Gen Z: Dari Depresi Menuju Kebangkitan Hakiki


OPINI


Oleh Nur Fitriyah Asri

Penulis Ideologis dan Aktivis Dakwah 


Muslimahkaffahmedia.eu.org-Generasi Z (Gen Z) adalah sebutan bagi generasi yang lahir pada rentang tahun 1997 hingga 2012. Saat ini usia mereka berkisar 13 hingga 28 tahun, kini berada di persimpangan paling genting. Di satu sisi, mereka disebut generasi paling terhubung, akses informasi cepat membuat mereka lebih cepat belajar, paling kreatif, kritis, dan adaptif terhadap perubahan. Namun di sisi lain, berbagai survei menyebut gen Z sebagai generasi paling cemas dan paling rentan terhadap gangguan mental.


Saat ini gen Z menghadapi tantangan berat. Berbagai survei, baik di Indonesia maupun global, menunjukkan bahwa gen Z merupakan generasi dengan tingkat kecemasan dan gangguan kesehatan mental tertinggi. Fenomena ini bukan sekadar isu individual, melainkan gejala sosial yang mengkhawatirkan.


Di Indonesia, data BPS 2024 menunjukkan lebih dari 37% gen Z mengalami gejala gangguan mental akibat tekanan akademik, pekerjaan, dan sosial. Laporan lain menyebut 61% gen Z di Indonesia pernah mengalami kecemasan berlebih dan 45% pernah mengalami gejala depresi. [BPS, 2024]


Tiga Faktor Utama Pemicu Krisis Mental Gen Z

Pertama, pengaruh media sosial. Makin banyak waktu yang dihabiskan untuk bermain di media sosial memungkinkan terpapar konten negatif lebih banyak. Ini menjadi penyebab meningkatnya risiko gangguan mental. Mulai dari gangguan tidur, cyberbullying, pelecehan online, merasa kesepian dan terisolir akibat sedikitnya waktu untuk berinteraksi dengan orang lain. Paparan konten yang menampilkan kehidupan mewah, menyebabkan perbandingan fisik dan sosial dapat meningkatkan perasaan rendah diri sehingga menciptakan tekanan psikologis. 


Kedua, tekanan sosial dan ekonomi. Di usia produktif, mereka dihadapkan pada tuntutan “sukses cepat”: lulus tepat waktu, mendapat pekerjaan mapan, mandiri secara finansial. Padahal realitasnya jauh berbeda. Lapangan kerja terbatas, biaya hidup tinggi, dan ketidakpastian ekonomi global membuat mereka pesimistis terhadap masa depan.


Ketiga, krisis multidimensi. Perubahan iklim, konflik geopolitik seperti perang, kekerasan, konflik politik, dan masalah sosial, serta gejolak ekonomi menimbulkan rasa tidak aman. Ketika masa depan terasa kabur karena adanya ketidakpastian dan ketidakadilan, wajar jika gen Z menjadi lebih ragu dan masa bodoh terhadap kehidupan. Hal ini seringkali memicu stres dan depresi yang dapat berujung pada tindakan bunuh diri. Mengapa gen Z begitu cemas dan mudah depresi?


Kebobrokan Demokrasi Sekuler, Akar Segala Krisis


Gen Z hidup dalam sistem demokrasi sekuler kapitalistik yang memisahkan agama dari kehidupan. Maka lahirlah kebebasan tanpa batas, bukan keadilan. Katanya kebebasan berpendapat, nyatanya dibenturkan dengan penindasan suara kritis. Kebebasan ekonomi dimonopoli segelintir oligarki. Kebebasan perilaku menghalalkan segala cara, berlaku hukum rimba: siapa kuat dia menang dan berkuasa.


Dalam demokrasi, kebenaran diukur oleh suara terbanyak, bukan haram-halal. Akibatnya hukum dan undang-undang dipermainkan, berpihak pada pemilik modal. Inilah filosofi demokrasi yang mengagungkan kebebasan dan kedaulatan di tangan rakyat, bukan di tangan Sang Pencipta. Hal ini menjadi sebab utama terjadinya krisis di semua lini kehidupan, termasuk yang menimpa Gen Z.


Lebih dari itu, peradaban sekuler-kapitalistik menanamkan paradigma materialistik. Tolok ukur kebahagiaan diukur dari harta, jabatan, dan popularitas. Akibatnya gen Z tumbuh tanpa kompas nilai yang sahih. Imannya rapuh, hidup tanpa makna. Waktu mereka habis terkuras untuk mengejar kebahagiaan semu. Akibatnya sangat miris. Banyak gen Z tersandung kasus kekerasan, pembunuhan, seks bebas, kecanduan narkoba, penyimpangan LGBT, hingga banyak yang mengalami gangguan mental. Hal ini membuktikan bahwa negara abai meriayah generasi. 


Gelombang Resistensi Tanda Runtuhnya Sistem


Di sisi lain, gen Z dinilai sebagai generasi paling kritis dan berani menyuarakan ketidakadilan penguasa. Dari kondisi inilah muncul gelombang resistensi di berbagai negara. Sri Lanka, Banglades, Nepal, gen Z turun ke jalan menuntut perubahan. Di Indonesia, pada 12 Juni dan 13 Juli 2026, mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demonstrasi besar, pelakunya mayoritas kalangan gen Z.


Mereka menuntut penghentikan pemborosan APBN, penurunan harga BBM dan kebutuhan pokok, penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih yang menjadi ladang korupsi, bahkan berani menbentangkan spanduk "Tumbangkan Rezim Prabowo-Griban."


Sejatinya ini titik balik penting yang menunjukkan gen Z tidak pasif. Pertanyaan, kemana arah perjuangan mereka? Berhasilkah jika hanya mengganti orang tanpa mengganti sistem?


Gen Z Bukan Ancaman, Tetapi Energi Terbarukan


Sebenarnya kritik gen Z adalah modal besar untuk perubahan. Jumlah mereka banyak karena bonus demografi. Jika energi ini diarahkan dengan benar, mereka bisa menjadi lokomotif peradaban. Namun jika kritik tidak ditanamkan fondasi keimanan yang kokoh dan tidak diarahkan pada perubahan mendasar, maka ia hanya akan menjadi letupan sesaat. Krisis mental akan terus menjadi penghalang menuju "Indonesia Emas."


Jadi, potensi sebaik apapun yang dimiliki gen Z tidak akan menjadi energi membangun peradaban emas selama sistemnya masih demokrasi kapitalis sekuler.


Islam: Solusi Hakiki atas Krisis Generasi


Islam adalah agama sempurna. Bukan sekadar mengatur ibadah ritual, tetapi sistem hidup (mabda’)_ yang mengatur seluruh aspek kehidupan: individu, masyarakat, dan negara. Oleh karena itu, Islam mampu menjawab secara mendasar seluruh permasalahan hidup manusia.


Sejarah membuktikan. Para pemuda di masa kejayaan Islam tidak hanya saleh, tetapi juga unggul dalam ilmu dan kepemimpinan. Muhammad Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel di usia 21 tahun. Imam Asy-Syafi’i menjadi mujtahid besar di usia 20 tahun. Ibnu Sina menguasai kedokteran dan filsafat di usia belia. Shalahuddin membebaskan Baitul Maqdis di usia muda.


Mereka lahir dari sistem pendidikan Islam yang membentuk ketakwaan dan kepribadian Islam, yakni pola pikir dan pola sikap dibangun di atas akidah Islam, selaras dengan tuntunan syariat. Seorang muslim dididik sejak dini, untuk menjadikan haram-halal sebagai tolok ukur perbuatannya. Memahami hakikat hidup bahwa ia akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat dan memiliki kesadaran bahwa Allah Swt. senantiasa mengawasinya.


Islam tidak hanya mengatur individu, tetapi juga masyarakat dan negara. Allah Swt. berfirman: "Wahai orang-orang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah)". [QS. Al-Baqarah: 208]


Ayat ini menunjukkan bahwa Islam diturunkan untuk mengatur seluruh aspek kehidupan. Karena itu, dibutuhkan institusi untuk menerapkannya, yakni negara. Dalam Islam, institusi itu bernama Khilafah, yang bertugas menerapkan syariat secara menyeluruh dan mengurus urusan umat berdasarkan hukum Allah Swt.


Negara dalam Islam adalah pelayan umat menjalankan fungsi ri’ayah: menjamin kebutuhan pokok, menyediakan pendidikan dan kesehatan berkualitas secara gratis, serta menciptakan lapangan kerja. 


Negara juga diwajibkan menjaga akidah umat, menutup pintu-pintu kerusakan, menjaga moral publik, dan menegakkan hukum Allah secara adil dan tegas.


Dengan demikian, akan lahir generasi Z yang paham agamanya, menjadikan Islam sebagai pedoman hidup yang komprehensif. Mereka memiliki arah hidup yang jelas, ketahanan mental yang kuat, dan energi untuk mengubah tantangan menjadi amal dakwah dalam membangun diri, masyarakat, dan peradaban yang bermartabat. Inilah kebangkitan hakiki.


Penutup


Kecemasan gen Z bukan akhir dari segalanya. Ia adalah alarm keras bahwa ada yang salah dengan arah peradaban saat ini. Alarm itu hanya akan berhenti ketika kita kembali kepada sistem yang benar, yakni Islam.


Gen Z tidak lemah. Mereka hanya perlu disambungkan kembali kepada sumber kekuatan sejati: Allah dan syariah-Nya. Ketika sistem kufur diganti dengan Islam, maka, “Masa depan emas” bukan lagi utopis. Ia menjadi janji Allah yang pasti bagi hamba-hamba-Nya yang berjuang untuk meraih rida Ilahi Rabbi. 


Wallahualam bissawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic

Kasus Pagar Laut, Bukti Penguasa Tunduk Kepada Pengusaha

Retak yang Masih Mengikat