Guru, Tidak Lagi Digugu dan Ditiru Tetapi Dibuat Malu
OPINI
Oleh Kandiwriter12
Aktivis Dakwah Ideologis
Muslimahkaffahmedia.eu.org-"Dan rendah hatilah pada orang yang kamu belajar darinya" (H.R. Ath-Thabrani). "
“Saya sudah sangat memaafkan, bahkan mendoakan. Mereka juga menangis menyadari kesalahannya. Kewajiban saya sebagai guru adalah memaafkan agar mereka bisa menjadi generasi yang berakhlak,” ujar Syamsiah, Senin (20/4/2026), dilansir dari Tribun.(Kompas.com, 20/4/2026)
Dunia pendidikan kembali mendapat tamparan keras yang mencoreng wajah para pendidiknya. Kali ini datang dari satu sekolah di Purwakarta dimana terlihat dalam video yang viral di medsos memperlihatkan sejumlah siswa-siswi yang sedang melecehkan gurunya dengan melakukan gestur mengacungkan jari tengah serta menjulurkan lidah dan berpose-pose serta berjoget joget yang tidak pantas di sekitar gurunya. Hal ini membuktikan gagalnya pendidikan karakter yang selama ini di gaungkan secara masif di sekolah-sekolah.
Meskipun sekolah sudah memberikan sanksi selama 19 hari, tetapi bagi Dedi Mulyadi (Gubernur Jabar) sanksi tersebut belum tentu membentuk karakter para pelaku. Dedi Mulyadi atau lebih dikenal dengan panggilan KDM mengusulkan bentuk hukuman yang lebih edukatif dan berdampak langsung pada perubahan perilaku. Seharusnya mereka di beri hukuman yang akan membuat mereka jera dan akan mengenangnya seumur hidup mereka. Hukuman yang diusulkan KDM adalah, anak- anak di suruh membersihkan toilet setiap hari selama mereka bersekolah di sekolah tersebut.
Inilah bentuk krisis moral akibat dari sistem pendidikan sekuler-liberal buah dari sistem kapitalis saat ini, sehingga tak memiliki adab terhadap guru. Adab dan perilaku anak sudah rusak oleh sistem kapitalis sekuler ini.
Bahkan demi konten dan sekedar pengakuan publik di medsos, para siswa tak lagi peduli akan adab, yang penting bisa viral dan bisa dianggap keren oleh teman-teman sebayanya. Sungguh miris kondisi saat ini, guru tidak lagi digugu (dipercaya dan dipatuhi) tetapi lebih sering dibuat malu oleh tingkah oknum pelajar yang tidak tahu adab dan malu.
Hal ini membuktikan lemahnya wibawa guru. Kondisi ini bisa disebabkan selain siswa yang tak memiliki akhlak yang santun serta tak memiliki moralitas yang tinggi juga karena guru takut dan tak berdaya jika orang tua siswa menuntut ketika gurunya menegur/menasihati anak-anak mereka. Orang tua pun dengan mudah di provokasi oleh anak-anak mereka, sehingga semakin melemahkan citra guru dan institusi pendidikan saat ini.
Pemerintah pun sebagai institusi yang seharusnya memberikan perlindungan kepada para pendidik terkadang berlepas tangan. Slogan "Profil Pelajar Pancasila" hanyalah sekedar slogan yang terpampang di spanduk-spanduk yang tidak dapat membuktikan arti dari tulisan tersebut kepada perilaku siswa. Slogan hanya sebatas formalitas administrasi di atas kertas saja.
Pemerintah sebagai institusi negara harus menyaring konten-konten digital yang merusak moral, seperti tayangan-tayangan yang mencontohkan pembangkangan, kekerasan, pelecehan, perundungan, dll.
Pendidikan dalam Islam
Pendidikan berkarakter dalam Islam bukanlah sekedar slogan. Pendidikan dalam Islam memiliki kurikulum yang harus dibangun berlandaskan akidah Islam, guna mencetak generasi yang memiliki kepribadian Islam (Syakhshiyah Islamiyyah), yakni pola pikir dan pola sikapnya harus sesuai dan sejalan dengan aturan syariat Islam.
Ilmu pengetahuan sangat dihargai. Umar bin Khatab pernah menggaji guru anak-anak sebesar 15 Dinar per bulan setara 63,75 gram emas.
Di masa pemerintahan Daulah Abassiyah, Khalifah sangat memperhatikan sarana dan prasarana dalam pendidikan. Khalifah menyediakan sarana pendidikan gratis bagi rakyatnya, menyediakan perpustakaan dengan 1,6 juta koleksi buku di dalam perpustakaan tersebut. Sedangkan di Eropa pada masa itu hanya memiliki 1800 koleksi buku.
Di era Daulah Abassiyah pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan dan ilmu Bahasa Arab yang dijadikan rujukan bagi pendidikan masa itu oleh orang- orang Eropa. Dimana pada masa itu Eropa sedang dalam masa kegelapan. Sehingga para pencari ilmu banyak yang belajar di Daulah Abbasiyah, yang pada saat itu sudah sangat maju dalam pendidikan dan tekhnologi.
Tak hanya soal pendidikan dan ilmu pengetahuan saja, dalam sistem Islam ada juga penerapan sanksi agar tidak mudah terjadi tindakan pelanggaran aturan yang berarti penebus (jawabir) dosa bagi pelaku dan pencegah (zawazir) agar orang lain tidak akan melakukan hal serupa. Sanksi ini harus membuat efek jera yang nyata tetapi tetap adil sesuai syariat.
Dalam Islam seorang guru diposisikan sebagai sosok yang mulia, yang seharusnya mendapatkan penghargaan yang tinggi dan penghidupan yang sangat layak dari negara. Sehingga wibawa mereka terjaga di mata murid dan masyarakat. Islam memuliakan orang berilmu dan mewajibkan kaum muslimin menuntut ilmu.
Rasulullah saw. bersabda :
"Barang siapa memuliakan orang alim (guru) maka ia memuliakan aku. Dan barang siapa memuliakan aku maka ia memuliakan Allah. Dan barang siapa memuliakan Allah maka tempat kembalinya adalah surga" (Kitab Lubabul Hadits).
Wallahualam bissawab

Komentar
Posting Komentar