Aksi Bejat di Panggung Isra Mikraj
OPINI
Oleh Yani Ummu Qutuz
Pegiat Literasi
Muslimahkaffahmedia.eu.org-Perayaan Isra Mikraj seharusnya penuh dengan pesan takwa sehingga makin bertambah keimanan jemaah, makin takut mereka kepada Allah. Eh… ini malah melakukan maksiat dengan menghadirkan artis dangdut bergoyang seronok di panggung seusai pengajian.
Seperti yang dikutip dari detikNews.com, Senin (19-1-2026), viral di media sosial video seorang biduan dangdut tengah berjoget di panggung perayaan Isra Mikraj, di Desa Parangharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Aksi ini pun memicu polemik di tengah masyarakat dan mengundang perhatian masyarakat dan aparat. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Banyuwangi mengecam peristiwa tersebut karena sangat tidak pantas ada di kegiatan keagamaan.
Fakta-Fakta Video Kejadian
Pertama, sebuah video yang memperlihatkan seorang biduan dengan gaun hitam berjoget di atas panggung yang masih terpasang dekorasi perayaan Isra Mikraj. Aksi ini sangat tidak etis dan mengarah pada pelecehan agama.
Kedua, Ketua Panitia Isra Mikraj Desa Parangharjo Hadiyanto membenarkan adanya acara tersebut. Dia beralasan bahwa penampilan biduan dilakukan seusai acara Isra Mikraj. Menurut Hadiyanto seluruh undangan dan Kiai sudah tidak ada di tempat.
Ketiga, Hadiyanto menyebutkan bahwa panggung hiburan itu spontan diadakan untuk menghibur internal panitia. Merespons kegaduhan yang muncul, pihak panitia telah melakukan permohonan maaf melalui video klarifikasi di Polsek Songgon.
Sekularisme Pangkal Segala Kerusakan
Siapa pun yang berakal sehat dan punya iman tentu malu dan jijik melihatnya. Hal ini menandakan begitu rendahnya pemahaman Islam kaum muslim. Mencampuradukkan antara yang hak dan batil, mereka merasa itu sah-sah saja dilakukan, toh setelah selesai acara Isra Mikraj.
Dalam acara Isra Mikraj, bagaimana upaya kiai, ustaz, atau ustazah membangun kekuatan iman para jemaah. Menyampaikan hukum syariat berkaitan dengan perintah dan larangan Allah, mana yang halal, mana yang haram, mana yang harus dilakukan, mana yang harus ditinggalkan, dan sebagainya. Bisa-bisanya setelah acara, pemahaman Islam yang sudah dibangun tersebut dibombardir dalam sekejap oleh suguhan maksiat.
Mengapa peristiwa menggabungkan yang hak dan yang batil ini bisa terjadi? Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman sekularisme begitu kuat mengakar pada benak-benak kaum muslim. Mereka memahami bahwa Islam hanya mengatur aktivitas salat, puasa, zakat, ibadah haji. Intinya yang berkaitan dengan ibadah mahdhah saja. Sementara berkaitan dengan muamalah, interaksi sosial, politik, dan sebagainya, tidak merasa diatur oleh Islam.
Dalam sebuah temuan dari berbagai riset yang dibagikan oleh Pakar Komunikasi Universitas Airlangga Prof. Henri Subianto di dalamnya menggambarkan tentang karakter rakyat Indonesia. Masyarakat negeri ini memiliki karakter memegang komitmen kuat terhadap agama. Namun, di sisi lain pun banyak orang Indonesia yang berperilaku sering melanggar aturan agama. (Eramuslim.com, 11-2-2025)
Survei ini menunjukkan hasil yang kontradiktif atau bertolak belakang. Satu sisi menunjukkan Indonesia sebagai negara yang sangat religius, di sisi lain menggambarkan keterikatan terhadap agama lemah. Maka kolaborasi antara kebenaran dan kemaksiatan kerap terjadi dalam kehidupan masyarakat, seperti aksi dangdut di pengajian ini.
Bahaya Sekularisme
Kalau kita mau mencermati situasi semacam ini lumrah terjadi di negara yang menerapkan sistem kapitalis seperti Indonesia. Sekularisme memisahkan agama dari kehidupan. Peran agama dalam kehidupan nyaris hilang kecuali pada area privat, seperti ibadah mahdhah saja yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya.
Namun, pada perkara muamalah, urusan politik dan pemerintahan, interaksi sosial, ekonomi, dan lain-lain peran agama hilang. Wajar jika muncul banyak kemaksiatan di tengah masyarakat, korupsi makin menjadi, perzinaan merajalela, miras dijual bebas, dan sebagainya.
Paham sekuler menjadikan umat melaksanakan sebagian perintah-Nya dan melanggar perintah yang lain. Inilah yang dikehendaki Barat terhadap umat Islam. Biarlah umat Islam religius dalam perkara ibadah, tetapi dalam urusan dunia umat Islam harus tunduk patuh terhadap sistem yang dibawa oleh Barat.
Dengan demikian, umat Islam akan mudah dijinakkan sehingga mudah menerima ide-ide dari Barat yang bertentangan dengan Islam. Mereka menerima dan melakukannya tanpa merasa dosa sedikit pun.
Hal ini tentu sangat berbahaya bagi umat Islam, padahal Allah memerintahkan untuk taat kepada Islam sepenuhnya. Sebagaimana firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 208)
Abu Abdillah bin Jabir bin Abdillah al-Anshori ra. telah menuturkan sebuah riwayat, “Seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah saw., ‘Bagaimana pendapat engkau jika saya telah menunaikan salat-salat wajib, melakukan saum Ramadan, menghalalkan yang halal dan meninggalkan yang haram, sedangkan saya tidak menambah selain itu, apakah saya masuk surga?’ Rasulullah saw. menjawab, ‘Benar’.” (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa meninggalkan keharaman adalah syarat agar bisa masuk surga. Salah satu keharaman yang harus ditinggalkan adalah berhukum dengan hukum kufur. Melaksanakan hukum kufur akan mengubah status muslim menjadi kafir, zalim, atau fasik sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur'an surah Al-Maidah ayat 44, 45, 47.
Hentikan Sekularisasi, Terapkan Hukum Islam
Sekularisasi tidak akan lepas dari kaum muslim selama masih menerapkan sistem kapitalis. Sekularisme merupakan akidah kapitalisme yang tidak mungkin dipisahkan. Oleh karena itu, untuk memutus sekularisasi maka umat Islam harus berhukum kepada aturan Allah dengan menerapkan Islam secara kafah dalam sebuah institusi Khilafah.
Untuk itu harus ada upaya penyadaran umat untuk kembali melanjutkan kehidupan Islam seperti yang pernah terjadi pada masa Rasulullah saw., Khulafaur Rasyidin, dilanjutkan masa kekhalifahan Bani Umayyah, Bani Abbasiyah, dan Bani Utsmaniyah, kurang lebih 13 abad lamanya.
Membina umat dengan pemahaman Islam yang benar, mengubah pola pikir umat dengan tsaqafah Islam. Memahamkan proses perubahan yang dilakukan harus mengikuti seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad ketika mengubah bangsa Arab jahiliyah menuju cahaya Islam sehingga kemenangan insyaa Allah akan diraih kembali umat dengan tegaknya syariat Islam dalam institusi Khilafah. Wallahualam bissawab.

Komentar
Posting Komentar