Islam Mewujudkan Generasi Bertakwa dan Tangguh
OPINI
Oleh Sri Yana, S.Pd.I.
Muslimahkaffahmedia.eu.org-Aktivisme generasi saat ini tumbuh di tengah arus informasi yang deras, cepat, dan sering kali bising. Fenomena ini menandai babak baru demokrasi siber yang perlu dibaca secara kritis dan reflektif. Generasi Z merupakan generasi yang lahir ketika internet tidak lagi menjadi kemewahan. Media sosial bukan sekadar alat komunikasi, melainkan ruang hidup yang membentuk identitas, relasi sosial, hingga kesadaran politik (kompas.com, 18/12/2025)
Di tengah derasnya arus informasi digital tersebut, generasi harus memiliki kesadaran untuk memilah mana yang baik dan mana yang buruk, serta mengambil hal-hal yang sesuai dengan syariat Islam dan meninggalkan yang bertentangan dengannya. Arus digital yang kuat justru menjadi tantangan terbesar bagi pemuda agar mampu mengambil peran aktif dengan menggunakan energi dan kreativitasnya untuk mendorong perubahan, advokasi, dan inovasi sosial. Dengan demikian, generasi muda dapat menunjukkan ketahanan dan kemampuan beradaptasi dalam menghadapi dunia digital.
Selain itu, penting bagi generasi untuk mengendalikan waktu penggunaan gawai (screen time). Digital berpotensi melalaikan aktivitas wajib yang harus ditunaikan setiap individu. Oleh karena itu, perlu adanya pengaturan waktu penggunaan perangkat digital, seperti ponsel, komputer, atau gawai lainnya, dalam keseharian. Kuncinya adalah kemampuan memanajemen waktu agar tidak terjebak dalam kelalaian.
Tanpa disadari, digital sering membuat seseorang terlena. Awalnya berniat sebentar, tetapi berakhir hingga berjam-jam. Seharusnya, ketika waktu penggunaan telah habis, perangkat digital segera dimatikan tanpa alasan untuk kembali mengaksesnya. Pelanggaran terhadap batas ini dapat menghilangkan peran nyata dalam kehidupan. Padahal manusia memiliki kewajiban dan aktivitas penting, seperti mandi, makan, shalat, bekerja, berdzikir, tilawah, mengkaji Islam, dan aktivitas bermakna lainnya.
Kecanggihan digital dapat membuat generasi lupa diri dan lupa akan jati dirinya sebagai hamba Allah Swt. yang diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Akses digital yang begitu mudah, tanpa batas waktu dan tempat, seolah menjadikan dunia berada dalam genggaman.
Kondisi ini menyebabkan banyak generasi terjebak dalam sistem sempit yang disebut algoritma, yakni sistem otomatis yang memberikan rekomendasi berdasarkan perilaku pengguna media sosial sehingga menjadikan mereka “tersandra” di dunia maya. Akibat jebakan algoritma ini, seseorang akan terus mengakses konten serupa secara sistematis dan akhirnya terisolasi karena hanya mengonsumsi informasi yang itu-itu saja. (nu.or.id, 12/03/2022)
Kondisi tersebut menjadikan generasi bersikap taklid terhadap satu pemikiran yang terus ditampilkan akibat algoritma. Padahal, seharusnya generasi memiliki wawasan pemikiran yang luas agar terbuka dan mampu menerima perbedaan pendapat, meskipun tidak sejalan.
Dalam menghadapi dunia digital, terdapat dua pilihan. Pertama, mengikuti arus digital yang keliru dengan pola pikir dangkal sehingga terhanyut dalam arus yang melalaikan. Kedua, bersikap kritis dalam menghadapi dunia digital, sehingga mampu mengindra kezaliman penguasa dan memahami bahwa kondisi negeri saat ini tidak baik-baik saja. Oleh karena itu, dibutuhkan solusi hakiki agar generasi tidak terbawa arus digital yang merusak.
Sejatinya, generasi muda merupakan pasar potensial bagi produk-produk digital. Oleh sebab itu, kaum kapitalis telah membidik generasi, khususnya generasi Muslim, agar kecanduan digital sehingga dijauhkan dari Islam dan dibuat fobia terhadap agamanya sendiri. Akibatnya, lahirlah generasi yang enggan belajar agama dan disibukkan dengan dunia digital yang melalaikan ajaran Islam. Mereka berdalih bahwa belajar agama cukup melalui media digital, padahal berbeda nilainya dengan menghadiri majelis ilmu secara langsung, yang di dalamnya terdapat pahala silaturahmi, kebersamaan dengan jamaah, dan keberkahan lainnya.
Kemudahan yang ditawarkan digital baik dalam menuntut ilmu, berbelanja, maupun aktivitas lainnya. Hal ini berpotensi melahirkan generasi yang malas bergerak (mager). Informasi digital sering dijadikan “tabungan pengetahuan” sehingga seseorang merasa tidak perlu bertanya langsung kepada orang yang berilmu. Padahal, kebiasaan ini dapat mengubah cara berpikir dan arah pandang terhadap kehidupan. Allah Swt. menciptakan manusia sebagai makhluk sosial yang membutuhkan interaksi dengan sesamanya.
Akibatnya, generasi terjerat ide-ide sekuler dan liberal yang masif beredar di media sosial. Oleh karena itu, generasi membutuhkan benteng yang kuat. Benteng pertama adalah pembentukan cara pandang yang sahih, yang bersumber dari Allah Swt. sebagai Al-Mudabbir. Manusia harus menyadari bahwa dirinya adalah ciptaan Allah dan wajib taat serta patuh kepada aturan-Nya, bukan kepada aturan selain dari Allah Swt. Sistem sekularisme dan liberalisme merupakan sistem buatan manusia yang seharusnya ditinggalkan. Generasi harus mengambil arah pandang kehidupan berdasarkan ideologi yang sahih, yaitu ideologi Islam.
Ideologi Islam menghendaki perubahan menyeluruh, bukan setengah-setengah. Berbeda dengan sebagian generasi yang prematur dalam mengejar eksistensi dan jabatan, yang justru tidak akan menghadirkan solusi Islam secara kafah. Solusi Islam kafah juga tidak akan lahir dari aktivis liberal yang menjunjung tinggi kapitalisme.
Islam kafah akan terwujud melalui generasi muda yang menyadari potensi hidupnya sebagai makhluk Allah, yaitu memiliki naluri (gharizah), kebutuhan jasmani (hajatul udhawiyah), dan akal. Dengan kesadaran tersebut, generasi akan selalu mempertimbangkan setiap perbuatannya berdasarkan syariat, bukan semata-mata demi kepuasan. Islam juga menghadirkan lingkungan yang kondusif dengan suasana keimanan yang kuat serta kolaborasi yang komprehensif dan sistemis. Dalam Islam, terdapat sinergi antarelemen baik keluarga, partai politik ideologis, dan negara yang saling menguatkan.
Inilah gambaran sistem Islam yang mampu mewujudkan generasi bertakwa dan tangguh, serta menyelaraskan antara dunia digital dan kehidupan nyata demi terbangunnya peradaban umat. Sistem Islam hanya akan terwujud dengan tegaknya Daulah Islam yang menaungi generasi dari rongrongan asing dan Barat yang ingin menghancurkan generasi Islam. Ketika Daulah tegak, negara siap menerima kritik dari partai politik ideologis demi kemajuan negara Islam. Partai politik ideologis berfungsi menerima aspirasi rakyat, melakukan muhasabah lil hukam, serta menjadi tulang punggung pembinaan umat, termasuk generasi muda, agar memiliki daya kritis dan taraf berpikir yang tinggi.

Komentar
Posting Komentar