Pengeroyokan Siswa Terhadap Guru, Bukti Generasi Krisis Adab




Oleh Tutik Haryanti 

Pegiat Literasi


Muslimahkaffahmedia.eu.org-Dunia pendidikan kembali tercoreng dengan perilaku anak didik yang makin jauh dari adab. Sejumlah siswa SMKN 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, melakukan pengeroyokan terhadap seorang guru hingga terjadi saling adu jotos. Peristiwa ini tentu sangat disayangkan. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat belajar dan mengajar justru menjadi ajang pertikaian.


Patut ditelusuri dengan bijak, apa yang melatarbelakangi pengeroyokan tersebut? Apa penyebab generasi kini semakin krisis adab? Lalu, adakah solusi yang dapat menjaga perilaku generasi dan eksistensi dunia pendidikan nenjadi berkualitas?


Kronologi Pengeroyokan 


Hasil penelusuran menunjukkan, pengeroyokan berawal saat seorang siswa yang sedang mengikuti pelajaran melontarkan perkataan yang tidak sopan terhadap seorang guru (Agus) yang sedang melintas di depan kelasnya. Tidak terima dengan perkataan siswa tersebut, lalu Agus pun masuk ke ruang kelas dan menanyakan siapa pelakunya. Alih-alih meminta maaf, pelaku justru menantang balik dan refleks Agus pun menamparnya.


Menurut keterangan sejumlah siswa, Agus sering berkata kasar, menghina siswa, dan mengatakan 'miskin' sehingga memicu keributan tersebut. Namun, Agus menyangka. Hal itu dilakukan dalam konteks memotivasi dan tidak ada maksud menghina. Akhirnya, kasus tersebut ditempuh dengan jalur hukum karena jalan mediasi yang dilakukan tidak berhasil. (detiknews.com, 17-01-2025)


Pengeroyokan Tanda Krisis Adab


Munculnya peristiwa tersebut jelas menjadi pertanda, bahwa generasi kini telah mengalami krisis adab. Sekolah telah gagal mencetak generasi yang berkualitas, terutama dari sisi akhlak. Siswa sering meluapkan emosi, melakukan kekerasan tanpa berpikir panjang. Terbukti sering terjadi perkelahian atau tawuran antar pelajar, perilaku bullying di sekolah, dan masih banyak lagi kasus lainnya. 


Saat ini pendidikan hanya sekadar mengukur pencapaian nilai akademik, mengejar ijazah, dan menjadikan siswa berorientasi siap kerja. Fakta ini tentu saja mengarah pada perolehan materi (fisik) semata, tanpa didukung karakter siswa berupa kesadaran spirituanyal. Siswa tidak lagi merasa takut dengan Penciptanya, apalagi hanya dengan seorang guru.


Hilangnya Wibawa Guru


Pengeroyokan terhadap guru semakin memperlihatkan hilangnya wibawa seorang guru. Guru seharusnya dihormati, karena mereka adalah orang tua saat di sekolah. Namun, saat ini guru sering tidak dihargai. Siswa dan guru hanya menjadi relasi transaksional, bukan dilandasi rasa kasih sayang dan penghormatan.


Di sisi lain, kesejahteraannya yang tidak terjamin mengharuskan guru mencari tambahan pemasukan dari pekerjaan lain. Oleh karenanya, mengajar tidak menjadikan prioritas utama sehingga sekolah menjadi sebatas transfer ilmu dan ruang kompetisi nominal. Sekolah bukan lagi menjadi tempat mendidik dan membina karakter siswa. Akhirnya, pembelajaran pun tidak maksimal. Guru telah kehilangan perannya sebagai pendidik moral dan spiritual.


Sekuler-Kapitalisme Akar Masalah


Sesungguhnya, akar masalah dari keributan antara guru dan siswa tak lepas dari sistem sekuler-kapitalisme yang diterapkan saat ini. Pendidikan sekuler telah memisahkan agama dari kehidupan. Nilai agama dipinggirkan sehingga tidak dijadikan fondasi dalam berpikir dan bertindak. Siswa maupun guru akan mudah tersulut emosi sesaat. 


Pendidikan telah kehilangan arah dan tujuan akhir yang sebenarnya, yakni meraih rida Allah Swt.. Belajar bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. tetapi cukup untuk mendapatkan ijazah dan pekerjaan yang mapan. Standar manfaat dan kepuasan jiwa dijadikan pijakan dalam melakukan perbuatan. Maka sejatinya, guru dan murid yang saling bertikai mempertontonkan keegoisannya. Mereka bukan saja melakukan pelanggaran disiplin tetapi keduanya mengalami krisis adab. 


Akibat dari sistem sekuler-kapitalisme ini, alumni pendidikan pun bukan saja akan jauh dari profit generasi berakhlak. Ini alarm keras bagi negeri ini jika kondisinya terus menerus dibiarkan.


Prespektif Islam


Dalam sudut pandang Islam, pendidikan bukan saja sekadar transfer ilmu, tetapi proses membentuk akidah yang lurus sebagai landasan dalam berpikir dan bertindak sehingga siswa memiliki konsep tentang ilmu, adab, dan memaknai tujuan hidup. Pendidikan Islam dibangun berdasarkan akidah Islam sehingga ada keseimbangan antara akal, ruh, dan akhlak.


Di sisi lain, Islam memandang guru sebagai murabbi dan teladan bukan sebatas pengajar, yang akan mendidik siswa agar lebih dekat dengan Sang Pencipta. Guru wajib mengetahui bahwa setiap perbuatan harus mengikuti standar hukum syarak. Demikian pula pendidikan yang berbasis akidah Islam akan mencetak generasi muslim yang beriman dan bertakwa. Keberhasilan pendidikan dapat diukur dari lahirnya insan yang berilmu dan beradab, bukan pandai secara akademik saja.


Demikian pula dengan keluarga. Institusi ini memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak. Kebutuhan adanya sinergitas antara pihak sekolah dan orang tua sehingga bila terjadi suatu permasalahan terhadap anak dapat dimediasi secara kekeluargaan. Tentu saja yang paling krusial adalah peran negara sebagai penyokong utama kualitas pendidikan.


Negara harus memastikan pendidikan dengan kurikulum berlandaskan akidah Islam, yang nantinya akan melahirkan generasi yang berkepribadian Islam. Allah Swt. berfirman, 


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ ۝١١


"Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, dan "Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah Swt. akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan."


Ayat di atas menjelaskan, Allah Swt. akan meninggikan beberapa derajat orang-orang yang diberi ilmu, dibandingkan dengan yang tidak berilmu, karena ilmu itu yang akan menjadi hujjah dan menerangi umat. 


Negara Islam juga memberikan perlindungan terhadap guru dan seluruh warga dalam hal keamanan. Kesejahteraan guru juga akan dijamin sehingga guru fokus dalam mendidik siswa tanpa harus terbebani dengan kebutuhan hidupnya. Jika terjadi perselisihan maka akan diselesaikan melalui Dewan Peradilan, yang akan menyelesaikan permasalahan di masyarakat, melindungi hak-hak publik serta mengadili secara adil.


Terhadap peradilan maka akan diterapkan saksi hukum yang tegas dan adil. Bagi yang sudah baligh maka dihukumi sebagaimana orang dewasa, sedangkan yang belum balig maka wali atau orang tua yang bertanggung jawab.


Penutup


Pengeroyokan guru adalah sebuah tindakan yang sangat tidak terpuji dan menunjukkan krisis adab yang parah dalam masyarakat. Guru adalah sosok yang sangat dihormati dan memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan ilmu pengetahuan siswa. Namun, dengan adanya kasus pengeroyokan guru, menunjukkan bahwa ada sesuatu yang salah dengan sistem pendidikan dan nilai-nilai yang diajarkan kepada generasi muda. Sistem yang paling unggul hanyalah sistem Islam yang akan melahirkan generasi yang beradab.


Wallahualam bissawab.[

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Oligarki Rudapaksa Ibu Pertiwi, Kok Bisa?

Retak yang Masih Mengikat

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic