Krisis Global Butuh Kepemimpinan Islam Rahmatan lil ‘Alamin

 



Oleh Mufti Dharmawati

Aktivis Muslimah


Muslimahkaffahmedia.eu.org, OPINI -Dunia hari ini menghadapi krisis multidimensi yang semakin mengkhawatirkan. Konflik bersenjata, ketegangan geopolitik antarnegara besar, instabilitas ekonomi global, hingga kerusakan lingkungan yang masif menjadi potret kegagalan tatanan dunia yang berdiri di atas sistem kapitalisme sekuler. Sistem ini terbukti tidak mampu menghadirkan keadilan, perdamaian, dan kesejahteraan hakiki bagi umat manusia.


Salah satu peristiwa yang menyita perhatian dunia adalah operasi militer Amerika Serikat terhadap Venezuela pada 3 Januari 2026. Dalam operasi tersebut, Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, ditangkap oleh pasukan AS di Caracas dan dipindahkan ke New York untuk menghadapi dakwaan di pengadilan federal Amerika Serikat. Tindakan ini menuai kecaman luas dari berbagai negara karena dinilai melanggar kedaulatan negara dan hukum internasional. (ANTARA News, 17/01/2026)


Peristiwa ini tidak dapat dilepaskan dari kepentingan geopolitik dan ekonomi global. Venezuela dikenal memiliki salah satu cadangan minyak terbesar di dunia. Sejumlah laporan menyebutkan bahwa pasca-penangkapan tersebut, Amerika Serikat berencana melakukan “pengelolaan” terhadap sektor energi Venezuela dengan melibatkan perusahaan-perusahaan minyak besar. Analisis lingkungan menunjukkan bahwa eksploitasi cadangan minyak Venezuela secara besar-besaran berpotensi menghabiskan hingga 13 persen sisa carbon budget global, yaitu batas emisi karbon yang masih memungkinkan dunia menjaga kenaikan suhu bumi di bawah 1,5°C. (The Guardian, 12/01/2026)


Krisis ini semakin kompleks ketika dikaitkan dengan meningkatnya konflik ekonomi antarnegara besar. Laporan Global Risks Report 2026 yang dirilis oleh World Economic Forum menyebutkan bahwa konflik ekonomi global, perang dagang, dan fragmentasi ekonomi internasional menjadi risiko paling menonjol yang mengancam stabilitas dunia, bahkan melampaui risiko perang bersenjata dan bencana alam. (World Economic Forum, Januari 2026; dikutip oleh The Guardian, 14/012026)


Rangkaian fakta ini menunjukkan bahwa tatanan dunia saat ini masih dikendalikan oleh logika kekuatan dan kepentingan. Negara-negara besar bertindak seolah berada di atas hukum internasional, sementara negara lemah menjadi korban intervensi, eksploitasi sumber daya, dan tekanan politik. Keadilan global yang sering didengungkan ternyata hanya berlaku selektif, tunduk pada kepentingan kapital dan kekuasaan.


Akar persoalan ini bukan semata kebijakan satu negara, melainkan bersumber dari ideologi kapitalisme sekuler yang menjadi fondasi sistem global. Ideologi ini memisahkan agama dari kehidupan, menyingkirkan nilai moral dan spiritual dari tata kelola negara dan hubungan internasional. Akibatnya, kekuasaan dipandang sebagai alat dominasi, bukan amanah; sumber daya alam dieksploitasi tanpa batas; dan manusia direduksi menjadi faktor produksi.


Dampak sistem ini dirasakan pula oleh umat Islam. Dalam berbagai aspek kehidupan, politik, ekonomi, pendidikan, sosial budaya, bahkan akidah, terjadi disorientasi. Umat didorong untuk menerima ketidakadilan global sebagai keniscayaan, sementara solusi Islam kaffah dianggap utopis atau tidak relevan. Nilai-nilai luhur seperti keadilan, amanah, dan perlindungan terhadap yang lemah kalah oleh logika keuntungan dan kepentingan politik.


Padahal, Islam memiliki mabda (ideologi) yang paripurna dan menyeluruh. Mabda Islam bukan sekadar ajaran ritual, melainkan seperangkat pemikiran dan aturan hidup yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Mabda inilah yang menjadi modal kebangkitan umat untuk memahami realitas global, membongkar akar kezaliman sistemik, serta menolak dominasi kapitalisme global. Allah Swt. berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan karena Allah .…” (QS Al-Ma’idah: 8)


Islam juga menawarkan konsep kepemimpinan yang bertolak belakang dengan kepemimpinan kapitalistik. Dalam Islam, kepemimpinan adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. maka Rasulullah saw. bersabda, “Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang diurusnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)


Prinsip ini menutup ruang bagi kesewenang-wenangan dan menjadikan keadilan sebagai orientasi utama kekuasaan.

Kepemimpinan Islam yang terwujud dalam institusi Khilafah berfungsi menjaga agama dan mengatur urusan dunia dengan hukum Allah. Khilafah tidak dibangun untuk menjajah bangsa lain, melainkan untuk menegakkan keadilan global, melindungi yang lemah, serta menjaga keseimbangan alam. Sejarah mencatat bagaimana negara Khilafah mampu memberikan perlindungan kepada nonmuslim dan menjamin hak-hak mereka secara adil.


Prinsip ini sejalan dengan tujuan risalah Islam, Allah Swt. menegaskan, “Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS Al-Anbiya: 107) Rahmat Islam mencakup seluruh manusia dan alam semesta. Inilah paradigma kepemimpinan yang sangat dibutuhkan dunia saat ini, ketika krisis kemanusiaan dan lingkungan semakin akut. Sebagaimana juga diingatkan dalam laporan-laporan PBB dan IPCC tentang krisis iklim global. (IPCC AR6 Synthesis Report, 2023)


Dengan demikian, solusi hakiki atas krisis global bukanlah reformasi tambal sulam dalam sistem kapitalis, melainkan perubahan mendasar pada ideologi dan kepemimpinan dunia. Dunia membutuhkan kepemimpinan Islam rahmatan lil ‘alamin yang menjadikan keadilan sebagai tujuan, amanah sebagai prinsip, dan kemaslahatan manusia sebagai orientasi.


Dunia boleh saja dipenuhi kekuatan militer dan teknologi canggih. Namun tanpa kepemimpinan yang membawa rahmat, semua itu hanya akan mempercepat kehancuran. Kepemimpinan Islam dengan mabda dan sistem Khilafah menawarkan jalan menuju tatanan dunia yang adil, seimbang, dan penuh rahmat, bukan hanya bagi umat Islam, tetapi bagi seluruh manusia.


Wallahualam bissawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Oligarki Rudapaksa Ibu Pertiwi, Kok Bisa?

Retak yang Masih Mengikat

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic