Krisis Dunia di Bawah Kapitalisme Global

 


OPINI 

Oleh Ummu Qimochagi

Aktivis Muslimah

Q

Muslimahkaffahmedia.eu.org, OPINI-Dunia hari ini sedang berada dalam situasi yang semakin tidak adil dan penuh luka. Konflik bersenjata terjadi di berbagai wilayah, kesenjangan ekonomi makin tajam, kerusakan lingkungan kian parah, dan jutaan manusia hidup dalam penderitaan. Ironisnya, semua ini berlangsung di bawah tatanan dunia yang diklaim dipimpin oleh Amerika Serikat dengan ideologi kapitalisme sekuler sebagai standar global.


Faktanya, kepemimpinan global di bawah kendali AS justru melahirkan penjajahan gaya baru. Negara-negara yang tidak sejalan dengan kepentingannya ditekan melalui sanksi ekonomi, ancaman militer, hingga intervensi langsung. Umat Islam menjadi korban paling nyata dari tatanan ini. Palestina masih dijajah, negeri-negeri muslim hancur akibat perang dan konflik berkepanjangan, sementara umat Islam dibuat lemah, bergantung, dan semakin jauh dari penerapan Islam secara menyeluruh.


Salah satu contoh paling jelas dari arogansi kepemimpinan global ini adalah kasus Venezuela. Beberapa waktu lalu, dunia dikejutkan oleh penangkapan Presiden Venezuela oleh Amerika Serikat dengan dalih penegakan hukum internasional. Tuduhan narkoterrorisme dijadikan alasan resmi, seolah-olah tindakan tersebut murni persoalan hukum. Namun, banyak pihak mempertanyakan langkah ini karena jelas melanggar kedaulatan negara lain. (detik.com, 04/01/2026) 


Venezuela bukan negara berkekurangan. Negeri ini memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, lebih dari 300 miliar barel. Hal ini menjadikannya sangat strategis baik secara ekonomi dan geopolitik. Sejak bertahun-tahun lalu, AS menjatuhkan sanksi ekonomi berat yang menargetkan sektor minyak Venezuela. Dampaknya sangat nyata: ekonomi Venezuela menyusut hingga sekitar 70–75 persen, pendapatan negara anjlok, dan kemampuan pemerintah memenuhi kebutuhan rakyat melemah drastis. (cnbc.com,07/01/2026)


Tekanan ini berimbas langsung pada kehidupan rakyat. Harga pangan melonjak tajam, obat-obatan sulit diperoleh, layanan kesehatan kolaps, dan kemiskinan meningkat. Dalam satu dekade terakhir, lebih dari 7 juta warga Venezuela terpaksa meninggalkan negaranya, menjadikannya salah satu krisis migrasi terbesar di dunia. (kumparan.com,04/01/2026)


Semua ini menunjukkan bahwa sanksi dan intervensi bukan sekadar urusan politik, melainkan senjata yang menghancurkan kehidupan manusia.


Kasus Venezuela memperlihatkan pola yang berulang. Negara kuat merasa berhak menekan, mengatur, bahkan “menghukum” negara lain demi kepentingannya, terutama penguasaan sumber daya alam. Hukum internasional dijadikan alat legitimasi, bukan penjaga keadilan. Inilah wajah asli kapitalisme global, kekuasaan dan keuntungan berada di atas nilai kemanusiaan.


Pada saat yang sama, kapitalisme sekuler juga melahirkan kerusakan ekologis besar-besaran. Demi keuntungan, alam dieksploitasi tanpa batas. Dalam data laporan internasional, menunjukkan suhu bumi telah melampaui ambang batas aman mencapai 1,5 derajat celcius. Banjir, kekeringan, cuaca ekstrem, dan krisis pangan terjadi di berbagai belahan dunia. Lagi-lagi, negara miskin dan berkembang, termasuk banyak negeri muslim, menjadi korban. 


Semua fakta ini menunjukkan bahwa masalah yang terjadi di setiap negeri di dunia ini,  bukan sekadar kesalahan dari individu pemimpin itu sendiri, melainkan kerusakan sistemik akibat diterapkan nya ideologi kapitalisme sekuler. Sistem yang memisahkan agama dari kehidupan, menyingkirkan nilai wahyu dari politik dan ekonomi, serta menjadikan materi sebagai tujuan utama. Akibatnya, akidah umat Islam dilemahkan, ekonomi hanya dikuasai segelintir elit, dan politik global dipenuhi dengan kezaliman.


Sesungguhnya, Allah swt. telah mengingatkan:


“Dan orang-orang kafir itu sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu tidak melaksanakannya (aturan Allah), niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.”

(QS. Al-Anfal: 73)


Islam memandang realitas ini dengan sangat jelas. Islam bukan hanya agama ritual, yang hanya mengatur bagaimana beribadah  semata tetapi mabda atau ideologi yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Tujuan dari kepemimpinan dalam Islam adalah menghadirkan rahmat, keadilan, dan keseimbangan. 


Allah Swt. menegaskan dalam  firmanNya:


“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”

(QS. Al-Anbiya: 107)


Rahmat ini tentu tidak akan terwujud jika Islam hanya dibatasi pada ibadah personal semata (sholat, puasa, haji) sementara urusan ekonomi, politik, dan hubungan internasional diatur oleh sistem buatan manusia yang terbukti gagal. Rahmat Islam ini hanya akan terasa oleh seluruh manusia dan alam semesta ketika Islam diterapkan sebagai kekuasaan untuk mengatur kehidupan. 


Sejarah mencatat bahwa ketika Khilafah Islam berdiri selama kurang lebih 13 abad lamanya, kepemimpinan yang adil dan manusiawi pernah dirasakan dunia. 

Sumber daya alam dikelola sebagai milik umat, bukan dikuasai oleh pihak asing. Negara melindungi rakyatnya dari penjajahan dan eksploitasi. Hukum ditegakkan tanpa pandang bulu apakah dia kaya ataukah dia miskin. Muslim maupun non-muslim hidup aman dalam satu sistem yang menjunjung keadilan.


Karena itu, dunia hari ini benar-benar membutuhkan kepemimpinan global yang membawa rahmat, bukan kepemimpinan yang arogan dan menindas. Selama kapitalisme sekuler masih menjadi pengatur dunia, kasus seperti Venezuela akan terus terulang, dengan korban rakyat tak berdosa.


Satu-satunya jalan keluar hakiki adalah kembalinya kepemimpinan Islam dalam institusi Khilafah, yang mampu melindungi umat Islam sekaligus seluruh manusia dari kezaliman, eksploitasi, dan kerusakan global.


Wallahualam bissawab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Oligarki Rudapaksa Ibu Pertiwi, Kok Bisa?

Retak yang Masih Mengikat

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic