Dunia Merintih dalam Cengkeraman Kapitalisme Global

 


OPINI 

Oleh Elfia Prihastuti, S.Pd.

Praktisi Pendidikan


Muslimahkaffahmedia.eu.org, OPINI -Dunia saat ini tengah berada dalam genggaman ideologi kapitalisme. Berbagai kerusakan dan penderitaan menyelimuti penduduk dunia. Terlebih di bawah cengkeraman AS yang arogan, sok berkuasa, dan selalu melakukan tekanan pada negara lain, terutama bagi negeri-negeri muslim.


Contoh nyata dari kerusakan yang ditimbulkan ideologi kapitalisme adalah bencana ekologis yang terjadi di negeri ini. Dunia melihat dahsyatnya banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Bencana ini menelan korban meninggal sejumlah 1.177 orang. Data ini berdasarkan laporan situasi dan penanganan pascabencana hari ke-38, yang disampaikan oleh Kepala Pusat Data dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari. (Kompas.com, 4/1/2026)


Sementara di belahan dunia lain kapitalisme global di bawah kepemimpinan AS telah menebarkan penderitaan, kesengsaraan dan kesewenang-wenangan bagi penduduk dunia terutama negeri-negeri muslim. Kearoganan AS salah satunya terlihat dalam tindakan Trump pada Venezuela. Presiden Venezuela, Maduro diklaim telah melakukan perdagangan narkoba, pelanggaran senjata dan menjalankan "narko-teroris". Walaupun tuduhan tersebut telah dibantah, tetap saja AS menangkap Maduro dan istrinya Cilia Flores. (bbc.com, 3/1/2026)


Tidak hanya di Venezuela, arogansi AS juga menyasar negara lainnya. Seperti, Palestina yang sampai hari ini belum berakhir, Sudan atau negeri- negeri yang dirampas kedaulatannya dengan alasan serupa seperti Panama, Irak, dan Libya.


Kapitalisme Sumber Bencana


Sejatinya, alam yang ada di dunia ini diciptakan Allah untuk manusia agar dapat dimanfaatkan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Jika ada perubahan yang terjadi pada alam, semua itu disebabkan oleh dua hal, yaitu faktor alam itu sendiri dan aktivitas yang dilakukan oleh manusia dalam pemanfaatannya.


Fakta-fakta terindra dari bencana alam yang terjadi di wilayah Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara dapat diambil suatu benang merah bahwa semua itu disebabkan oleh ulah tangan manusia. Hal ini bisa terlihat dari banyaknya gelondongan kayu yang turut hanyut bersama banjir.


Memang ada peran alam dalam bencana ini, yakni fenomena langka yang dikenal dengan Siklon Tropis Senyar yang menjadi pemicu hujan ekstrem. Siklon ini terbentuk sebagai dampak pemanasan muka laut yang meningkat. Fenomena ini menghasilkan curah hujan ekstrem dengan kapasitas lebih dari 300 mm/hari yang melampaui batas kemampuan tanah untuk menyerap air.


Namun, faktor alam hanya trigger (pemantik), bukan akar penyebab bencana. Bahaya alam akan menjadi bencana ketika bertemu dengan kerentanan yang tinggi yang disebabkan oleh kerakusan manusia.


Untuk memenuhi ambisi keserakahan ini, pada akhirnya manusia melakukan pengrusakan alam secara besar-besaran. Kesempatan semacam ini leluasa dilakukan ketika mereka bernaung dalam sistem kapitalis. 


Sebab dalam sistem ini jaringan oligarki yang terdiri dari para pemilik perusahaan besar memungkinkan untuk berinvestasi dalam proses politik. Bentuknya bisa berupa, lobi-lobi, sumbangan politik hingga memengaruhi kebijakan publik. Wajar ketika ekonomi dan politik akhirnya di bawah kendali para oligarki sesuai kepentingan mereka. 


Kapitalisme memandang SDA dan tanah sebagai komoditas. Negara hanyalah sekadar fasilitator bagi kepentingan pemilik modal yang dibungkus dengan narasi pembangunan. Padahal masyarakat yang hidup di lereng pegunungan, di bantaran sungai menjadi korban banjir dan longsor. Inilah yang terjadi di Sumatra saat ini. Status konservasi wilayah yang seharusnya dijaga oleh negara, justru dilepas untuk segelintir elite.


Oligarki tidak menemukan hambatan berarti dalam melampiaskan sikap rakusnya. Mereka memiliki koneksi langsung dengan penguasa yang memungkinkan mengotak-atik undang-undang. Kemudahan izin dan terhindar oleh sanksi hukum merupakan hal yang mampu dilewatkan dengan mudah. Oleh karena itu, perlindungan negara justru optimal pada korporat. Sementara segala penderitaan akibat bencana ditanggung oleh rakyat.


Perselingkuhan oligarki dan pemegang kekuasaan menciptakan kerusakan lingkungan yang parah. SDA dikeruk habis-habisan demi kepentingan para kapitalis. Kapitalisme telah menyuburkan bencana melalui tangan oligarki dengan mengorbankan kesejahteraan masyarakat luas dan keberlanjutan lingkungan. 


Dengan demikian, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa bencana Sumatra disebabkan oleh kesalahan sistemik manusia dalam pengelolaan lingkungan dan ruang hidupnya. Kapitalisme menyediakan banyak jalan bagi para oligarki untuk melakukan pengrusakan.


Kapitalisme Global di Bawah Kepemimpinan AS


Tatanan dunia di bawah kepemimpinan AS menyebabkan penderitaan yang panjang bagi masyarakat dunia. Contoh nyata dominasi AS dengan standar kapitalisme global, seperti yang terjadi di Gaza. AS telah menciptakan krisis kemanusiaan melalui tangan Zionis Israel. 


Apa yang terjadi di negeri para Nabi itu menyebabkan 71.412 warga Gaza tewas dan 171.314 lainnya mengalami luka-luka sejak September 2023. Sementara, 1,5 juta lebih warga Gaza lainnya terpaksa mengungsi dan bertahan hidup di kamp-kamp darurat yang nyaris tanpa fasilitas yang jauh dari memadai.


Legitimasi genosida bagi penduduk Gaza sudah tak lagi dapat ditutupi. Dukungan yang tanpa batas dari AS membuat Zionis Yahudi bertindak tanpa norma. Di samping dukungan pasokan senjata, AS juga membiarkan penjajah melakukan pembunuhan massal melalui pelaparan. Gaza diblokade sehingga 95.000 anak mengalami malnutrisi. 


Sementara, baru-baru ini publik dikejutkan oleh tindakan AS terhadap Venezuela yang berstatus sebagai negara berdaulat di Amerika Selatan. Tidak hanya menyerang negara tersebut secara militer, tetapi juga menculik Maduro, Presiden Venezuela dan istrinya. Tuduhan yang digunakan adalah terorisme narkotika pada tahun 2020.


Hal semacam ini bukanlah hal pertama dilakukan AS. Pola yang sama dengan tuduhan berbeda juga dilakukan kepada negara-negara lain. Seperti, Panama mengalami nasib serupa pada tahun 1989. Di tahun 2003, Irak dihancurkan dengan tuduhan senjata pemusnah massal. 2011 gantian Libya menjadi sasaran atas nama "perlindungan warga sipil".


Kapitalisme global berwajah eksploitatif dan zalim. Hal ini dapat dipahami sebab thariqah yang digunakan agar roda kehidupan terus berputar adalah penjajahan. Semua teramat jelas kapitalisme hanya membuat penduduk dunia merintih dan merana. 


Islam Ideologi Alternatif yang Menyejahterakan 


AS sejatinya telah menjalankan peran ideologisnya sebagai negara pengusung kapitalisme yang thariqah-nya adalah penjajahan. Akibatnya, AS dengan berbagai cara akan terus diupayakan agar penjajahan itu terus berlangsung, meski dunia bersatu untuk menentang.


Arogansi yang berlebihan sebenarnya menunjukkan kekuatan yang tidak hakiki. Ini terjadi karena tidak ada kekuatan yang menjadi penyeimbang. Untuk itu dibutuhkan kekuatan yang mampu mengimbangi. Tidak ada ideologi yang mampu menandingi secara sempurna kecuali ideologi Islam.


Dalam pandangan Islam, kepemimpinan adalah amanah, bukan hak mutlak. Seorang pemimpin tidak hanya mempertanggungjawabkan di hadapan rakyat saja, tetapi juga di hadapan Pencipta kelak di yaumul hisab. 


Kekayaan alam adalah hak umat wajib dikelola untuk kesejahteraan rakyatnya, bukan dirampas melalui sanksi atau invasi. Bukan pula untuk dirusak oleh para oligarki. Oleh karena itu, perlindungan harus dilakukan demi hak-hak umat tetap terjaga karena dalam Islam pemimpin adalah junnah.


"Sesungguhnya imam (pemimpin) itu laksana perisai, rakyat di belakangnya dan dia menjadi pelindung bagi rakyatnya." (HR. Bukhari dan Muslim)


Hubungan antarnegara harus dibangun di atas keadilan dan penghormatan kedaulatan, bukan dominasi. Berbeda dengan kapitalisme, Islam tidak membutuhkan penjajahan untuk menjadi kuat. Namun, dalam Islam ada batasan bagi yang kuat dan melindungi yang lemah. Tidak mencari keuntungan dari bangsa lain dan juga tidak perlu memihak pada oligarki dan mengabaikan rakyatnya.


Ideologi Islam memaksimalkan peran negara dalam meriayah rakyatnya, melindungi mereka dengan syariat Allah. Allah berfirman:


وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذْنَٰهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ

Terjemahan:

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." 


Wallahualam bissawab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic

Retak yang Masih Mengikat

Kasus Pagar Laut, Bukti Penguasa Tunduk Kepada Pengusaha