Gen Z: Dari Depresi Menuju Resistensi
OPINI
Penulis Ani Prihatini, S.Hum.I
Aktifis Muslimah dan Pegiat Literasi
MuslimahKaffahMedia.eu.org, OPINI_Keberadaan Gen Z, berasal dari kata Zoomer, merupakan istilah yang disematkan pada anak yang lahir pada rentang tahun 1997-2012. Generasi ini kini sedang menjajaki usia remaja menuju dewasa. Dimana pada usia ini seringkali mereka sedang mencari jati dirinya. Tapi kenyataannya, Gen Z ini dihadapkan pada suatu fakta yang mengkhawatirkan.
Berbagai survey menyebutkan bahwa ternyata Generasi Z di Indonesia paling banyak mengalami kecemasan dan gangguan mental (depresi). Pemicunya berasal dari dua faktor, internal dan ekternal.
Faktor internal, yakni bagaimana pola asuh orang tua dan keluarga di rumah. Seperti yang diketahui bahwa Gen Z kebanyakan lahir dari Generasi X (kelahiran 1965-1980), ini menunjukkan bahwa ada lintas dua generasi sebelumnya yang pastinya sangat berbeda, mulai dari pola asuh, pola pikir, dan pola sikapnya. Tentu ini menjadi tantangan tersendiri bagi Gen Z dalam berinteraksi dengan generasi-generasi sebelumya, yakni Gen X dan Gen Milenial. Seringkali Gen Z merasa berada di bawah tekanan, bahkan merasakan kesepian.
Sedangkan faktor eksternal berasal dari lingkungan sosial tempat ia tumbuh dan bergaul, juga dipengaruhi oleh media sosial yang bisa mereka akses seluas-luasnya. Gen Z tumbuh di era digital, dimana ia terkena paparan teknologi digital sejak lahir. Hal ini membuat mereka banjir informasi, perbandingan diri dalam hal karir, gaya hidup dan sebagainya, yang akhirnya membuat emosional mereka lelah secara perlahan.
Keberadaan media sosial hari ini didominasi oleh gaya hidup sekuleristik kapitalistik. Globalisasi 3F (food, fun and fashion) ‘ala Barat’ menambah pengaruh buruk bagi kesehatan mental Gen Z. Potensi mereka sebagai pemuda pembangun peradaban mulia akhirnya dilemahkan dengan berbagai hal yang merusak jati diri mereka, terutama sebagai Muslim.
Fenomena ini menggejala di seluruh dunia. Terutama di masa-masa kritis saat pandemi Covid 19. Lockdown dan isolasi sosial selama pandemi ini menambah kecemasan dan kesepian Gen Z. Di sisi lain, Gen Z tumbuh dalam bayang-bayang krisis keuangan, inflasi, dan ketatnya persaingan di dunia kerja dan pendidikan. Gen Z dihadapkan pada ketidakpastian karir dan masa depan karena mereka semakin sulit mendapatkan pekerjaan. Hal inilah yang akhirnya membuat mereka bersikap skeptis. Maka, krisis multidimensi yang melanda dunia inilah yang pada akhirnya menjadi pemicu utama terjadinya kecemasan Gen Z.
Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi satu dari tujuh atau 14,3 persen anak berusia 10-19 tahun mengalami gangguan kesehatan mental dan menyumbang 15 persen dari beban penyakit global pada kelompok usia ini. (kompas.id, 18 Juni 2026)
Kekhawatiran terhadap masa depan menjadi pemicu utama gangguan mental, dengan proporsi mencapai 60%, tekanan finansial juga menjadi faktor signifikan 57%, diikuti oleh ekspektasi sosial 42% serta perasaan tidak berdaya terhadap situasi yang berada di luar kendali 36%. (data.goodstats.id, 8 April 2026)
Dampak dari hal tersebut membuat mereka sering mengalami perubahan mood (mood swing), sulit tidur (insomnia) atau bahkan sering tidur. Selain itu, mereka pun mengalami kecemasan berlebih (anxiety) dan kesulitan untuk mengelola emosi (depresi).
Kondisi ini tentunya memerlukan perhatian khusus, baik dari lingkungan maupun pemerintah. Negara tidak boleh abai pada kondisi ini. Jangan sampai kelemahan Gen Z malah menjadikan mereka mendapatkan stigma negatif dari lingkungan sekitar. Karena sering kali Gen Z dicap sebagai generasi yang manja, pemalas dan kurang bersosialisasi. Gen Z dinilai sering merasa bosan di tempat kerja, tidak kuat terhadap tekanan, kurang konsisten dan akhirnya lebih memilih resign.
Padahal, jika diamati, dibalik kelemahannya, Gen Z memiliki kreatifitas yang tinggi, inovatif, terbuka pada perubahan dan lebih berani menyuarakan pendapat. Hal ini bisa menjadi peluang untuk mereka bangkit menuju perubahan yang lebih ideal. Karena mereka memiliki kemampuan untuk mengenali, menerima, dan mencari solusi atas masalah mental mereka sendiri. Hal ini justru menjadi kekuatan baru yang membedakan mereka dari generasi sebelumnya.
Sejatinya, penerapan Sistem Islam akan memberikan solusi bagi krisis yang melanda dunia hari ini. Penerapan Islam mendatangkan Rahmatan lil Alamin. Membawa ketenangan dan keselamatan hidup bagi manusia.
Terbukti pada karakter generasi di masa kejayaan Islam sangatlah kuat. Mereka memiliki kepribadian Islam yang kokoh dan cakap dalam berbagai bidang keilmuan. Hal ini tentunya tak lepas dari peran negara dalam meriayah (mengurus) umat, terutama generasi muda.
Negara hadir sebagai pelindung dan pelayan umat. Mendukung setiap usaha dalam mencerdaskan umat dan menguatkan aqidah umat dengan memberikan fasilitas belajar yang memadai dan menjamin pemenuhan kebutuhan hidup secara adil.
Allah Swt. Berfirmah di dalam QS. An-Nisa Ayat 9: “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya.”
Umat Islam harus menjadi umat yang kuat. Baik kuat secara aqidah, fisik, ilmu dan ekonomi, agar tidak menjadi kaum yang lemah dan tertindas.
Dari Abu Hurairah RA, beliau berkata, Rasûlullâh saw. bersabda : “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan.” (HR. Muslim)
Untuk menguatkan akidah, tentunya dibutuhkan pemahaman Islam dengan terus mengkaji Islam secara konsisten dan mendalam. Kekuatan aqidah inilah yang akan menjadi benteng pertahanan dan kekuatan jiwa dalam menjalani setiap proses kehidupan. Selain itu, mengkaji Islam dan bergabung bersama jamaah Muslim akan semakin menguatkan aqidah kita di tengah kondisi dunia yang semakin kritis karena tidak diterapkannya sistem Islam.
Dari kajian itulah kita akan memahami bahwa ideologi yang layak diakui dan diterapkan hanyalah ideologi (mabda) Islam, yang bersumber dari Allah Azza wa Jalla. Ideologi yang senantiasa akan memberikan rahmat dan keselamatan bagi seluruh alam. Bukan ideologi buatan manusia yang hanya akan membawa kerusakan dan kemudaratan yang terus berulang.
Pemuda Muslim harus senantiasa peduli terhadap kondisi umat. Bagaimana umat harus bertahan hidup di tengah krisis ekonomi, serta dari penindasan kaum elit berdasi. Pemikiran pemuda Muslim harus terbuka, bergerak aktif menyuarakan kebenaran dan mengkritik ketidakadilan, agar masa depan emas bukan lagi sebatas angan-angan.
Wallahualam bissawab.

Komentar
Posting Komentar