Hilangnya Adab di Sekolah, Siapa yang Gagal Mendidik?
OPINI
Oleh Rati Suharjo
Penulis Artikel Islami di Era Digital
Muslimahkaffahmedia.eu.org, OPINI-Beberapa hari terakhir, publik Indonesia kembali dikejutkan oleh kabar memprihatinkan dari dunia pendidikan. Dari Jambi, muncul rentetan peristiwa yang mencerminkan rusaknya relasi antara guru dan murid. Relasi yang seharusnya dibangun di atas adab, rasa hormat, dan keteladanan, tetapi justru berubah menjadi arena konflik dan kekerasan.
Sebagaimana dilaporkan sejumlah media, masyarakat Jambi dihebohkan oleh peristiwa memilukan yang melibatkan interaksi guru dan murid. Sebuah video yang beredar luas menampilkan kericuhan antara seorang guru SMK dan beberapa siswa di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Kejadian yang semestinya tak layak terjadi di lingkungan pendidikan ini pun memicu reaksi dari masyarakat luas. Tak berhenti di sana saja, kasus tersebut kini berlanjut ke proses hukum setelah dilaporkan kepada pihak kepolisian (Kompas.com, 18/1/2026).
Guru yang terlibat diketahui bernama Agus Saputra, pengajar di SMKN 3 Berbak. Dalam video yang tersebar di media sosial, terlihat jelas ketegangan yang berujung pada aksi saling dorong, bahkan adu fisik antara guru tersebut dengan beberapa siswa. Adegan ini menimbulkan keprihatinan mendalam di tengah masyarakat.
Peristiwa tersebut bermula dari niat seorang murid yang diduga ingin mempermalukan gurunya. Situasi kemudian berkembang menjadi saling hina hingga emosi tak terkendali dan berujung pada adu fisik antara guru dan murid. Di sisi lain, muncul pula laporan mengenai guru yang melontarkan kata-kata kasar kepada siswa, serta siswa yang berani melawan, bahkan melakukan kekerasan terhadap teman sebaya.
Rangkaian peristiwa ini memperlihatkan bahwa sekolah tak lagi sepenuhnya menjadi ruang yang aman dan mendidik. Wibawa guru runtuh, adab murid menghilang, dan kekerasan seolah menjadi hal yang lumrah.
Padahal, sekolah sejatinya adalah tempat menuntut ilmu, baik ilmu sosial, ekonomi, budaya, matematika, maupun ilmu agama. Lebih dari itu, pendidikan bertujuan membentuk manusia yang beradab. Dengan pemahaman agama yang benar, akan lahir generasi yang memahami kedudukan guru sebagai sosok yang dimuliakan.
Namun, adab tidak hanya dipelajari di bangku sekolah. Sekolah bukanlah tempat rehabilitasi akhlak. Pendidikan pertama dan utama sejatinya berlangsung di dalam keluarga. Sejak kecil, anak dibentuk oleh pola asuh orang tua, mulai dari pola pikir, sikap, hingga kepribadian.
Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh kekerasan cenderung melahirkan watak keras. Sebaliknya, anak yang dibesarkan dengan keteladanan akhlakul karimah akan tumbuh dengan sikap santun dan hormat. Sayangnya, hari ini kita banyak menjumpai generasi yang miskin adab. Dinasehati satu kata, dibalas dua kata. Ditegur sedikit, dilawan lebih keras.
Krisis adab ini kerap disederhanakan sebagai kesalahan individu, guru yang dianggap kurang sabar atau murid yang dicap kurang ajar. Padahal, akar persoalannya jauh lebih dalam dan bersifat sistemik.
Pengaruh media sosial yang tak terkontrol, minimnya perhatian orang tua, hilangnya budaya amar makruf nahi mungkar di masyarakat, serta orientasi pendidikan yang semata mengejar ijazah, telah menjauhkan pendidikan dari tujuan hakikinya: membentuk manusia berakhlak mulia.
Lebih jauh lagi, kondisi ini merupakan buah dari penerapan sekularisme-kapitalisme. Sistem ini mencabut pendidikan dari nilai-nilai agama dan mereduksinya menjadi sekadar proses teknis pencapaian akademik.
Pendidikan Direduksi Menjadi Prestasi Akademik
Sekolah dipaksa mengejar angka, peringkat, dan kelulusan. Akhlak hanya menjadi pelengkap, bukan fondasi. Guru dibebani administrasi dan murid dibebani target, sementara itu pembinaan karakter justru terpinggirkan.
Hilangnya Otoritas Moral Guru
Guru tak lagi diposisikan sebagai pendidik dan teladan, melainkan sekadar pekerja yang terikat regulasi kaku. Ketika wibawa guru runtuh, murid pun kehilangan figur yang patut dihormati.
Negara Lepas Tangan dalam Pembinaan Generasi
Negara gagal menjadikan pendidikan sebagai sarana pembentukan kepribadian mulia. Sistem yang diadopsi justru menormalisasi kebebasan tanpa batas, individualisme dan materialisme, yakni nilai-nilai yang bertentangan dengan adab Islam.
Ketika penghinaan, perundungan, hingga pengeroyokan terjadi di sekolah, pertanyaannya bukan lagi siapa yang salah, melainkan siapa yang gagal mendidik.
Pendidikan yang berlandaskan akhlakul karimah hanya dapat terwujud jika syariat Islam diterapkan sebagai konstitusi negara. Masalah sistemik menuntut solusi yang juga sistemik. Dalam naungan Khilafah, pendidikan dipandang sebagai kebutuhan dasar (primer), setara dengan kebutuhan pangan dan tempat tinggal.
Dalam Islam, tujuan pendidikan adalah membentuk kepribadian Islam (Syakhsiyah Islamiyah). Pendidikan tidak sekadar mencetak siswa yang cerdas secara akademik, tetapi membentuk manusia yang beriman, berilmu, dan beradab.
Akidah Islam menjadi asas seluruh kurikulum. Dengan akidah yang lurus, akan lahir generasi yang ma'iyatullah, yakni merasa selalu diawasi oleh Allah Swt. dalam setiap perbuatannya.
Para ulama salaf sejak awal telah menekankan bahwa akhlak harus didahulukan sebelum menuntut ilmu. Imam Malik dan Abdullah bin al-Mubarak, misalnya, memandang adab sebagai fondasi utama dalam proses keilmuan. Menurut mereka, ilmu yang dipelajari tanpa adab berpotensi melahirkan kesombongan dan kehilangan keberkahannya. Karena itu, membangun akhlak bukan sekadar pelengkap, melainkan syarat agar ilmu benar-benar memberi manfaat bagi diri dan umat.
Dalam sejarah Islam, Imam asy-Syafi'i رحمه الله dikenal memiliki adab yang sangat tinggi kepada gurunya, Imam Malik bin Anas رحمه الله, penulis kitab Al-Muwaththa'. Salah satu kisah yang masyhur adalah kebiasaan Imam asy-Syafi'i membuka dan membalik lembaran kitab dengan sangat pelan saat berada di majelis Imam Malik, hingga hampir tidak terdengar suara kertas sedikit pun. Hal itu dilakukan semata-mata karena rasa hormat dan pemuliaan beliau terhadap guru dan ilmu.
Demikian pula kisah Nabi Musa a.s. bersama Nabi Khidir a.s. yang diabadikan dalam QS. Al-Kahfi ayat 60-82. Di sana tampak jelas keteladanan adab seorang pencari ilmu kepada gurunya. Nabi Musa a.s. menunjukkan sikap tawadhu', bertutur kata dengan santun, berusaha bersabar dalam proses belajar, serta ikhlas menerima teguran dan pelajaran. Beliau memuliakan Nabi Khidir a.s. layaknya seorang orang tua, sebagai bentuk penghormatan kepada sosok yang menyampaikan ilmu dan hikmah.
Sikap tersebut bukan lahir dari rasa takut, melainkan dari kesadaran akan kemuliaan ilmu. Bahkan diriwayatkan bahwa Imam asy-Syafi'i membuka lembaran kitab dengan sangat hati-hati karena khawatir suara kertas itu mengganggu gurunya. Dalam majelis ilmu, beliau juga menjaga adab dengan tidak banyak berbicara, tidak menatap wajah guru terlalu lama, serta tidak duduk bersandar. Itu semua sebagai wujud penghormatan yang mendalam.
Kisah-kisah ini memberikan pelajaran besar bahwa adab adalah pintu masuk ilmu. Para ulama memahami bahwa ilmu tidak akan menetap di hati orang yang meremehkan adab. Karena itu, mereka mendahulukan pembinaan akhlak sebelum memperdalam pengetahuan. Maka, rusaknya relasi guru dan murid hari ini sejatinya bukan sekadar persoalan pendidikan formal, melainkan cermin dari hilangnya nilai adab dalam kehidupan umat.
Wallahualam bissawab.

Komentar
Posting Komentar