Ketika Ruang Kelas Berubah Jadi Ring Tinju
OPINI
Oleh Elfia Prihastuti, S.Pd
Praktisi Pendidikan
"Pendidikan adalah paspor ke masa depan".
Muslimahkaffahmedia.eu.org-Ungkapan tersebut amat menarik ketika dikaitkan dengan karakter generasi saat ini. Muncul pertanyaan menggelitik, masa depan seperti apa yang akan terbentuk kelak? Karakter amburadul yang kerap mewarnai generasi, cukup membuat banyak pihak pesimis berbicara tentang masa depan. Pertanyaan yang patut ada dalam benak, seperti apa pola pendidikan dalam membentuk pribadi generasi saat ini?
Dunia pendidikan diramaikan oleh fakta-fakta mengiris hati. Hubungan guru dan murid kian retak oleh persoalan disiplin, emosi sesaat, hingga kuasa orang tua murid. Semua ini pada akhirnya menyeret sekolah dalam pusaran konflik.
Di tahun 2026 perseteruan guru dan murid kembali menyeruak. Agus Saputro, seorang guru SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, saling melempar kepalan tinju dengan sejumlah muridnya. Kelas yang seharusnya sebagai tempat pembelajaran justru berubah menjadi ring tinju. Video adu jotos ini akhirnya viral di media sosial, bahkan sampai ke meja polisi. (detik.com, 17/01/2026)
Padahal belum lekang dari ingatan, peristiwa serupa juga mewarnai dunia pendidikan. Sebelumnya, aksi mogok sekolah oleh ratusan siswa sebagai protes pada kepala sekolah yang menampar muridnya karena ketahuan merokok.
Andy Mu'awiyah Ramly, Anggota Komisi X DPR RI, mengaku prihatin atas peristiwa baku hantam murid dan guru tersebut. Legislator dari PKB itu menuturkan, kasus perkelahian antara guru dan sejumlah siswa merupakan sebuah alarm keras bagi dunia pendidikan agar tidak hanya mengejar akademik semata. Pendidikan juga harus berperan dalam membentuk karakter, kecerdasan emosional dan etika digital. (n.jpnn. com, 15/01/2026)
Menelusuri Akar Terkikisnya Relasi Positif Guru dan Murid
Secara kasat mata, tidak dimungkiri bahwa dunia pendidikan kerap dipandang secara sempit. Kesuksesan yang ada dalam proses pendidikan hanya diukur dengan tingginya nilai ujian, terserapnya lulusan dalam lapangan kerja dan semacamnya.
Sementara terdapat hal krusial yang seharusnya menjadi peran sebuah lembaga pendidikan, yaitu membentuk karakter siswa menjadi pribadi yang beradab. Hilangnya peran tèrsebut pada akhirnya para peserta didik dibentuk oleh hal lain yang ternyata semakin menjauhkan mereka dari karakter baik dan mulia, misalnya saja gadget. Benda ini mempunyai pengaruh yang cukup ekstrem bagi generasi.
Di sisi lain, guru tidak hanya memiliki peran mendidik, tetapi dibebani juga oleh setumpuk administrasi. Tugas yang bejibun, gaji yang minim, waktu yang terbatas, pada akhirnya guru terperangkap dalam berbagai kekerasan dalam mendisiplinkan siswa. Sebagian guru lainnya bersikap acuh terhadap perilaku buruk muridnya, demi risiko konflik.
Relasi positif guru dan murid yang seharusnya berlangsung hikmat, penuh kasih sayang, dan penghormatan, justru berubah menjadi ajang polemik dan pengabaian.
Jika hal ini terus dibiarkan, maka peradaban gemilang yang selalu dicita-citakan oleh setiap bangsa hanya sebatas mimpi. Sebuah data menunjukkan sebuah tren yang cukup membuat banyak pihak ketar-ketir, sebanyak 46,25% kasus kekerasan dilakukan oleh guru terhadap siswa. Kekerasan sesama siswa sejumlah 31,11% dan yang melibatkan orang tua sebanyak 16,12%.
Ada pula sebuah pandangan yang menyatakan ketimpangan interaksi guru dan murid berasal dari budaya feodal. Kekerasan dinormalisasi atas nama pendisiplinan. Padahal dengan alasan apa pun, menggunakan kekerasan adalah bentuk pelanggaran.
Cermin Pendidikan Sekuler
Perselisihan antara guru dan murid bukanlah sekadar persoalan individu semata. Juga bukan persoalan emosi sesaat, lebih dari itu persoalan ini merupakan potret kusam yang melanda dunia pendidikan hari ini. Dunia pendidikan di negeri ini tengah mengalami krisis akut. Sebuah indikasi bahwa dunia pendidikan telah kehilangan kekuatan mendidiknya.
Tentu semua ini berpulang pada pemahaman para pelaku dalam dunia pendidikan. Dalam kitab Syakhshiyyah al-Islamiyyah, Syekh Taqiyuddin an-Nabhani mengungkapkan bahwa perilaku seseorang itu dihasilkan dari pemahamannya. Sementara pemahaman lahir dari ideologi yang dianutnya.
Ketika sebuah pemahaman dibangun oleh Ideologi kapitalis sekuler, maka jangan berharap akan ada adab yang menghiasi relasi guru dan murid sebab tak ada nilai spiritual yang mendorong guru atau pun murid melakukan peraturan langit. Sekularisme telah memutus dorongan tersebut.
Dengan ideologi sekuler kapitalis yang menanggalkan agama dari kehidupan, kebaikan tidak akan menemukan jalannya. Akibatnya dunia pendidikan kehilangan arah untuk mengubah perilaku murid menjadi mempunyai adab, etika moral, dan penghormatan terhadap gurunya. Sebab itu adalah materi-materi yang hanya didapatkan dalam ajaran agama.
Guru pun pada akhirnya memiliki sumbu pendek, karena kesabaran, menjadi pendidik adalah sebuah amanah dan lainnya, merupakan tsaqafah hanya bisa diperoleh dengan mempelajari agama dan menerapkannya.
Lebih parah lagi, negara. Penerapan sistem kapitalis sekuler sejatinya telah menjerumuskan penduduk negerinya ke dalam perilaku yang rusak sebab tak ada tatanan menuju yang lebih baik. Karena agama tidak dijadikan asas utama dalam pedidikan maka tujuan akhir dari pendidikan adalah sekadar ijazah.
Guru kehilangan peran sebagai pendidik moral dan spiritual. Maka hubungan guru dan murid berubah menjadi hubungan transaksional. Tidak ada kasih sayang dan penghormatan. Relasi yang ada pada akhirnya hanya mengejar deretan angka.
Dengan demikian, sekularisme hanya membentuk generasi yang asing terhadap adab dan penghormatan. Meletakkan agama di ranah pribadi yang tidak dapat digunakan di ranah sosial.
Kembali ke Sistem Islam
Dalam sistem Islam, guru ditempatkan dalam posisi yang terhormat. Guru bukan hanya penyampai ilmu juga pewaris para nabi dalam menyampaikan kebenaran. Ilmu dalam Islam merupakan fondasi dalam membentuk peradaban. Oleh karena itu, guru dihormati, diberi ruang untuk berperan secara optimal, tanpa rasa takut dipidana.
Sementara dunia Islam bertujuan untuk membentuk generasi yang beradab, yakni terdapatnya sebuah keseimbangan antara kecerdasan akal, ketundukan spiritual, dan ketinggian akhlak. Orientasi pendidikan tidak hanya penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga pembinaan dalam pembentukan pola pikir dan pola sikap peserta didik.
Standar yang digunakan adalah halal dan haram dalam berperilaku sehingga siswa akan selalu bersikap hormat pada guru dan guru pun penuh kasih sayang pada muridnya sebab semua itu dilakukan karena rasa tanggung jawabnya sebagai seorang hamba Allah.
Negara selalu berupaya membuat rakyatnya sejahtera. Seperti negara menerapkan sistem ekonomi yang handal untuk menyokong bagi berputarnya kehidupan. Termasuk di dalam dunia pendidikan. Negara menyediakan gaji yang layak untuk menjamin kehidupan para guru sehingga benar-benar fokus mendidik muridnya.
Selain itu negara juga menerapkan hukum yang tegas dan adil untuk menjaga keamanan dan mencegah kezaliman. Dalam penerapan yang konsisten, tidak ada yang berani melakukan tindak kekerasan dan intimidasi serta tindakan sewenang-wenang terhadap guru.
Tidak ada tindakan main hakim sendiri, karena akan ada mediator yang akan menyelesaikan permasalahan. Dalam hal ini akan melibatkan pihak berwenang, seperti aparatur negara atau kadi. Dengan demikian, dipastikan keadilan ditegakkan dan semua pihak akan mendapat haknya secara proporsional.
Sistem pendidikan yang bervisi mempersiapkan sebuah peradaban akan serius dalam setiap prosesnya dalam membentuk kepribadian generasi. Tidak cukup dengan ilmu pengetahuan saja melainkan juga iman, amal, adab, dan kepribadian Islam (syakhsiah islamiah). Allah Taala berfirman di dalam ayat,
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Mujadalah [58]: 11)
Wallahualam bissawab

Komentar
Posting Komentar