Guru Dikeroyok Siswa, Siswa Dihina Guru: Buah Pendidikan Sekuler
OPINI
Oleh Jasli La Jate
Penggiat Literasi
Muslimahkaffahmedia.eu.org, OPINI -Dunia pendidikan sedang tercoreng. Pasalnya, beberapa waktu lalu viral di media sosial seorang guru SMK dikeroyok oleh muridnya sendiri. Hal ini terjadi di Jambi. Kronologi kejadian berawal dari peneguran siswa di kelas.
Menurut Agus (guru yang dikeroyok) saat berjalan di luar ruang kelas. Dari dalam kelas, ada salah satu siswa yang menegurnya dengan bahasa yang tidak pantas. Guru tersebut masuk ke dalam kelas lalu menanyakan siapa yang menegurnya. Sedangkan menurut siswa, guru tersebut sering ngomong kasar, menghina siswa dan orang tua, bilang bodoh dan miskin (tribunbengkulu.com, 17/1/2026). Berawal dari inilah akhirnya adu jotos pun terjadi. Bahkan kabarnya, berlanjut ke meja hukum lantaran tidak terjadi kesepakatan damai.
Buah Pendidikan Sekuler
Dalam kasus ini, tercermin bahwa pendidikan sedang tidak baik-baik saja. Ada masalah serius dalam dunia pendidikan. Guru dan siswa seharusnya mempunyai hubungan atau relasi yang baik yakni penghormatan dan keteladanan. Malah menjadi ketegangan bahkan kekerasan.
Apalagi kasus yang seperti ini bukan pertama kali. Beberapa waktu lalu juga viral kepala sekolah dilaporkan oleh orang tua siswa lantaran anaknya tidak diterima saat ditegur. Artinya, kasus-kasus seperti ini bukan hanya konflik personal. Ini adalah persoalan serius dalam sistem pendidikan.
Memang tak bisa dimungkiri, satu sisi didapati murid bertindak tidak sopan, bertutur kata yang kasar, bahkan niradab. Di sisi lain, ada pula guru yang menghina siswa, merendahkan bahkan melabeli dengan kata-kata yang melukai hati siswa. Akhirnya, kedua pihak antara guru dan siswa terjebak dalam lingkaran konflik yang berujung pada kekerasan.
Inilah buah pendidikan sistem sekuler kapitalis yang menjauhkan Islam dari kehidupan termasuk dalam pendidikan. Kurikulum pendidikan menjauhkan nilai agama, tidak didasari dengan Islam. Tidak heran, hasil pendidikan sekuler menghasilkan generasi niradab. Generasi yang emosional, mudah main hakim sendiri dan tidak ada rasa takut kepada Pencipta. Para siswa yang mengeroyok guru sangat memungkinkan terjadi karena dalam kurikulum tidak ada pelajaran tentang adab. Pendidikan cenderung hanya sekadar formalitas. Para siswa hanya mengejar bagaimana mendapatkan nilai yang tinggi dan lulus. Akhirnya, sekolah terlihat hanya mengejar materi semata.
Krisis pendidikan hari ini juga begitu terlihat dalam pandangan terhadap guru. Guru tidak dianggap sebagai profesi yang mulia. Guru diukur dengan standar produktivitas semata bukan pembentuk karakter. Guru dianggap hanya sebagai mesin ekonomi yang dibajak oleh kapitalisme yakni sebagai komoditas ekonomi yang distandarisasi kualitas pendidikan berbanding lurus dengan biaya yang tinggi. Tak heran, guru tak lagi dipandang sebagai sosok yang dihormati, disegani, maupun ditiru. Bahkan tindakan mendidik sering disalah persepsikan sebagai pelanggaran hukum.
Di sisi lain, beban kerja guru yang begitu tinggi. Guru dikejar target kurikuler yang menghimpit. Belum lagi, gaji guru yang bisa dikatakan jauh dari kata layak. Akhirnya guru terseret dalam paradigma kapitalisme dan makin jauh dari peran strategisnya sebagai pendidik generasi dengan cara yang benar. Proses pendidikan pun hanya formalitas belaka. Kehilangan ruh pembinaan dan keteladanan.
Ditambah lagi dengan lemahnya perlindungan terhadap guru, jaminan keamanan yang minim dan kesejahteraan yang belum layak. Hal ini menunjukkan kehadiran negara belum totalitas terhadap guru. Peran negara masih rendah. Akhirnya, ketika terjadi konflik di lingkungan sekolah, penyelesaiannya tak memberikan keadilan. Berujung main hakim sendiri.
Dalam Pandangan Islam
Islam adalah agama yang mengatur seluruh problem kehidupan termasuk dunia pendidikan. Dalam pandangan Islam, pendidikan salah satu titik krusial suatu bangsa. Sebab, dalam pendidikan, generasi dibentuk agar mengisi peradaban sehingga generasi makin beradab. Tujuan pendidikan dalam Islam, membentuk peserta didik bukan hanya pintar intelektual namun juga cerdas dari segi keluhuran akhlak, sopan santun dan etika.
Oleh karena itu, pendidikan di desain dengan kurikuler berlandaskan akidah Islam. Seluruh perangkat ajar disesuaikan dengan tujuan pendidikan. Sehingga pendidikan dapat mengantarkan anak didik menjadi generasi yang Rabbani yakni taat kepada Rabb-Nya juga mengetahui adab kepada sesama, orang tua, terkhusus kepada gurunya. Output pendidikan Islam tidak akan didapati siswa yang emosional, main kekerasan apalagi sampai mengeroyok gurunya sendiri.
Selain itu, pendidikan Islam juga bukan hanya mencetak peserta didik menjadi generasi yang unggul tetapi juga guru yang berkualitas. Banyak fakta sejarah yang mencatat peradaban Islam begitu kaya akan para ulama pada setiap masanya. Bahkan karya mereka masih dipakai sampai sekarang. Keberhasilan pendidikan Islam ini ditopang oleh sistem yang berkualitas yakni pemerintahan Islam yang seluruh hukumnya bersumber dari syariat.
Guru dalam pandangan Islam dianggap profesi mulia dan terhormat. Mereka bukan hanya penyampai ilmu. Lebih dari itu, guru adalah penuntun jalan kepada kebenaran, cahaya ilahi. Guru membimbing generasi menuju jalan yang lurus yakni jalan yang diridai Allah. Sehingga tak heran jasa mereka sangat dihargai. Mereka dihormati, dilindungi dan diberikan ruang dalam menjalankan perannya tanpa rasa takut, intimidasi apalagi dikriminalisasi.
Lebih dari itu, negara dalam naungan Islam (khilafah) bertanggung jawab penuh terhadap kesejahteraan dan keamanan rakyatnya termasuk para guru. Negara akan menerapkan sistem ekonomi Islam, menjamin seluruh kebutuhan dasar rakyat. Sehingga guru fokus dengan tugas utamanya sebagai pendidik generasi. Negara juga menerapkan sistem sanksi Islam yang terbukti memberikan keadilan dan tegas kepada siapa saja yang melakukan pelanggaran dan kezaliman. Negara memberikan rasa aman kepada semua warganya. Sehingga tidak ada yang berani melakukan intimidasi, kekerasan dan tindakan main hakim sendiri terhadap guru.
Dalam pelaksanaan pendidikan ternyata terjadi pelanggaran entah itu guru atau peserta didik, maka negara dengan sistem peradilan akan memberikan sanksi yang tegas. Entah melalui pihak yang berwajib atau Qadhi. Sehingga setiap orang mendapatkan haknya tanpa dizalimi.
Islam menempatkan kemuliaan ilmu dan dan orang-orang pengajarnya begitu tinggi. Allah Swt. berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“… niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (TQS. Al-Mujadalah [58]: 11)
Rasulullah juga bersabda:
"Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi." (HR.Abu Dawud dan Tirmidzi)
Dari sinilah, dalam pandangan Islam, guru begitu dihargai, dilindungi dan dijaga agar tetap sebagai pendidik generasi beradab dan peradaban mulia.
Wallahualam bissawab.

Komentar
Posting Komentar