Gaza Menanti Perisai Nyata Khilafah Islamiyyah
OPINI
Oleh Iky Damayanti, ST
Aktivis Muslimah
Muslimahkaffahmedia.eu.org-Tragedi kemanusiaan yang terus mendera Jalur Gaza bukan lagi sekadar potret konflik perebutan wilayah biasa. Genosida yang terstruktur, penghancuran fasilitas publik secara masif, hingga penargetan anak-anak secara sengaja, sebagaimana yang ditegaskan dalam laporan Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB menunjukkan sebuah kenyataan pahit: ada upaya sistematis untuk melenyapkan eksistensi dan masa depan bangsa Palestina. (Vaticannews.va, 13/7/26)
Namun, di tengah kepunahan yang membayang di depan mata, ke mana perginya dunia internasional? Di mana taji dari hukum internasional yang kerap diagungkan?
Ilusi Diplomasi dan Sekat Nasionalisme
Selama puluhan tahun, solusi yang ditawarkan oleh lembaga-lembaga global seperti PBB dan negara-negara Barat selalu berkutat pada meja perundingan, resolusi mandul, dan retorika kosong "solusi dua negara" (two-state solution). Realitasnya, jalur diplomasi ini justru memberi ruang dan waktu bagi penjajah untuk terus memperluas pemukiman ilegal dan memperkuat cengkeramannya di tanah Palestina.
Dari kacamata politik Islam, mandulnya pembelaan terhadap Gaza berakar pada satu masalah sistemis: sekat-sekat negara-bangsa (nation-state).
Nasionalisme telah memenjarakan negeri-negeri Muslim dalam batas-batas teritorial yang semu. Akibatnya, militer negeri-negeri Muslim tetangga yang memiliki kekuatan tempur besar hanya mampu menonton dari balik perbatasan, sementara saudara seakidah mereka dibantai. Bantuan yang dikirimkan pun hanya sebatas obat-obatan dan kain kafan, bukan bantuan militer untuk menghentikan mesin perang lawan. Akhirnya negeri kaum muslimin hanya terkungkung dalam batas teritorial semu. Penguasanya hanya mampu mengecam atau memberi bantuan seadanya tanpa mampu menyelesaikan persoalan Palestina.
Ditambah virus wahn (cinta dunia takut mati) yang menjangkit penguasa, membuat mereka menjadi pengkhianat bagi saudaranya, dan bermanis muka pada musuh kaum muslimin. Pemahaman Nasionalisme benar-benar telah masuk secara utuh di pemikiran kaum muslimin dan melemahkan persatuan kaum muslim.
Khilafah Islamiyyah: Solusi Institusional yang Hakiki
Islam memandang bahwa urusan darah, kehormatan, dan tanah kaum Muslimin bukanlah komoditas yang bisa dinegosiasikan di bawah bayang-bayang kepentingan imperialisme Barat. Penyelesaian tuntas atas tragedi Gaza tidak akan pernah lahir dari rahim sistem politik sekuler yang standar gandanya nyata.
Satu-satunya solusi mendasar dan komprehensif menurut syariat Islam adalah kembalinya Daulah Khilafah Islamiyyah. Sistem kepemimpinan umum bagi seluruh umat Islam di dunia ini bukan sekadar nostalgia sejarah, melainkan kebutuhan geopolitik yang mendesak berdasarkan dalil-dalil syar'i.
Dalam sebuah hadis yang sangat masyhur, Rasulullah saw. bersabda,
"Sesungguhnya Al-Imam (pemimpin/khalifah) itu merupakan perisai (junnah), di mana orang-orang akan berperang di belakangnya dan menjadikannya sebagai pelindung." (HR. Bukhari & Muslim)
Sebagai Junnah (perisai), Khilafah memiliki peran strategis yang konkret untuk Gaza. Penyatu Kekuatan Militer Global, Khilafah akan melebur batas-batas nasionalisme dan menyatukan komando militer negeri-negeri Muslim di bawah satu bendera. Dengan persatuan ini, mobilisasi kekuatan bersenjata (jihad fi sabilillah) untuk mengusir penjajah dari tanah kharajiyah Palestina dapat dilakukan secara legal, masif, dan terorganisasi.
Serta Kedaulatan Politik dan Ekonomi, Khilafah tidak akan bergantung pada lembaga internasional atau mata uang Barat. Dengan kontrol penuh atas jalur perdagangan strategis dunia dan kekayaan alam (minyak dan gas) yang melimpah di Timur Tengah, Khilafah memiliki posisi tawar politik yang mutlak untuk menghentikan segala bentuk intervensi asing. Terlebih lagi Penerapan Syariah secara kafah, Khilafah akan menerapkan sistem Islam di seluruh lini kehidupan, memastikan keadilan bagi seluruh warga negara baik muslim maupun nonmuslim (zimmi) dan menghentikan segala bentuk penjajahan di atas bumi.
Langkah Nyata Menuju Persatuan Umat
Mewujudkan kembali Daulah Khilafah tentu membutuhkan proses perubahan yang sistematis dan mendasar. Langkah ini harus dimulai dari dakwah edukasi dan kesadaran politik Islam umat. Membangun kesadaran umat bahwa Islam bukan sekadar ritual ibadah individu, melainkan sebuah ideologi (mabda) yang memiliki solusi atas masalah kenegaraan dan geopolitik global.
Sehingga umat sepakat menolak sekat nasionalisme. Menanamkan kembali pemahaman bahwa ikatan akidah Islam harus berada di atas ikatan kesukuan, bangsa, maupun tanah air.
Langkah selanjutnya adalah menuntut tanggung jawab penguasa. Menyerukan kepada para pemegang kekuasaan dan militer di negeri-negeri muslim saat ini agar menggunakan kekuatan mereka untuk menolong Gaza, sekaligus mengarahkan loyalitas mereka pada tegaknya kepemimpinan Islam yang lurus sesuai metode kenabian (Manhaj Nubuwwah).
Nabi saw bersabda, “... kemudian, datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian). Setelah itu, beliau diam.” [HR. Imam Ahmad]
Bisyarah Rasulullah adalah janji yang nyata yang harus menjadi cita-cita kaum muslimin. Hanya dengan hadirnya kembali institusi politik global yang independen inilah, anak-anak Gaza tidak perlu lagi bertaruh nyawa setiap hari. Bumi Palestina akan kembali menjadi tanah yang damai di bawah naungan keadilan Islam, sebagaimana sejarah emas masa lalu membuktikannya.
Wallahu'alam bish-shawwab

Komentar
Posting Komentar