Cerita Mudik yang Tak Pernah Usai

 


OPINI 

Oleh Arda Sya'roni 

Pegiat Literasi 


Muslimahkaffahmedia.eu.org, OPINI-'Balik kampung hohoho balik kampung ...' Lirik lagu Balik Kampung dari Sudirman Arshad ini sering didendangkan saat lebaran. Lagu ini turut menemani perjalanan saudara-saudara kita yang tengah mudik. 


Mudik alias pulang kampung saat Lebaran adalah momen yang ditunggu-tunggu. Lezatnya masakan ibu, pelukan hangat ibu, kenangan seru bersama ayah, serta kenangan indah bersama teman masa kecil menjadi pemantik semangat bagi jiwa yang telah lelah oleh beban dunia. Sudah menjadi tradisi tiap tahun, mudik bersama keluarga, bersua dengan sanak famili di kampung, mengenalkan anak-anak pada keluarga di kampung halaman agar tak terputus tali silaturahmi. Namun, cerita mudik setiap tahun selalu dihiasi oleh laka lantas maupun kemacetan yang mengular di mana-mana. Cerita mudik seperti ini seakan tak pernah usai, selalu berulang dari tahun ke tahun. 


Bagai buah simalakama, ingin mudik tetapi harga tiket transportasi umum baik darat, laut maupun udara membumbung tinggi, lumayan menguras dompet untuk keluarga dengan banyak anak. Mau menggunakan kendaraan pribadi, enggan dengan kemacetan yang menyesakkan dada serta risiko bahaya laka lantas yang sudah menjadi langganan tiap tahun. Namun, bila tak mudik hati resah merindukan orang tua, anak-anak pun merindukan dimanja oleh kakek neneknya. Alhasil, sebagian masyarakat hanya mampu menggelar cerita mudik virtual melalui video call atau menonton unggahan cerita dari yang lainnya. 


Problematika Tahunan


Fakta adanya laka lantas dan kemacetan parah di jalur mudik bagaikan lagu lama yang terus dimainkan. Upaya pencegahan seakan tak membuahkan hasil yang signifikan sehingga rakyat seakan menjadi tumbal yang harus dikorbankan. Tak ada upaya serius dari negara dalam mengatasi problem ini. Upaya penanganan yang diberikan hanya upaya teknis yang tidak mencukupi, hanya sebatas memberikan layanan mudik gratis, maupun slogan-slogan imbauan berkendara aman. 


Dikutip dari metrotvnews.com, 19-03-2026, Berdasarkan data Dishub Kabupaten Bandung, lebih dari 190 ribu kendaraan telah melintasi jalur selatan Nagreg pada puncak arus mudik tahun ini. Kendaraan pribadi, baik mobil maupun sepeda motor dari arah Bandung dan Jakarta, mendominasi jalur menuju Jawa Barat Selatan hingga Jawa Tengah.


Permasalahan mudik berkaitan erat dengan minimnya layanan moda transportasi umum yang nyaman dan murah. Karena mahalnya harga tiket mudik, menyebabkan banyak masyarakat yang memilih menggunakan kendaraan pribadi sehingga jumlah kendaraan pribadi melampaui pertumbuhan panjang jalan. Selain itu armada transportasi umum yang dioperasikan banyak yang tidak layak dan tidak memenuhi standar keamanan. Bahkan beberapa transportasi umum ini menampung penumpang melebihi batas maksimum yang disarankan. Kondisi jalan juga mempengaruhi sebab banyak yang rusak dan berlubang sehingga rawan terjadi kecelakaan. 


Dikutip dari kumparan.com, 19-03-2026 kecelakaan maut terjadi di Tol Pejagan-Pemalang (PPTR) KM 290 jalur B antara Bus dengan mobil LCGC Toyota Calya. Kecelakaan terjadi pada Kamis (19/3) pagi, jalur kecelakaan saat itu digunakan untuk one way arah Pemalang. Empat orang dinyatakan meninggal dan satu orang mengalami luka-luka. Bus Agra Mas bernopol  T 7622 DA itu terlihat hancur pada bagian body belakangnya. Sementara Calya bernopol B 2399 FFR remuk pada bagian depannya.


Demikianlah yang terjadi bila urusan rakyat diurus negara dengan sistem kapitalis. Negara dalam sistem kapitalis tidak mampu mewujudkan fungsi raa'in (pelayan) yang mengurusi rakyat. Negara abai menjamin keselamatan rakyat. Sudah menjadi tabiat kapitalisme yang menimbang segala sesuatu dengan untung rugi. Maka wajar bila urusan layanan transportasi umum berfokus pada keuntungan, bukan pada kemaslahatan rakyat.


Lonjakan arus mudik dan arus balik merupakan ladang cuan bagi kapitalisme. Standar keamanan pun rela diabaikan demi rupiah yang melambai di depan mata. Perbaikan jalan pun hanya akan dilakukan setelah diviralkan atau setelah memakan banyak korban. Hal ini karena kapitalisme hanya berpijak pada materi dan keuntungan, urusan rakyat berada di nomor sekian.


Layanan Transportasi dalam Islam


Berbeda dengan kapitalisme yang menimbang urusan rakyat dengan untung rugi bagi penguasa, sistem Islam justru sebaliknya. Sistem Islam menjadikan penguasa sebagai pelayan rakyat yang senantiasa mendahulukan kebutuhan rakyat. Islam bukan hanya sebuah agama yang dijalankan dengan ritual agama semata.


Islam juga merupakan sebuah ideologi yang mengatur kehidupan manusia di semua lini. Sistem Islam dalam Khilafah menjadikan syariat Islam sebagai pijakan dalam bernegara dan mengatur urusan rakyat. Oleh sebab itu, Khilafah mewujudkan fungsi raa'in (pelayan) yang mengurusi rakyat dan menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. 


Negara dalam kepemimpinan Islam akan menyediakan layanan transportasi massal yang aman, nyaman, dan murah dalam jumlah yang mencukupi. Dengan demikian, penggunaan kendaraan pribadi bisa ditekan sehingga mengurangi angka kemacetan. Negara juga menyediakan jalan yang cukup dan memperbaiki yang rusak sehingga aman bagi pengguna jalan. Keimanan dan rasa takut akan pertanggungjawaban pemimpin menjadikan khalifah serius memperhatikan armada transportasi massal, mulai dari jumlah armada yang mencukupi, standar kelayakan alat transportasi, harga yang terjangkau hingga jalur lalu lintasnya baik moda transportasi darat, laut maupun udara. 


Pada masa Khalifah Umar bin Khattab bahkan bila seekor keledai terperosok di jalanan akibat jalan berlubang akan membuatnya merasa bersalah dan bertanggung jawab. Itu hanyalah seekor keledai, apalagi bila menyangkut nyawa manusia. Sedangkan pada masa Khilafah Utsmani, terkenal kereta api Hejas Railway yang menghubungkan Istanbul, Damaskus, hingga Madinah pada awal 1900-an untuk memfasilitasi jemaah haji dengan cepat dan murah. 


Khatimah


Cerita mudik yang penuh drama kemacetan dan laka lantas wajar terjadi dalam kepemimpinan kapitalisme. Hal ini karena kapitalisme tidak serius dalam mengurusi kebutuhan rakyat. Negara dalam sistem kapitalis hanya sebagai regulator yang merupakan perpanjangan tangan kaum kapital. Negara mengabaikan nasib rakyat. Negara hanya peduli pada keuntungan pribadi sehingga mudah disetir oleh para pemilik modal.


Cerita mudik dengan drama kemacetan dan laka lantas hanya bisa diatasi oleh kepemimpinan Islam dengan syariat Islam sebagai pijakan pengurusan rakyat. Pengaturan urusan manusia memang harus diserahkan pada Sang Pencipta manusia, yaitu Allah Swt.. Hanya Allah Swt. yang paham apa-apa yang baik manusia dan apa-apa yang buruk bagi manusia sehingga hanya syariat Islam yang mampu mengatasi segala problematika manusia termasuk urusan mudik ini. 


"...Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (QS. At Talaq: 3)


Wallahualam bissawab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic

Retak yang Masih Mengikat

Kasus Pagar Laut, Bukti Penguasa Tunduk Kepada Pengusaha