Pendidikan Sekuler Gagal Menjaga Kesehatan Mental Anak


 Berbagai faktor tersebut termasuk faktor nonklinis yang mempengaruhi gangguan mental.

OPINI 

Oleh  Eli Darnita

Penulis dam kreator Muslimah


Muslimahkaffamedia.eu.org, OPINI -Pendidikan di Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Penghujung tahun 2025 dan awal tahun 2026, kasus anak sekolah bunuh diri membuat publik kehilangan kata-kata. Hanya menyisakan tanya; seberapa berat beban yang ditanggung  sehingga muncul pikiran mengakhiri hidup? Apakah ini kasuistik semata? Apakah beban sekolah tidak sanggup ditanggung? Atau ada bullying yang tidak tertahan oleh sang anak sehingga memilih jalan untuk menghindar selamanya? Sesungguhnya peristiwa-peristiwa itu terjadi sebagai cermin dari kegagalan pendidikan sekuler membangun dan menjaga kesehatan mental generasi. 


Fenomena Bundir


Data mengkhawatirkan dari program pemeriksaan kesehatan jiwa gratis yang menunjukkan lebih dari dua juta anak Indonesia mengalami berbagai bentuk gangguan mental. Data ini diperoleh dari sekitar 20 juta jiwa yang sudah diperiksa. Hal ini diungkapkan Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono (Republika.co.id, 30/10/2025). Gangguan mental yang melanda anak-anak adalah akumulasi kondisi kehidupan sehari-hari yang mereka jalani. Anak muda hari ini sering disebut dengan istilah generasi sandwich atau generasi strawberry. Disebut generasi sandwich karena mereka dihimpit oleh berbagai beban hidup. Di rumah kekurangan kasih sayang. harus ikut menanggung beban ekonomi keluarga yang terpaksa dilimpahkan orang tua. Dalam pergaulan sering dihadapkan dengan perundungan, merasa tidak sama sehingga kekhawatiran tidak diterima. Di sekolah menghadapi beban tugas sekolah, harus memikirkan biaya sekolah. Terkadang menghadapi guru yang tidak bijak; perkara yang seharusnya disampaikan ke wali murid ditekankan pada sang anak. 


Generasi strawberry karena di permukaan atau di luar terlihat mengkilap, baik-baik saja. Namun di dalamnya rapuh, lembek, gampang membusuk termakan ulat. Dalam keseharian bisa jadi sang anak mejalani kehidupan sehari-hari seperti kebanyakan anak yang lainnya. Sekolah, bermain, tertawa, bercanda. Namun di dalam hati menyimpan luka pengasuhan dari orang tua, sedih dengan perlakuan lingkungan yang tidak bersahabat. Atau tidak ada tempat bercerita, berbagi uneg-uneg, keresahan. bisa jadi adanya kebingungan yang tidak dipahami, tidak ada tempat bertanya yang dirasa aman, tidak menuding, tidak menyalahkan dan menghakimi. 


Semua diperburuk dengan dunia digital yang merupakan dunia baru bagi anak-anak sekarang. Teknologi tidak salah. Namun apa yang terkandung di dalamnya tidak bebas nilai yang mempengaruhi kondisi mental anak. Konten-konten yang memamerkan kesuksesan anak seusia mereka. Game-game yang menjadikan hati keras, bernuansa perang bahkan judi dan seks. 


Bukan Hanya Bullying.


Di indonesia, dalam beberapa eksperimen sosial menunjukkan, anak-anak yang menikmati masa kanak-kanak. Mereka menikmati masa bermain tanpa beban, bebas memilih dengan jiwa murni anak-anak. tidak ada luka hati yang mempengaruhi cara dan sikap mereka menghadapi dunia. Rasa takut rasa ragu-ragu yang terkalahkan oleh optimis dan bahagia. Tidak takut mencoba hal-hal baru Itu hanya sampai usia maksimal 4 tahun. Sementara usia 5 tahun keatas, anak-anak Indonesia sudah mulai memikirkan hal-hal yang seharusnya belum mereka pikirkan. Perasaan orang tua, harus selalu mengalah dengan adiknya yang baru hadir ke dunia. Tidak jarang mereka harus memikirkan perasaan orang tua dan kondisi ekonomi keluarga. 


Angka bunuh diri yang meningkat di kalangan pelajar perlu dicermati. Ternyata tidak semua bunuh diri disebabkan bullying. Sebut saja kejadian bunuh diri siswa SMP yang terjadi di Sawahlunto kemaren. Berarti ada faktor yang lebih mendasar dari sekadar bullying.  Maraknya anak-anak yang bunuh diri lebih menggambarkan bahwa kepribadian yang rapuh pada remaja merupakan faktor yang mendorong mereka melakukan bunuh diri.  Kerapuhan kepribadian anak mencerminkan lemahnya dasar akidah anak. Hal ini adalah implikasi dari pendidikan sekuler yang hanya sekedar mengejar prestasi fisik dan mengabaikan pengajaran agama. Agama hanya diajarkan secara teori tapi tidak meninggalkan pengaruh yang menjasad pada anak.


Paradigma batas usia anak juga berpengaruh. Pendidikan Barat menganggap anak baru menginjak usia dewasa ketika berusia 18 tahun. Sehingga sering kali anak sudah baligh namun masih diperlakukan sebagai anak dan tidak dididik untuk menyempurnakan akalnya. Bunuh diri adalah puncak dari gangguan kesehatan mental. Gangguan mental adalah buah berbagai persoalan yang terjadi, mulai dari kesulitan ekonomi, konflik orang tua termasuk perceraian, hingga tuntutan gaya hidup, dan sebagainya. Hal ini akibat penerapan sistem kapitalisme. Berbagai faktor tersebut termasuk faktor nonklinis yang mempengaruhi gangguan mental. Ditambah paparan media sosial terkait bunuh diri dan komunitas sharing bunuh diri yang semakin banyak mendorong remaja dan anak-anak  makin rentan bunuh diri.


Islam Menuntaskan Masalah Generasi


Ada tiga pilar penting dalam tumbuh kembang anak agar tetap terjaga fitrahnya sebagai manusia yang merdeka. Pertama, keluarga. Islam telah membagi peran antara ibu dan ayah dengan aturan yang jelas. Ayah bertugas di luar rumah, memastikan keluarga aman dan berkewajiban mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ibu mempunyai peran yang sangat besar dalam pembentukan anak secara khusus dan generasi bangsa secara umum. Ibu merupakan sekolah pertama bagi anak-anak. Sosok yang sangat dekat mempengaruhi langsung fisik dan mental anak. Kedua, sekolah, merupakan lembaga penopang perkembangan anak yang akan memberikan ilmu-ilmu yang tidak diperoleh anak di rumah. Berperan sebagai penyambung pendidikan dari keluarga yang akan mencetak generasi bertakwa, dengan keimanan yang kuat serta memiliki keterampilan-keterampilan yang berguna bagi sang anak dalam mengarungi kancah kehidupan. Pilar ketiga, negara, merupakan pilar yang paling penting karena menjadi wadah sekaligus penopang bagi pilar-pilar yang lain. 


Sistem pendidikan dalam Islam disusun dari sekumpulan hukum-hukum syarak. Juga berbagai aturan administrasi yang berkaitan dengan pendidikan formal. Dikutip dari Muqaddimah Dustur yang merupakan rancangan Undang-undang Dasar Negara Islam menyebutkan bahwa kurikulum pendidikan wajib berlandaskan akidah Islam. Seluruh mata pelajaran dan metode pengajaran dalam pendidikan disusun agar tidak menyimpang dari landasan tersebut. Tujuan sistem pendidikan Islam bukan semata-mata kemewahan intelektual tetapi untuk membentuk pola pikir dan pola sikap Islam, sehingga pada diri siswa terbentuk kepribadian Islam.


Dalam Islam ketika baligh anak juga diarahkan untuk aqil sehingga pendidikan anak sebelum baligh adalah pendidikan yang mendewasakan dan mematangkan kepribadian Islamnya. Penerapan Islam mencegah terjadinya gangguan mental, sekaligus menyolusi persoalan ini secara tuntas, karena Islam mewujudkan kebaikan pada aspek nonklinis, seperti jaminan kebutuhan pokok, keluarga harmonis, juga arah hidup yang benar sesuai tujuan penciptaan. Harus dibedakan antara ilmu terapan dan apa yang terkait dengannya seperti matematika, dengan pengetahuan tsaqafah


Hanya dengan memakai Islam di seluruh aspek kehidupan generasi, anak-anak akan tumbuh dengan bahagia, cerdas, sehat mental dan fisik, juga terampil dalam kehidupan. Selama pendidikan masih memakai jurus sekuler selama itu juga akan bermunculan lagi anak-anak dengan mental sakit. kasus bunuh diri pada anak akan terus ada.


Wallahua'lam bisawab


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic

Retak yang Masih Mengikat

Kasus Pagar Laut, Bukti Penguasa Tunduk Kepada Pengusaha