Gaza: Idul Fitri di Tengah Reruntuhan dan Pengungsian, Butuh Perisai Untuk Mengakhiri

 


Mereka berkumpul di dekat reruntuhan masjid yang hancur dan di area terbuka dekat kamp-kamp pengungsian.

OPINI 

Oleh Jasli La Jate (Pegiat Literasi) 


Muslimahkaffahmedia.eu.org, OPINI -Puluhan ribu warga Palestina melaksanakan salat Idul Fitri di seluruh Jalur Gaza pada Jumat (20/3) pagi, di tengah reruntuhan gedung dan tenda pengungsian. Mereka berkumpul di dekat reruntuhan masjid yang hancur dan di area terbuka dekat kamp-kamp pengungsian.


Idul Fitri tahun ini masih mereka rasakan dalam kondisi kemanusiaan yang sangat sulit. Blokade masih berlangsung, krisis pengungsian terus memburuk, dan ratusan ribu warga Palestina masih tinggal di tempat penampungan atau tenda-tenda darurat. Belum lagi mereka harus menghadapi kekurangan akut pangan, air bersih, dan kebutuhan pokok lainnya. Krisis kemanusiaan ini entah kapan berakhir. Duka nestapa seolah tak berujung menimpa warga Gaza. (minanews.net, 20/3/2026) 


Derita warga Gaza makin terlupakan ketika AS-Israel fokus memerangi Iran. Seakan penderitaan di Gaza telah usia, fokus perhatian telah berpindah. Padahal kondisi warga Gaza masih dalam krisis yang memprihatinkan. Pengepungan terus terjadi. Bantuan terus dibatasi. 


Makin ironi lagi, di tengah kondisi penduduk Gaza yang makin memprihatinkan, negara-negara Arab Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, Qatar dan Oman justru bersekutu dengan negara kafir dalam memerangi Iran dan melupakan derita Gaza yang terus berlangsung. 


Miris lagi, di hari raya tahun ini juga tentara Israel melarang kaum muslimin salat Idul Fitri di Masjid Al-Aqsa. Bahkan mereka menggunakan kekerasan paksa dengan granat untuk membubarkan warga Palestina yang mencoba masuk di kompleks Masjid Yerusalem tersebut. 


Alasan Israel menutup Masjid Al-Aqsa selam 14 hari berturut-turut karena perang melawan Iran sementara berlangsung. Padahal Masjid tersebut adalah Masjid kaum muslimin. Namun, telah dikuasai oleh Zionis Israel dan mengaturnya sesuka hati. 


Kaum muslimin hari ini memang terlihat begitu lemah. Bukan lemah dari segi militer karena jumlah militer kaum muslimin di seluruh dunia begitu banyak jika disatukan. Namun, lemah dari segi kepemimpinan persatuan yang menyatukan mereka dalam satu negara yakni Khilafah. Padahal Islam itu ideologi yang mempunyai seperangkat aturan kehidupan. Allah sebagai pencipta dan pengatur kehidupan telah menetapkan syariah sebagai sumber rujukan. Sayangnya, Khilafah telah diruntuhkan oleh kaum kafir sejak 1924 M. Sejak runtuhnya, kaum muslimin diatur dengan negara bangsa. Penderitaan demi penderitaan terus dirasakan kaum muslimin. Negeri-negeri kaum muslimin dijajah oleh AS dan Eropa, kekayaan alam mereka dikeruk, dieksploitasi dengan begitu mudah. Kaum muslimin dijajah dengan penjajahan fisik maupun non-fisik. 


Hari ini apa yang dialami penduduk Gaza, Idul Fitri dalam kondisi mengenaskan harusnya dirasakan sebagai penderitaan bagi seluruh kaum muslimin. Sebab, Rasulullah menggambarkan kaum muslimin bak satu tubuh. Jika satu tubuh merasakan sakit, maka tubuh yang lain pun ikut merasakan. Maka, penderitaan Gaza seharusnya menjadi duka seluruh kaum muslimin. 


Kondisi ini seharusnya menyadarkan kaum muslimin terutama penguasanya bahwa nasib Gaza perdamaian dan kemerdekaan Palestina bukan menjadi prioritas bagi AS dan Israel. Penyelesaian konflik yang digadang-gadang melalui lembaga perdamaian seperti BoP yang merupakan buatan AS sebagai sekutu Israel adalah kekeliruan total. Sebab, bagi dua negara tersebut mereka hanya fokus pada hegemoni kekuasaannya pada dunia. 


Dalam Islam, Al-Qur'an mengajarkan untuk berkasih sayang dan lemah lembut terhadap muslim dan bersikap keras terhadap orang kafir. Allah Swt. berfirman yang artinya:


"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka." (TQS. al-Fath:29) 


Dari ayat ini menjelaskan kepada kita  bahwa bersikap lemah lembut terhadap umat Islam dan keras terhadap kaum kafir adalah keniscayaan. Bukan hal yang kontradiksi. Keduanya lahir dari keimanan yng kokoh. Maka, pola pikir atau pemikiran dan sikap atau tingkah laku harus seiring sejalan. Sehingga terbentuklah kepribadian Islam. Apalagi ditegaskan dalam ayat yang lain:


"Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara." (TQS. al-Hujurat:10) 


Dari sini jelas, akidah Islam adalah satu-satunya ikatan yang kuat untuk menyatukan kaum muslimin. Bukan ikatan kesukuan, nasionalisme atau ikatan lainnya. Maka, ukhuwah islamiyah menjadi pengikat bagi umat Islam di seluruh dunia untuk membebaskan penderitaan saudara sesama muslim. Seperti penderitaan di Gaza, Uighur dan lainnya adalah penderitaan seluruh kaum muslimin bukan penderitaan satu bangsa semata. 


Persatuan ukhuwah islamiyah harus dengan kekuatan. Tanpanya, akan sulit untuk membangkitkan apalagi membebaskan penderitaan saudara sesama muslim. 


"Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu." (TQS. at-Taubah:123) 


Oleh karena itu, kaum muslimin harus berjihad melawan orang-orang kafir, membebaskan kaum muslimin yang terjajah oleh kaum kafir. Allah telah tegas memerintahkan hal tersebut melalui firman-Nya di atas. Yakni memerangi orang kafir bukan dengan menjadikan mereka sebagai kolega atau melakukan kerja sama yang merugikan yang justru merugikan kaum muslimin. 


Sayangnya, hari ini jihad tidak bisa dilaksanakan lantaran kaum muslimin hidup dalam negara bangsa (national state). Kaum muslimin dikotak-kotakkan menjadi puluhan negara bangsa yang merupakan rekayasa penjajah Barat. Akhirnya, kaum muslimin sulit untuk bersatu menyerang kafir penjajah. 


Maka, jihad hanya akan sempurna jika negeri muslim bersatu di bawah kepemimpinan Khilafah ala minhajinnubuwah. Tanpa Khilafah, jihad tidak akan pernah terlaksana. Bahkan semangat jihad akan dipadamkan oleh musuh-musuh Islam. Dengan Khilafah, seluruh kaum muslimin bersatu dalam satu komando untuk menegakkan hukum Allah di seluruh dunia. Dengan jihad di bawah komando Khilafah inilah Palestina bisa dibebaskan. 


Wallahualam bissawab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic

Retak yang Masih Mengikat

Kasus Pagar Laut, Bukti Penguasa Tunduk Kepada Pengusaha