Idulfitri dan Kemenangan
OPINI
Oleh Arda Sya'roni
Pegiat Literasi
Muslimahkaffahmedia.eu.org, OPINI -Idulfitri telah tiba. Seperti biasa, umat Islam merayakannya dengan salat Idulfitri bersama keluarga. Tak ketinggalan bersilaturahmi ke tetangga dan sanak saudara. Ucapan saling meminta maaf dan memaafkan tak lupa diucapkan, termasuk dengan ungkapan yang senantiasa kita ucapkan 'minal aidin walfaizin.'
Ungkapan 'minal aidin walfaizin' ini senantiasa kita dengar dan ucapkan, tetapi masih banyak umat Islam yang salah dalam mengartikannya. Seringnya ungkapan ini disertai dengan kalimat mohon maaf lahir dan batin, menyebabkan banyak orang menduga arti dari ungkapan minal aidin walfaizin adalah mohon maaf lahir dan batin. Padahal ungkapan tersebut merupakan sebuah doa yang mempunyai arti sebenarnya secara harfiah adalah "Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali (kepada fitrah/kesucian) dan orang-orang yang menang (menahan hawa nafsu)."
Kembali pada fitrah dan menang, artinya bahwa kita diharapkan kembali kepada fitrah sebagai hamba Allah yang sami'na wa atho'na (kami dengar, kami taat) yang tunduk hanya pada aturan Allah semata. Serta menang dalam arti berhasil memenangkan pertempuran hawa nafsu, berhasil mendisiplinkan diri dan menempa diri dengan beragam ibadah dan ketaatan. Namun, kemenangan muslim yang sesungguhnya adalah kemenangan untuk berani bersatu beramar makruf nahi mungkar. Para ulama dan umara bersinergi bersama membangun lingkungan masyarakat yang penuh ketaatan dengan berhukum pada syariat Islam.
Perjuangan untuk Kemenangan Hakiki
Perjuangan umat Islam saat ini makin berat sebab penerapan kapitalisme yang membelenggu mereka. Umat Islam tak lagi bersatu sejak runtuhnya Khilafah Turki Utsmani (Ottoman) sebagai Daulah Islam terakhir. Umat Islam telah tersekat-sekat dalam negara-negara kecil sehingga mudah dikendalikan dalam cengkeraman kapitalisme.
Beberapa negara di antaranya bahkan bersekutu dengan negara kafir harbi yang terang-terang memusuhi Islam. Kemenangan Idulfitri pun tak lagi mengacu pada kemenangan hakiki dengan menegakkan syariat Allah. Kemenangan hanya dimaknai menang dalam perjuangan melawan lapar dahaga dan hawa nafsu saja.
Sungguh sangat disayangkan kala umat Islam di suatu negara bersatu dengan penjajah yang berusaha melakukan genosida terhadap umat Islam di negara yang lain. Bukankah hal ini bagaikan saudara memakan saudara sendiri? Dengan demikian, perjuangan umat Islam untuk meraih kemenangan hakiki sungguh sangat berat karena umat tak lagi bersatu.
Dikutip dari cnbcindonesia.com, 02-03-2026, AS dan sekutu Arabnya (UEA, Bahrain, Yordania, Kuwait, Qatar dan Arab Saudi) mengutuk Iran dan bersatu dalam membela warga negara, kedaulatan, dan wilayah mereka yang telah diserang Iran. Negara-negara Teluk ini mendapat serangan sebab telah menampung pasukan AS dan membiarkan pangkalan militer AS bercokol di negaranya. Oleh sebab itu, AS dan sekutu Arabnya juga menegaskan akan membela diri atas serangan-serangan yang terjadi.
Demikianlah yang terjadi saat persatuan umat terpecah-belah. Kapitalisme telah menjadikan umat terbuai dengan slogan kebebasan yang diusung ideologi kapitalisme. AS sebagai induk kapitalisme akan senantiasa menancapkan pemahaman ideologinya ke seluruh dunia.
Dengan tersebarnya kapitalisme yang disertai sekularisme untuk menjauhkan syariat dari kehidupan, maka umat perlahan terlena dengan gemerlap dunia dan terkikis akidahnya sehingga mudah digiring untuk mengikuti kehendak AS. Tak perlu dengan mengangkat senjata secara nyata, cukup dengan penjajahan secara halus melalui food, fun, fashion, dan film. Hanya dengan 4F ini generasi muda perlahan mengikuti langkah Barat, melalaikan fungsinya sebagai tonggak peradaban Islam dan menggerus pemikiran ideologis Islam dari jiwa para pemeluknya.
Kesadaran umat saat ini tak lagi memaknai Islam sebagai sebuah ideologi yang mengatur kehidupan manusia di semua lini kehidupan. Kesadaran umat masih sebatas memaknai Islam sebagai sebuah agama dengan wujud ibadah berupa ritual seperti salat, zakat, puasa, dan haji. Padahal kemenangan Islam hanya akan terwujud saat Islam diterapkan secara kaffah dalam sistem pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial budaya hingga politik.
Perjuangan umat Islam saat ini hanyalah bersifat praktis pragmatis, belum sampai pada perjuangan ideologi Islam. Oleh sebab itu, kemenangan hakiki pun belum bisa diraih. Posisi politik umat Islam terus dalam kondisi lemah sehingga mudah dikalahkan dan diadu domba, padahal Allah Swt. telah memberi predikat umat Islam sebagai sebaik-baik umat (khairu ummah).
Kuntum khaira ummatin ukhrijat lin-nāsi ta'murūna bil-ma'rūfi wa tan-hauna 'anil-munkari wa tu'minūna billāh. Artinya, "Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah ...." (QS. Ali Imran: 110)
Urgensitas Dakwah untuk Meraih Kemenangan
Allah telah menganugerahkan sumber daya alam yang melimpah pada negeri-negeri muslim. Tengok saja negeri-negeri penghasil minyak bumi dan gas alam dipegang oleh negeri-negeri muslim baik di Asia maupun Afrika. Begitu pula dengan emas dan mineral lainnya juga dimiliki oleh negeri-negeri muslim. Tak hanya itu, posisi geopolitik dan geostrategis wilayah negeri muslim sangat berpotensi dalam memengaruhi kehidupan dunia, termasuk juga berpotensi dalam penyebaran sebuah ideologi.
Potensi-potensi inilah yang dilirik oleh AS untuk menyebarkan ideologi kapitalis yang diusungnya dan mengeruk serta merebutnya. Berbagai cara akan dilakukan AS agar kesatuan umat Islam tidak utuh kembali sebab dengan bersatunya umat Islam maka upaya merebut potensi kekayaan alam tersebut menjadi mustahil. Oleh sebab itu, upaya umat Islam untuk mengembalikan kehidupan Islam seperti pada masa kekhilafahan adalah sebuah urgensitas.
Prioritas dakwah membangun kesadaran politik ideologi umat dengan Islam kafah sangat dibutuhkan saat ini. Umat harus mempunyai kesadaran akan kebutuhan adanya persatuan hakiki di bawah institusi Khilafah yang akan menegakkan syariat Islam dalam kehidupan bernegara. Dengan demikian, dibutuhkan adanya dakwah politik secara global yang akan memahamkan umat akan Islam kaffah dan urgensitas persatuan umat demi kebangkitan dan kemenangan Islam. Ramadan dan Idulfitri ini semestinya menjadi starting point untuk mengonsolidasi dan memobilisasi kekuatan dan kesatuan umat Islam.
Khatimah
Idulfitri merupakan momentum tepat untuk membangkitkan kesadaran umat untuk meraih kemenangan hakiki. Tak ada lagi sekat negara maupun sekat harakah (partai) dalam akidah, semua muslim adalah satu. Umat bersatu dalam satu pemikiran, satu perasaan, satu aturan, yakni aturan syariat Islam, satu bendera (panji Rasulullah) di bawah satu kepemimpinan Khilafah.
Kemenangan Islam mustahil diraih di bawah naungan demokrasi. Kebangkitan umat pun mustahil digapai bila jiwa masih terkungkung oleh belenggu kapitalisme. Islam takkan mulia tanpa adanya syariat yang ditegakkan dan syariat gak mungkin tegak tanpa adanya Khilafah. Hanya dalam naungan Khilafah umat mampu bersatu, penjajahan mampu diberantas dan kapitalisme sekularisme mampu ditumbangkan. Wallahualam bissawab

Komentar
Posting Komentar