Utang Membengkak Pascalebaran

 


Fakta ini menegaskan bahwa masyarakat cenderung menutup kebutuhan konsumsi Lebaran dengan utang.



OPINI 

Oleh Tutik Haryanti 

Pegiat Literasi 


Muslimahkaffahmedia.eu.org, OPINI -Lebaran seharusnya menjadi momen kebahagiaan dan kemenangan bagi umat Muslim. Namun, di balik suasana hangat silaturahmi dan kebersamaan, tersimpan realita pahit yang terus berulang setiap tahun, yakni utang rumah tangga yang membengkak setelah Idulfitri. Mereka terjebak dalam lilitan utang pinjol. Satu-satunya alternatif yang memberikan kemudahan dalam hal finansial. Mirisnya, fenomena ini hampir merata dialami banyak keluarga.


Dikutip dari Inilah.com (26-02-2026), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, bahwa permintaan pinjaman mengalami lonjakan signifikan selama Ramadan hingga menjelang Lebaran. Fakta ini menegaskan bahwa masyarakat cenderung menutup kebutuhan konsumsi Lebaran dengan utang.


Peningkatan ini bukan tanpa sebab. Ramadan dan Lebaran identik dengan lonjakan konsumsi. Kebutuhan pangan meningkat, harga bahan pokok cenderung naik, biaya transportasi untuk mudik melonjak, serta kebutuhan sandang seperti pakaian baru menjadi "tradisi" yang sulit dihindari. Di sisi lain, pendapatan masyarakat tidak selalu mengalami peningkatan yang sebanding. Akibatnya, terjadi kesenjangan antara kebutuhan dan kemampuan, yang akhirnya ditutupi dengan utang.


Lebih jauh lagi, tekanan sosial memainkan peran besar. Dalam budaya masyarakat, Lebaran sering kali diiringi dengan standar sosial tertentu, yakni harus tampil rapi, menyediakan hidangan terbaik, memberi angpao, dan terlihat "berhasil" di hadapan keluarga. Tekanan ini tidak selalu disadari, tetapi sangat kuat memengaruhi keputusan finansial. Banyak orang merasa tidak enak jika tidak memenuhi ekspektasi tersebut, meskipun harus mengorbankan kestabilan ekonomi keluarga.


Kondisi ini diperparah oleh lemahnya daya tahan ekonomi rumah tangga. Banyak keluarga hidup dalam kondisi keuangan yang rapuh, tanpa tabungan memadai. Ketika menghadapi momen dengan kebutuhan tinggi seperti Lebaran, mereka tidak memiliki bantalan finansial yang cukup. Akibatnya, utang menjadi pilihan utama.


Selain itu, faktor kenaikan harga barang juga tidak bisa diabaikan. Menjelang Lebaran, permintaan yang tinggi sering kali mendorong kenaikan harga bahan pokok. Inflasi musiman ini menambah beban masyarakat. Mobilitas yang meningkat terutama untuk mudik juga menambah pengeluaran. Biaya transportasi, akomodasi, hingga kebutuhan selama perjalanan menjadi beban tambahan yang tidak kecil.


Di sisi lain, jaring pengaman sosial yang ada sering kali belum tepat sasaran. Bantuan sosial memang ada, tetapi distribusinya tidak selalu merata atau sesuai kebutuhan. Sebagian masyarakat yang benar-benar membutuhkan justru tidak mendapatkan bantuan, sementara yang lain menerima dalam jumlah yang tidak cukup untuk menutup kebutuhan. Akibatnya, peran negara dalam melindungi masyarakat dari tekanan ekonomi belum optimal.


Kapitalisme Akar Masalahnya 


Semua faktor ini saling berkaitan dan bermuara pada satu hal yaitu meningkatnya utang rumah tangga pascalebaran. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, akar masalahnya tidak berhenti pada faktor ekonomi semata. Ada sistem yang membentuk pola pikir dan perilaku masyarakat, yaitu kapitalisme.


Dalam sistem kapitalis, konsumsi adalah motor utama pertumbuhan ekonomi. Semakin tinggi konsumsi, semakin dianggap baik bagi ekonomi. Oleh karena itu, berbagai mekanisme diciptakan untuk mendorong masyarakat agar terus berbelanja, termasuk melalui kemudahan akses kredit. Pinjaman online, cicilan tanpa kartu kredit, dan berbagai skema pembiayaan dibuat sedemikian rupa agar masyarakat mudah mengakses dana, tanpa banyak pertimbangan jangka panjang.


Kapitalisme juga menanamkan nilai bahwa kebahagiaan diukur dari kepemilikan materi. Iklan, media, dan budaya populer terus membentuk persepsi bahwa tampil sempurna saat Lebaran adalah sebuah keharusan. Akibatnya, masyarakat terdorong untuk memenuhi standar tersebut, meskipun harus berutang.


Lebih parah lagi, kapitalisme berjalan seiring dengan sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Dalam sistem ini, aturan agama tidak dijadikan acuan dalam aktivitas ekonomi. Riba menjadi hal yang biasa, bahkan menjadi fondasi sistem keuangan. Padahal, dalam Islam, riba jelas diharamkan karena membawa dampak buruk bagi individu dan masyarakat.


Ketika riba menjadi bagian dari sistem, utang tidak lagi sekadar alat bantu, tetapi berubah menjadi jebakan. Bunga dan denda membuat jumlah utang terus bertambah, sehingga semakin sulit dilunasi. Inilah yang sering dialami oleh masyarakat yang terjerat pinjol atau pembiayaan berbunga tinggi.


Selain itu, kapitalisme cenderung melepas tanggung jawab negara dalam menjamin kesejahteraan rakyat. Negara lebih berperan sebagai regulator daripada pelindung. Akibatnya, ketika masyarakat menghadapi tekanan ekonomi, mereka harus berjuang sendiri, tanpa dukungan yang memadai.


Sistem Ekonomi Islam Solusi Hakiki


Keluarga butuh sistem ekonomi yang mampu menyejahterakan, bukan sekadar narasi ekonomi inklusif. Sistem ekonomi yang mampu membangun keseimbangan dan distribusi ekonomi yang merata di seluruh keluarga bukan hanya kapital.


Adapun dalam hal ini, Islam menawarkan solusi yang tidak hanya menyentuh permukaan, tetapi juga akar masalahnya.

Pertama, Islam menanamkan pola pikir sederhana dan qana’ah (merasa cukup). Dalam Islam, kebahagiaan tidak diukur dari banyaknya harta, tetapi dari ketenangan hati. Dengan pemahaman ini, tekanan sosial untuk tampil berlebihan saat Lebaran dapat diminimalkan.


Kedua, Islam melarang riba secara tegas. Sistem ekonomi Islam tidak berbasis utang berbunga, tetapi pada transaksi riil dan keadilan. Dengan menghapus riba, jebakan utang yang mencekik dapat dihindari.


Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 275 yang artinya, "Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba". Pelaku riba diancam dengan azab neraka dan diperangi oleh Allah Swt. serta Rasul-Nya. 


Ketiga, negara Islam akan menyediakan lapangan kerja yang luas dan layak bagi rakyat sehingga mereka memiliki pemasukan yang pasti guna mencukupi kebutuhan Ramadan dan Lebaran, bukan memfasilitasi utang.


Keempat, negara dalam Islam memiliki peran aktif sebagai pengurus rakyat. Negara wajib memastikan kebutuhan dasar terpenuhi, mengendalikan harga agar tidak melonjak, serta menyediakan jaring pengaman sosial yang efektif dan tepat sasaran.


Kelima, negara Islam berlepas diri dari ketergantungan globalisasi dan liberalisasi perdagangan sehingga mampu menerapkan sistem ekonomi Islam untuk membangun kesejahteraan bagi keluarga.


Khatimah


Fenomena utang yang membengkak pascalebaran adalah gambaran nyata dari rapuhnya sistem ekonomi yang ada saat ini. Tekanan sosial, kenaikan harga, lemahnya daya tahan ekonomi keluarga, serta tidak optimalnya perlindungan negara menjadi faktor yang saling memperkuat.


Namun, semua itu tidak bisa dilepaskan dari sistem kapitalis sekuler yang mendominasi kehidupan saat ini. Sistem ini mendorong konsumsi berlebihan, mempermudah utang, dan menjauhkan nilai-nilai spiritual dari kehidupan ekonomi.


Islam menawarkan solusi hakiki yang menyeluruh, tidak hanya mengatur individu agar hidup sederhana, tetapi juga membangun sistem ekonomi dan sosial yang adil. Dengan kembali kepada ajaran Islam secara kafah, diharapkan Lebaran tidak lagi menjadi beban utang, tetapi benar-benar menjadi momen kebahagiaan yang hakiki. 


Termasuk sistem Islam akan mengembalikan momentum Ramadan dan Lebaran sesuai pandangan syariat Islam, yaitu mewujudkan ketakwaan, bukan hanya tataran individu, tetapi juga dalam sistem negara secara keseluruhan.


Walllahualam bissawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic

Retak yang Masih Mengikat

Kasus Pagar Laut, Bukti Penguasa Tunduk Kepada Pengusaha