Idulfitri, Kembali Suci bukan Mengedepankan Gengsi

 


OPINI 

Oleh Venni Hartiyah

Pegiat Literasi


Muslimahkaffahmedia.eu.org, OPINI -Indahnya suasana berkumpul dengan sanak saudara, berkumpul bersama di rumah orang tua, memberikan kesan tersendiri di setiap tahunnya. Momen yang sangat berharga dan tidak bisa digantikan dengan apa pun.


Rasa kangen terobati karena saling bertemu di hari yang fitri. Saling memaafkan segala kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak. Sehingga hati menjadi bersih dan hilang semua rasa dendam di hati. Hanya rasa gembira yang ada.


Allah berfirman dalam Al-Qur'an Surat Yunus [10] ayat 58 yang artinya ;


“Katakanlah (Muhammad), dengan anugerah dan kasih sayang Allah, maka dengan itu hendaknya mereka bergembira dan berbahagia.” 


Sungguh beruntung orang yang menjumpai Idulfitri dengan hati yang rida atas segalanya. Bukan tentang baju baru, mobil baru, motor baru, maupun kue lebaran, juga bukan tentang gengsi atas kemewahan di hari lebaran, akan tetapi mengenai hati yang lapang, qana'ah dan rida atas segala ketentuan-Nya. Semua ini tentunya akan menciptakan kebahagiaan yang sesungguhnya. 


Namun sayangnya pemahaman masyarakat yang dangkal, dipupuk dengan gaya hidup hedonis ala kapitalis, mengubah arti bahagia di hari raya yang sesungguhnya. Banyak orang yang terjebak hutang karena keinginan merayakan Idulfitri secara berlebihan.


Dilansir dari inilah.com (14/03/26) ekonom UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat (ANH) menyebut adanya 'ritual' menjelang Lebaran, rakyat justru dihimpit masalah hidup, yakni harga barang makin mahal. Padahal pemerintah berkali-kali menerapkan program diskon, bansos dan pasar murah yang anggarannya cukup besar. Fenomena tahunan ini menunjukkan betapa rapuhnya daya tahan ekonomi rumah tangga Indonesia ketika dihadapkan dengan kenaikan harga, ongkos mobilitas, tekanan kurs, dan jaring pengaman sosial yang belum sepenuhnya tepat sasaran.


Lebaran yang seharusnya menjadi musim pulang kampung, musim berbagi, dan musim pemulihan batin, tetapi faktanya pada tahun 2026, banyak keluarga yang justru merasa berat. Inflasi tahunan pada Februari 2026 saja, tercatat 4,76 persen. Jauh di atas sasaran inflasi Bank Indonesia (BI). Biaya hidup tinggi, sementara bantalan ekonomi rumah tangga justru menipis. Harga bahan pangan naik, ongkos mudik tetap berat, THR terasa menyusut karena potongan pajak, bansos masih bocor, dan kelas menengah semakin bergantung pada utang jangka pendek.


Diskon Besar, Penghasilan Kurang


Pemerintah mengumumkan adanya diskon transportasi menjelang mudik lebaran. Tiket pesawat ekonomi domestik diberi potongan sekitar 17 sampai 18 % untuk periode 14 sampai 29 Maret 2026 dengan target 3,3 juta penumpang.

Di jalan tol, pemerintah juga menetapkan diskon 30 % pada 29 ruas tol utama di Jawa dan Sumatera, tetapi hanya berlaku pada 15 sampai 16 Maret untuk arus mudik dan 26 sampai 27 Maret untuk arus balik.


Kebijakan ini tampak progresif. Namun bagi rakyat, manfaatnya terasa terbatas. Diskon hadir, tetapi jendelanya sempit. Ia hanya menolong mereka yang memiliki fleksibilitas waktu, saldo cukup, informasi memadai, dan kesempatan membeli pada hari yang tepat.


Sungguh miris ketika yang menikmati sebagian fasilitas diskon hanya sebagian orang saja. Tidak merata karena kemungkinan kesempatan waktunya yang tidak tepat. Bisa jadi karena terhalang jam kerja, tanggal yang mepet dan sebagainya. 


Bagi para pemudik, Idulfitri yang seharusnya menjadi momen kebahagiaan karena bisa bertemu keluarga, kadang menjadi beban karena biaya untuk mudik sangat besar bagi sebagian orang yang berada di luar daerahnya. 


Dalam sistem kapitalis sudah menjadi hal yang tidak mengagetkan, ketika harga berbagai macam kebutuhan pokok, biaya transportasi baik darat, laut maupun udara juga ikut naik. Sehingga memaksa sebagian para pemudik untuk merogoh kocek lebih dalam ketika mau bertemu dengan keluarga di kampung. 


Ketika hal ini terjadi maka banyak pihak yang menawarkan pinjaman-pinjaman demi memenuhi kebutuhan lebaran, misal pinjol yang berbunga, pinjaman bank yang sangat mudah syaratnya. Bagi sebagain orang yang terseret sistem kapitalis dan hedonis menjadikan momen lebaran sebagai ajang pamer dari berbagai segi. Misal memamerkan mobil baru, rumah baru, baju baru dan sebagainya besar fasilitas keseharian. Yang menyebabkan kaburnya makna Idulfitri itu sendiri. 

Sehingga setelah Idulfitri banyak orang yang terlilit hutang hanya demi gengsi.


Idulfitri di Masa Khalifah


Hari raya Idulfitri identik dengan kebahagiaan. Merayakan suka cita atas kemenangan setelah puasa sebulan penuh. Suka cita ini dirayakan oleh semua orang, baik orang kaya maupun miskin. Pembagian zakat fitrah juga dilaksanakan kepada 8 asnaf yang telah ditentukan, agar fakir miskin juga bisa menikmati perayaan Idulfitri.


Dalam masa kekhilafahan Islam, di hari raya Idulfitri juga merupakan kesempatan untuk menunjukkan kekuatan Islam serta mengutamakan persatuan dan kesatuan Islam. Menunjukkan kemuliaan Islam. 


Raja-raja sebelumnya biasa menunjukkan (kekuatan dan kemuliaan Islam) dengan memamerkan pasukan mereka, dan yang terakhir melakukannya adalah Sultan Abdul Hamid, pemimpin terakhir umat Islam. Kekhalifahannya berlangsung selama tiga puluh tahun. Beliau adalah orang yang kuat imannya, tulus dalam perjuangannya untuk agama dan rakyatnya. (Habib Ahmad Asy-Syatiri, Syarhu Yaqutun Nafis fi Mazhabi ibn Idris, [Darul Minhaj: 2009], halaman 177)


Idulfitri juga sebagai refleksi dari iman. Persatuan yang kuat, serta kegembiraan yang tiada tara. Semua itu karena kebutuhan dasar rakyat telat tercukupi oleh Khilafah. Sehingga rakyat tidak terbebani dengan berbagai macam kebutuhan mahal ketika Idulfitri datang.


Wallahualam bisshowab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic

Retak yang Masih Mengikat

Kasus Pagar Laut, Bukti Penguasa Tunduk Kepada Pengusaha