Alpha Women, Tipu Daya Perempuan Tangguh Ala Kapitalisme


OPINI


Oleh Anita Humayroh 

(Pegiat Literasi dan Pemerhati Sosial)



Muslimahkaffahmedia.eu.org-Istilah alpha women belakangan menjadi simbol perempuan modern yang dianggap kuat, mandiri, ambisius, dan mampu berdiri di atas kaki sendiri. Media sosial dipenuhi narasi tentang perempuan sukses yang mampu meniti karier tinggi, menghasilkan banyak uang, aktif di berbagai bidang, tetapi tetap dituntut sempurna dalam kehidupan pribadi. Sekilas, konsep ini tampak membanggakan karena seolah menunjukkan bahwa perempuan memiliki kesempatan luas untuk berkembang. Namun jika dicermati lebih dalam, fenomena alpha women justru menyimpan persoalan serius. Kapitalisme telah berhasil membentuk standar baru tentang “perempuan ideal” yang diukur dari produktivitas dan pencapaian materi, bukan lagi dari kemuliaan hakiki yang dimiliki perempuan.


Narasi tersebut berkembang bukan hanya di kalangan masyarakat, namun juga disuarakan oleh para pemimpin negeri ini. Lestari Moerdijat, Wakil Ketua MPR RI, menegaskan pentingnya peningkatan partisipasi perempuan dalam bidang science, technology, engineering, and mathematics (STEM). Beliau menilai hal tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkuat daya saing dan inovasi Indonesia di masa depan. (detikNews.com, 09/03/2026)


Sistem kapitalis memang menjadikan kebebasan sebagai jargon utama. Perempuan didorong untuk bebas menentukan hidup, bebas mengejar karier, dan bebas menjadi apa pun yang diinginkan. Akan tetapi, kebebasan yang ditawarkan ternyata bukan tanpa kepentingan. Di balik kampanye pemberdayaan perempuan, kapitalisme membutuhkan tenaga kerja murah dan pasar yang luas untuk menopang roda ekonomi. Perempuan akhirnya diarahkan masuk ke dunia industri, menjadi bagian dari persaingan ekonomi, bahkan dijadikan target utama konsumsi pasar. Tubuh, penampilan, dan kehidupan perempuan terus dieksploitasi demi keuntungan bisnis.


Akibatnya, banyak perempuan hari ini hidup dalam tekanan yang tidak ringan. Mereka dituntut sukses dalam pekerjaan, tetapi tetap harus tampil menarik. Mereka didorong mandiri secara finansial, tetapi juga tetap dibebani tanggung jawab rumah tangga. Perempuan modern dipaksa menjalani berbagai peran sekaligus tanpa diberi ruang untuk merasa lelah. Tidak sedikit perempuan yang akhirnya mengalami stres, kecemasan, bahkan kehilangan arah hidup karena terus mengejar standar kesuksesan yang dibentuk masyarakat kapitalis. Narasi “perempuan harus kuat” perlahan menjadi beban baru yang menghancurkan ketenangan jiwa perempuan itu sendiri.


Lebih ironis lagi, sistem ini sering kali memandang perempuan hanya dari sisi manfaat ekonomi. Ketika perempuan mampu menghasilkan uang, ia dianggap bernilai tinggi. Namun ketika memilih fokus mengurus rumah tangga dan anak-anak, sebagian masyarakat justru memandangnya kurang produktif. Padahal, membangun generasi adalah tugas besar yang menentukan masa depan peradaban. Kapitalisme telah sukses menanamkan cara pandang bahwa pekerjaan domestik adalah sesuatu yang rendah dan tidak membanggakan, sehingga banyak perempuan merasa minder ketika memilih menjadi ibu rumah tangga.


Padahal dalam Islam, perempuan memiliki kemuliaan yang sangat tinggi. Islam tidak memandang perempuan dari seberapa besar penghasilannya atau seberapa tinggi jabatannya. Kemuliaan perempuan terletak pada ketakwaannya serta peran mulianya dalam menjaga keluarga dan generasi. Islam menempatkan perempuan sebagai ummu wa rabbatul bait—ibu dan pengatur rumah tangga—yang memiliki tanggung jawab besar dalam membangun suasana penuh kasih sayang dan pendidikan iman bagi anak-anaknya. Peran ini bukan bentuk pengekangan, melainkan penghormatan terhadap fitrah perempuan yang memiliki naluri keibuan dan kelembutan yang sangat dibutuhkan dalam pembentukan generasi.


Sayangnya, propaganda kapitalisme membuat banyak perempuan memandang peran domestik sebagai sesuatu yang membatasi kebebasan. Padahal justru di tangan seorang ibu lahir generasi yang kuat, cerdas, dan berakhlak mulia. Sejarah Islam mencatat bagaimana perempuan-perempuan mulia melahirkan tokoh besar karena kesungguhan mereka dalam mendidik anak-anak di rumah. Peran seorang ibu bukan pekerjaan kecil, melainkan pondasi utama peradaban. Ketika perempuan dipaksa meninggalkan tugas utamanya demi mengejar standar kesuksesan kapitalis, maka yang terjadi adalah rapuhnya keluarga dan hilangnya generasi berkualitas.


Islam juga tidak melarang perempuan untuk bekerja atau berkarya di ruang publik selama tetap menjaga syariat dan tidak melalaikan kewajiban utamanya. Namun Islam menetapkan bahwa tanggung jawab nafkah berada di pundak laki-laki. Dengan demikian, perempuan tidak dibebani tuntutan ekonomi sebagaimana yang terjadi dalam sistem kapitalis. Islam justru memberikan perlindungan agar perempuan tidak diperas tenaganya demi kepentingan industri dan pasar. Berbeda dengan kapitalisme yang menjadikan perempuan sebagai komoditas dan “sapi perah” ekonomi, Islam memuliakan perempuan sebagai penjaga generasi dan kehormatan keluarga.


Karena itu, solusi hakiki atas berbagai problem perempuan hari ini bukanlah terus mendorong perempuan menjadi “alpha women” ala kapitalisme, melainkan mengembalikan perempuan pada kedudukan mulianya menurut Islam. Islam menjadikan perempuan sebagai ummu wa rabbatul bait sekaligus hadhonah bagi anak-anaknya, yaitu sosok utama dalam pendidikan, penjagaan, dan pembentukan karakter generasi. 


Hanya Islam yang mampu mewujudkan kemuliaan itu secara nyata tanpa mengeksploitasi perempuan demi kepentingan ekonomi. Dalam sistem Islam, perempuan tidak dijadikan komoditas pasar atau alat produktivitas kapitalis, melainkan dimuliakan sebagai penjaga peradaban dan penghasil generasi terbaik bagi umat.


Wallahu alam bisshowab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic

Retak yang Masih Mengikat

Kasus Pagar Laut, Bukti Penguasa Tunduk Kepada Pengusaha