Sejahtera Parsial : Muslim Terjebak Pola Struktural Tahunan
OPINI
Oleh : Eli Darnita
(Penulis dan Kreator digital)
Muslimahkaffahmedia.eu.org, OPINI -Setiap tahun tepatnya saat Ramadhan datang, ada pola ekonomi yang terus berulang. Yaitu inflasi yang memuncak. Harga-harga naik serentak dan itu terjadi diseluruh negeri. Melalui THR yang merupakan stimulus ekonomi terbesar di Indonesia. Triliunan rupiah mengalir ke masyarakat dengan kata lain likuiditas melimpah. Hanya di Indonesia yang memiliki tradisi mudik lebaran. Ini membuat peraturan atau perpindahan uang dari kota ke desa.
Jika diamati inflasi tertinggi selalu terjadi di bulan Ramadhan. Dari data statistik ekonomi Indonesia. Polanya konsisten, puncaknya terjadi pada bulan Ramadhan. Dalam teori ekonomi hari ini persediaan akan selalu dikaitkan dengan permintaan. Saat THR cair, dibelanjakan secara serentak. Membuat persediaan barang di pasar terbatas. Pedagang secara serentak akan menaikan harga. Dengan naiknya konsumsi. Inpor barang juga naik. Kebutuhan terhadap dolar meningkat rupiah melemah. Hal lain yang membuat rupiah juga melemah adalah meningkatnya permintaan dolar untuk biaya operasional seperti bahan bakar pesawat dan sewa yang berdenominasi US Dolar. Di sisi lain, suplai dolar dari ekspor tidak secepat naiknya kebutuhan valas domestik.
Belum lagi dorongan ingin tampil glamor pada hari lebaran membuat pembelian terhadap perhiasan emas meningkat dengan persepsi emas adalah simbol kesejahteraan dan keamanan finansial yang perlu ‘dipertontonkan’ di momen-momen tertentu semisal lebaran. Masalahnya toko emas seiring meningkatnya permintaan kebiasaannya menaikan harga jual dan biaya cetak yang tinggi. Meski membeli dengan harga mahal, konsumen sering tidak sadar terkalahkan oleh fomo tampil glamor sewaktu lebaran.
Puasa seharusnya mengajarkan hidup sederhana. Namun sebaliknya. Anggaran untuk membeli makanan persiapan berbuka puasa, membeli takjil, buka bersama dan membeli baju lebaran dengan berbagai pernak pernik nya membuat anggaran malah ‘bocor’. Ditambah promo bulan Ramadhan memicu belanja inpulsif. Namun, perlu disadari naiknya berbagai transaksi di bulan Ramadhan karena adanya THR bukan pendapatan masyarakat yang meningkat secara permanen. Sedihnya penggunaan paylater dan kartu kredit naik signifikan pada Minggu-minggu sepanjang bulan Ramadhan . Per April 2025 (setelah lebaran) utang BNPL naik 47,21% atau sebesar 8,24 triliun dibanding leba tahun 2024. (Ngomonginuang, 25/2/2026).
Kenapa siklus tersebut berulang tahun ke tahun? Ternyata ada pergeseran nilai ibadah puasa dari semata-mata menjalankan ketaatan kepada Allah menjadi pola konsumsi budaya. Di Indonesia, Ramadhan bukan hanya ibadah personal, tapi juga momen sosial. Buka puasa bersama. Kirim hampers & parsel. Mudik, sampai Persiapan Lebaran (baju baru, kue, THR). Sehingga permintaan barang meningkat. Terutama bahan pangan (beras, daging, gula, minyak), pakaian & ritel, transportasi. Semua ini tanpa sadar membudayakan hukum ekonomi sederhana yaitu permintaan naik berefek ke harga cenderung naik. Semua itu juga merupakan strategi Bisnis dan marketing. Diskon Ramadhan, flash sale, promo “Lebaran Sale”, dan lain-lain. Perusahaan memang merancang momentum ini sebagai peak season. Ini bukan konspirasi, tapi logika kapitalisme musiman. Paradigma untung rugi menjadikan oreantasi perbuatan hanya bertumpu bagaimana mendapatkan sebanyak-banyaknya materi. Meski mengabaikan aspek spritual.
Islam menjelaskan bulan Ramadhan adalah bulan mulia. Kesempatan meraih nilai spritual setinggi -tingginya. Di dalamnya terkandung berbagai keutamaan-keutamaan dimana kaum muslim bisa meraih sebanyak-banyaknya pundi amal Shaleh beribadah semata-mata demi mengharapkan Ridha Allah subhanahu wata’ala. Sehingga bisa mencapai derajat taqwa. Sebagaimana firman Allah SWT :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Adapun berkaitan dengan ekonomi. Berbeda dengan ekonomi hari ini yang berfokus kepada produksi. Dengan paradigma kebutuhan manusia tidak terbatas. Tapi bagaimana distribusi apakah rakyat bisa menikmati tidak menjadi pertimbangan. Sehingga barang tersedia akan tetapi apakah bisa diakses oleh rakyat. Itu tidak menjadi perhatian. Padahal pada faktanya, barang dan jasa tersedia banyak. Tapi tidak bisa diakses karena berkaitan dengan harga berbanding kemampuan rakyat untuk membayarnya.
Pencegahan terhadap siklus tahunan yang terus berulang. Inflasi dan sebagainya. Maka Islam akan memberikan pemahaman bahwa yang dimaksud dengan politik ekonomi adalah bagaimana terpenuhinya kebutuhan warga negara baik primer sekunder maupun tersier. Kebutuhan primer meliputi sandang, pangan dan papan merupakan kewajiban bagi negara untuk memenuhinya. Adapun kebutuhan sekunder dan tersier diupayakan untuk dipenuhi sebatas level mampu memenuhinya. Berfokus pada distribusi. Dipastikan harta maupun jasa untuk memenuhi kebutuhan hidup tersampaikan secara total kepada setiap individu. Individu per individu. Ketika semua kebutuhan rakyat terpenuhi, tidak hanya di bulan Ramadhan. Namun setiap hari sepanjang tahun. Maka tidak akan ada belanja inpulsif saat Ramadhan datang. Ditopang paradigma tentang kebahagiaan. Bukan mendapatkan berbagai kesenangan yang bersifat jasmani. Akan tetapi ketika mendapatkan ridho Allah. Sehingga fokus rakyat bukan kepada terpenuhinya kebutuhan dan keinginan dan berbagai sarana untuk kesenangan jasmani. Akan tetapi menguoayakan berbagai ikhtiar demi tercapainya ridho Allah SWT.
Dengan kesejahteraan yang merata dari kota sampai kedesa. Distribusi barang dan jasa untuk pemenuhan kebutuhan yang merata. Tidak akan ada budaya merantau seperti sekarang. Dimana orang-orang terpaksa meninggalkan kampung halamannya untuk mengadu nasib di daerah lain. Jikapun ada yang melakukan perjalanan yang membutuhkan transportasi seperti pesawat yang sewa dan bahan bakarnya dipengaruhi USD. Itu bukan dalam rangka mencari penghidupan untuk memenuhi kebutuhan. Bisa perjalanan dinas, dalam rangka mencari ilmu, berkunjung, rihlah. Transportasi bisa diakses dengan harga terjangkau bahkan gratis. Dengan kemandirian negara pelaksana Islam.
Hanya dengan kembali kepada syari’at Islam di semua lini kehidupan. Rakyat akan terbebas dari struktural tahunan yang menguras sumber daya umat. Baik waktu, harta, tenaga, mental, kesehatan, dan pikiran.
Wallahu a’lam.

Komentar
Posting Komentar