Guru VS Murid, Potret Pendidikan yang Kehilangan Nilai Islam OPINI
Oleh Yuli Ummu Raihan
Muslimah Peduli Generasi
Muslimahkaffahmedia.eu.org, OPINI -Di luar nurul, begitu istilah kekinian yang bisa menggambarkan kejadian guru vs murid di Jambi yang viral di jagat maya. Bagaimana tidak, seorang guru SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi bernama Agus Saputra adu jotos bak aksi laga di layar kaca.
Buntutnya Agus melaporkan kejadian ini ke Polda Jambi sebagai penganiayaan. Dalam video yang viral itu terlihat Agus menyampaikan perkataan lewat mikrofon yang belakangan diketahui bahwa saat itu Agus melontarkan kata yang bernada menghina sehingga menyulut amarah beberapa murid lainnya hingga terjadi pengeroyokan. (Detik.com, 17/1/2026)
Menurut Kepsek telah dilakukan mediasi bersama forum komunikasi kecamatan, ada camat, lurah, kapolsek, siswa dan majelis guru. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti merespons kejadian ini dan mengatakan Disdik setempat bersama pihak terkait sudah menangani kasus ini.
Kemendikdasmen menegaskan bahwa kekerasan yang terjadi di sekolah merupakan perilaku yang tidak tepat dalam mendukung budaya sekolah yang aman dan nyaman. Kemendikdasmen juga telah mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 4 Tahun 2026 tentang Perlindungan Bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan serta Permendiknas Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. (Jppn.com, 22/1/2026)
Kedua pihak memiliki alasan tersendiri dari kejadian ini. Versi guru mengatakan ada murid yang menegurnya dengan tidak sopan dan hormat serta meneriakkan kata yang tidak pantas. Sementara murid mengatakan oknum guru ini sering berbicara kasar dan menghina murid serta orang tua dengan mengatakan bodoh dan miskin.
Koordinator Nasional JPPI Ubaid Matraji mengatakan peristiwa ini merupakan pelanggaran hak asasi anak untuk mendapatkan perlindungan dan pendidikan yang aman, bebas dari rasa takut dan kekerasan. Sementara itu, Anggota Komisi X DPR RI Andi Muawiyah Ramly merasa prihatin dengan beredarnya video guru vs murid ini. Ia mengatakan sekolah bukan arena pelampiasan emosi. Ia juga menyoroti aspek adab dalam penggunaan media sosial yang mengakibatkan insiden ini viral.
Kasus guru vs murid ini bukan sekadar masalah persoalan atau emosi sesaat. Ini merupakan alarm bahwa ada masalah serius dalam dunia pendidikan kita hari ini. Seharusnya relasi guru dan murid dibangun dengan penuh rasa hormat, keteladanan dan kasih sayang. Bukan ketegasan, emosi bahkan kekerasan.
Guru harus memberi teladan, bersabar dalam mengajar atau mendidik. Sebaliknya murid harus hormat, patuh, sopan terhadap guru. Namun, hari ini guru dan murid terjebak dalam lingkaran konflik yang berujung pada kekerasan.
Anggota KPAI Aris Adi Leksono mengatakan berbagai kasus guru vs murid terjadi karena sejumlah faktor di antaranya budaya disiplin yang keras, kurangnya konselor dan tenaga kesehatan jiwa, dan implementasi SOP penanganan dan pelaporan kekerasan yang belum optimal. Rendahnya literasi digital juga memicu terjadinya kekerasan dan perundungan. Banyak anak yang terpapar kekerasan dan konten berbahaya melalui media sosial. (kpai.go.id, 19/1/2026)
Semua ini akibat penerapan sistem sekuler kapitalis yang menjauhkan agama dari kehidupan. Tujuan pendidikan hari ini berfokus pada angka atau nilai. Sementara kepribadian jadi tujuan ke sekian. Banyak yang hebat secara akademik, tetapi akhlaknya minus.
Pandangan Islam Terkait Pendidikan
Dalam paradigma Islam, pendidikan bukan sekadar mencetak orang hebat atau pintar, melainkan membentuk generasi beradab. Dalam Islam, adab didahulukan sebelum ilmu. Islam juga memerintahkan seorang murid untuk memuliakan gurunya, sementara guru diperintahkan mendidik dengan kasih sayang dan teladan. Pergaulan yang baik antara murid dan guru akan terwujud di dalam sistem yang benar, sahih, yang memuaskan akal dan menenteramkan jiwa, yaitu sistem Islam.
Pendidikan dalam Islam merupakan hak semua rakyat dan kewajiban negara menyediakan semua fasilitas dan sarana pendukungnya, termasuk perlindungan guru dan murid. Sistem pendidikan Islam bertujuan melahirkan generasi yang berilmu, faqih fiddin, dan berakhlak mulia.
Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. dalam QS.Al-Mujadalah ayat 11:
" ... niscaya Allah akan meninggikan derajat orang-orang beriman di antara kamu dan orang-orang berilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
Selain mencetak generasi unggul, pendidikan dalam Islam juga mencetak guru-guru yang berkualitas dan menyejahterakan mereka serta melindunginya. Semua itu bisa terwujud karena sistem Islam memiliki fikrah dan thariqah yang jelas dan telah terbukti serta tercatat dengan tinta emas dalam sejarah Islam.
Guru dalam Islam dilindungi mulai dari diskriminasi dan kriminalisasi. Jika terjadi persengketaan antara guru dengan murid, guru dengan orang tua, guru dengan guru atau guru dengan pihak lainnya maka Islam memiliki struktur lembaga peradilan yang akan menyelesaikannya. Termasuk mencegah hal-hal yang dapat membahayakan hak-hak jemaah juga perselisihan antara rakyat dengan seseorang yang duduk di bangku struktur pemerintahan.
Sistem Islam memiliki sistem sanksi yang tegas dan memberikan efek jera. Untuk kasus guru vs murid ini misalnya akan diselidiki. Jika murid terbukti melakukan tindakan kriminal kepada guru, akan diberikan sanksi tegas jika sudah balig. Namun, jika murid belum balig, maka wali atau orang tuanya akan diberikan sanksi atas kelalaiannya dalam mendidik anak. Guru pun sebaliknya, jika ia terbukti melakukan kesalahan juga akan diberikan sanksi.
Kita bisa belajar dari kisah Muhammad Al-Fatih (Mehmed II) yang memiliki guru yang sangat tegas dan disiplin. Guru ini sengaja dipilih orang tuanya (Sultan Murad II) karena memang dari kecil Al-Fatih sikapnya kurang baik, sering menghina dan mencemooh gurunya.
Bahkan Sultan memberikan wewenang penuh untuk mendisiplinkan anaknya termasuk memukul anaknya. Singkat cerita kolaborasi antara guru dan orang tuanya menjadikan Al-Fatih tumbuh menjadi sosok pemuda Islam yang tangguh, saleh, hafiz Al-Qur'an, serta menguasai berbagai bidang ilmu hingga menjadi panglima pembebas Konstantinopel.
Islam juga memiliki sistem ekonomi yang menjamin kesejahteraan guru. Ketika guru sejahtera, ia akan lebih fokus mendidik muridnya menjadi murid yang berkualitas. Tidak seperti hari ini, kesejahteraan masih jadi mimpi bagi sebagian guru terutama mereka yang berstatus honorer. Wallahua'lam bishawab.
#KalamRamadanAMK
#KR-AMK-MKM
#TetapProduktif
#SalamGoresanPena

Komentar
Posting Komentar