


Allah Azza wa Jalla berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 89:


"Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Kami bangkitkan pada setiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan engkau (Muhammad) menjadi saksi atas mereka. Dan Kami turunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (muslim)." (TQS. An-Nahl 16: 89)


Maka, pertanyaannya kini bukan lagi apakah Gen Z akan bergerak, melainkan: apakah mereka akan bergerak untuk sistem yang sama, atau untuk perubahan peradaban yang sesungguhnya. Bukan lagi apa mereka akan bersuara, melainkan suara siapa yang mereka ikuti. Kemudian, apakah aktivisme akan terus menjadi gema yang lekas hilang, atau menjelma gerakan yang akan membebaskan kita dari cekikan sistem yang sekarang?


Wallahualam bisshawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Retak yang Masih Mengikat

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic

Akhir Jeda Sebuah Keteguhan