Menjaga Arah Generasi di Tengah Badai Digital


OPINI


Oleh Ummu Qianny 

Aktivis Muslimah


Muslimahkaffahmedia.eu.org-Hari ini, generasi muda hidup di zaman yang bising. Jari mereka memang cenderung lincah menggulir layar, mata mereka sibuk menatap dunia maya, sementara kehidupan nyata perlahan terpinggirkan. Arus informasi digital datang deras tanpa jeda. Bukan hanya sekadar menawarkan hiburan semata, tetapi juga membawa nilai, cara berpikir, dan arah hidup mereka. Di sinilah tantangan besar generasi hari ini bermula.


Tingginya screen time sesungguhnya, bukan persoalan sepele. Ia bukan hanya soal mata lelah atau kurang gerak, melainkan tentang bagaimana perhatian, emosi, dan pikiran anak-anak muda ini dicuri sedikit demi sedikit. Dunia digital dengan algoritmanya seakan tahu apa yang mereka sukai, apa yang mereka benci, bahkan apa yang membuat mereka marah. Padahal, tidak semua yang disuguhkan itu netral dan menyehatkan jiwa.


Allah Swt. telah lama mengingatkan manusia agar tidak sembarangan mengikuti sesuatu tanpa ilmu dan kesadaran:

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.”

(QS. Al-Isra: 36)


Mark Zuckerberg, CEO Meta pernah meminta maaf kepada para orang tua yang menyebut anak mereka “telah menjadi korban media sosial”. (bbc.com, 02/02/2025)


Mirisnya, meskipun ia mengetahui dampak negatif dari penggunaan media sosial bagi penggunanya, dia tidak langsung menghentikan korporasi globalnya tersebut. Menurutnya, bisnis tetap lah bisnis, bukannya muhasabah diri, justru mereka menekankan peran orangtua untuk mengawasi dan mengontrol anak-anak mereka. 


Hal ini membuktikan, dunia digital hari ini memang bukan diciptakan untuk mendidik generasi agar bertakwa dan berpikir jernih. Ia diciptakan di atas kepentingan kapitalisme. Generasi muda dalam pandangan Kapitalisme digital adalah pasar empuk: waktu, perhatian, dan emosinya dikomodifikasi. Konten apa pun yang mampu membuat mereka betah akan lebih diprioritaskan, meskipun isinya merusak cara pandang hidup.


Akibatnya, media sosial dipenuhi ide-ide sekuler-liberal. Agama hanya diposisikan sebagai urusan pribadi, sementara standar benar-salah ditentukan oleh tren, opini mayoritas, atau selera pasar. Tanpa disadari, tentu saja hal ini akan membentuk generasi yang sensitif terhadap isu-isu dipermukaan, tetapi justru asing terhadap akar persoalan.


Di tengah situasi ini, muncul di sudut lain anak-anak muda yang mulai gelisah. Mereka kritis terhadap kezaliman penguasa, marah melihat ketidakadilan, dan muak dengan kebohongan-kebohongan yang berbeda antara narasi dan fakta di lapangan. Ini tentu pertanda baik. Namun kegelisahan saja tidak lah cukup. Jika tidak diarahkan dengan benar, semangat itu justru suatu saat bisa habis di tengah jalan atau disalurkan ke arah yang keliru.


Banyak dari mereka akhirnya menjadi aktivis yang tergesa-gesa. Berani turun ke jalan, lantang di media sosial, tetapi miskin landasan ideologis. Betul mereka ingin perubahan, tetapi mirisnya, masih mengambil solusi tambal sulam. Mereka mengkritik sistem, namun tetap bergerak di dalam sistem yang sama. Inilah yang membuat mereka mudah kecewa, mudah lelah, bahkan di suatu hari akan mudah tergoda jabatan dan kompromi.


Rasulullah saw. telah mengingatkan tentang zaman penuh tipu daya, ketika kebenaran dan kebatilan saling bertukar tempat. Oleh karena itu, Tanpa pegangan yang kokoh, idealisme anak muda ini tentu akan mudah runtuh. 


Di sinilah letak pentingnya cara pandang hidup yang sahih. Islam tidak datang sebagai pelengkap, apalagi sekedar hiasan. Islam adalah pedoman hidup yang menyeluruh. Allah Swt. berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah.” (QS. Al-Baqarah: 208)


Generasi muda tidak cukup hanya “baik secara moral” atau “aktif secara sosial”. Mereka harus pula memahami bahwa Islam adalah ideologi, dijadikan sebagai landasan berpikir dan dalam bertindak. Tanpa itu, mereka hanya akan menjadi penonton perubahan tahunan, atau lebih buruk lagi, menjadi alat bagi kepentingan lain.


Islam memandang manusia sebagai makhluk Allah yang memiliki naluri, kebutuhan jasmani, dan akal. Ketiganya harus dipenuhi dan diarahkan sesuai syariat. Jika naluri dibiarkan begitu saja (liar), maka akan lahirlah gaya hidup hedonis. Jika kebutuhan jasmani dijadikan sebagai tujuan hidup, manusia tentu akan terjebak materialisme. Jika akal dilepaskan dari wahyu, maka ia akan tersesat oleh hawa nafsu.


Allah Swt. berfirman:

"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (QS. Al-Jatsiyah: 23)


Karena itu, membina generasi muda tidak bisa diserahkan pada individu semata. Mereka membutuhkan lingkungan yang kondusif, yang sejatinya menghadirkan suasana iman dalam keseharian. Lingkungan yang menumbuhkan keberanian untuk taat, bukan malah menertawakan ketaatan, dianggap sok alim ataupun cupu. Lingkungan yang menormalisasi amar makruf nahi mungkar, bukan justru membungkamnya.


Lingkungan seperti ini hanya bisa terwujud jika ada sinergi seluruh elemen umat. Keluarga harus kembali menjadi benteng pertama pembinaan akidah dan akhlak. Masyarakat juga harus berperan sebagai penjaga nilai, bukan penonton kemaksiatan. Negaralah yang seharusnya melindungi generasi dari konten dan sistem yang merusak, bukan justru mendukung dengan memfasilitasinya.


Di antara elemen penting itu, partai politik Islam ideologis memegang peran strategis. Bukan sebagai alat perebutan kursi kekuasaan, tetapi sebagai penggerak pembinaan umat. Parpol ideologis ini lah yang akan berfungsi untuk melakukan muhasabah lil hukam, membuka ruang kritik yang jujur dan berani, serta mencerdaskan umat agar tidak mudah ditipu oleh narasi palsu perubahan.


Allah Swt. menegaskan:

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.” (QS. Ali Imran: 104)


Generasi muda harus diarahkan dan dikerahkan agar tidak meniru pola aktivisme liberal. Meskipun dibungkus oleh jargon keadilan dan juga kemanusiaan, aktivisme semacam ini sering kali hanya menjadi bemper kapitalisme. Lantang menyuarakan isu cabang, tetapi justru bungkam terhadap sistem yang melahirkan kezaliman.


Islam tidak membutuhkan para aktivisme reaktif, melainkan para pejuang yang sadar arah dan tujuan. Rasulullah saw. membina para sahabat dengan kesabaran dan keteguhan akidah, hingga lahir generasi tangguh yang mampu mengubah peradaban, bukan sekadar protes tanpa paham akar masalah. 


Akhirnya, membangun generasi bertakwa dan tangguh tentu bukan sistem kerja kebut semalam. Ia adalah proses panjang yang menuntut kesungguhan, kesabaran, dan sinergi dari berbagai pihak. Namun hanya dengan jalan inilah generasi muda akan tumbuh sebagai pelanjut risalah, bukan korban zaman. Wallahu alam bissawaab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Retak yang Masih Mengikat

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic

Akhir Jeda Sebuah Keteguhan