Kedaulatan Energi di Negeri Pertiwi Hentikan Intimidasi


OPINI


Oleh Tri Sundari 

Pegiat literasi 


Muslimahkaffahmedia.eu.org-Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia meminta agar masyarakat tetap tenang, menyusul adanya kekhawatiran terkait ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran. Bahlil menegaskan bahwa stok BBM nasional dalam kondisi aman.


Bahlil juga menjelaskan bahwa kemampuan storage tempat penampung minyak nasional sudah lama berada di kisaran 25 hari. Akan tetapi standar minimal ketersediaan untuk kebutuhan nasional berada di atas 20 hari. (detikNews.com, 6/03/2026)


Panic buying BBM beberapa waktu lalu melanda sejumlah negara di tengah perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel, sehingga memicu lonjakan harga minyak dunia. Kekhawatiran gangguan pasokan minyak, terutama setelah penutupan Selat Hormuz, mendorong masyarakat di berbagai negara untuk berbondong-bondong mengisi penuh tangki kendaraannya. 


Panic Buying dan Naiknya Harga BBM 


Dampak serangan AS-Israel ke Iran, di beberapa negara mulai menunjukkan panic buying serta kenaikan harga BBM, misalnya di Korea Selatan, harga bensin menyentuh level tertinggi dalam 29 bulan terakhir. Data Korea National Oil Corporation menunjukkan bahwa harga rata-rata bensin nasional melonjak 3,16 persen menjadi 1.777,52 won per liter. Sementara itu, di Sri Lanka warga berbondong-bondong ke SPBU meskipun pemerintah sudah memastikan bahwa stok mencukupi untuk 35 hari (diesel) dan 37 hari (bensin).


Kepanikan membeli BBM yang menyebabkan antrean panjang juga terjadi di Jerman seiring kenaikan harga bensin. Juru bicara Asosiasi SPBU Jerman, Herbert Rabl mengatakan ketakutan terjadinya kelangkaan BBM serta kenaikan harga, mendorong warga segera mengisi tangki kendaraannya. (CNNIndonesia.com, 5/03/2026)


Sementara itu, di dalam negeri, antrean panjang terjadi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum atau SPBU di Kota Medan, Sumatera Utara, pada Jumat (6/3/2026). Warga rela mengantre lebih dari satu jam karena khawatir adanya kabar tentang kelangkaan stok bahan bakar minyak akibat perang yang terjadi di Timur Tengah. Akan tetapi Pertamina memastikan stok dan distribusi bahan bakar minyak di wilayah Sumatera Bagian Utara atau Sumbagut masih aman. (Kompas.id, 6/03/2026)


Badan Perlindungan Konsumen Nasional Republik Indonesia (BPKN) mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan panic buying Bahan Bakar Minyak (BBM) akibat isu potensi gangguan pasokan energi sebagai dampak konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran. Kepanikan yang terjadi justru dapat memicu kelangkaan semu di lapangan, karena distribusi menjadi tidak seimbang akibat pembelian yang berlebihan. Hal senada disampaikan pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi yang menilai panic buying justru berpotensi menimbulkan gangguan distribusi BBM di lapangan. (Antaranews.com, 7/03/2026)


Wakil Ketua Komisi VI DPR RI dari Fraksi Gerindra, Andre Rosiade menyatakan bahwa saat ini stok bahan bakar minyak (BBM) nasional dalam kondisi aman, bahkan untuk arus mudik dan perayaan Lebaran 2026 masih aman. Selanjutnya Andre mengatakan, pemerintah melalui Pertamina dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menyiapkan berbagai skenario untuk memastikan agar pasokan BBM di dalam negeri tetap terjaga selama periode mudik hingga setelah Lebaran. (Kompas.com, 8/03/2026)


Urgensi Ketahanan Energi


Perang AS-Israel dengan Iran mengancam pasokan BBM ke sejumlah negara-negara di dunia termasuk Indonesia, akibatnya terjadi panic buying BBM. BBM sejatinya merupakan komoditas strategis, sehingga kelangkaannya bisa menimbulkan gejolak ekonomi, sosial maupun politik. 


Kedaulatan energi menjadi faktor yang sangat penting untuk tercapainya stabilitas politik ekonomi suatu negara. Mirisnya, di negeri ini yang memiliki sumber daya alam yang melimpah, sumur-sumur minyak tersebar di berbagai daerah di Indonesia, akan tetapi untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak harus mengimpor dari luar negeri.


Kapitalisme global telah mengeksploitasi sumber daya energi dari negara-negara yang lemah untuk meraup keuntungan ekonomi. Negara besar telah menciptakan ketergantungan energi, sehingga bisa digunakan sebagai alat penjajahan ekonomi. 


Islam Memberikan Solusi Secara Tuntas 


Allah Swt. sudah memberikan berkah sumber daya alam yang berlimpah kepada masyarakat Indonesia. Banyak wilayah yang awalnya berupa pegunungan atau hutan yang kaya akan sumber daya alam dan kekayaan hayati, kini mengalami kerusakan akibat pengeboran minyak. Akan tetapi faktanya, saat ini Indonesia masih melakukan impor minyak dari luar negeri.


Sejatinya negeri-negeri kaum muslim tidak boleh menjadikan kaum kafir sebagai sekutu. Kaum muslim yang diberkahi negeri dengan sumber daya alam yang melimpah tidak boleh takut pada hegemoni kaum kapitalis. Firman Allah Swt.,"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil teman kepercayaan dari orang-orang di luar kalangan (agama)-mu (karena) mereka tidak henti-hentinya (mendatangkan) kemudaratan bagimu...". (TQS. Ali Imran: 118)


Di negara yang menerapkan sistem Islam, kedaulatan energi mutlak diperlukan, agar kebijakannya tidak mudah didikte oleh negara lain. Islam memiliki kebijakan dalam mengelola sumber daya alam termasuk tambang. 


Di dalam Islam, jenis kepemilikan terbagi menjadi 3, yaitu:

- Kepemilikan Pribadi (Milkiah Fardiah), merupakan hak individu untuk memiliki serta menggunakannya secara sah, sesuai syariat.

- Kepemilikan Negara (Daulah), merupakan harta yang dikelola negara untuk kemaslahatan rakyat, misalnya: harta fai dan kharaj.

- Kepemilikan Umum (Milkiah Ammah), adalah sumber daya yang dikuasai bersama untuk kepentingan bersama, misalnya: air, padang rumput, api (bahan bakar) serta tambang. 


Sejatinya, barang tambang termasuk ke dalam kepemilikan umum, sehingga negara tidak boleh memberikan pengelolaannya kepada individu atau kelompok tertentu. Barang tambang harus dikelola oleh negara untuk kesejahteraan rakyatnya.


Negeri-negeri muslim dengan sumber daya alam yang berlimpah semestinya bisa menyejahterakan rakyatnya. Jika dikelola dengan benar dan sesuai dengan syariat Islam, bukan hal yang mustahil dapat menjadi negeri yang memiliki kedaulatan dalam bidang energi sehingga kebijakan dalam negerinya tidak didikte negara lain.


Penjajahan kapitalisme global pada dasarnya berusaha mengeruk kekayaan dari negeri-negeri muslim. Hal ini harus segera dihentikan dengan menegakkan kembali syariat Islam. 


Negeri-negeri muslim harus bersatu agar tidak mudah diadu domba. Persatuan umat muslim akan menjadikan kekuatan yang besar, sehingga memiliki pengaruh geopolitik yang sangat luar biasa. Persatuan umat hanya dapat terjadi dengan tegaknya Daulah Khilafah Islamiyah.


Wallahualam bissawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic

Retak yang Masih Mengikat

Akhir Jeda Sebuah Keteguhan