Ketika Pendidikan Dikotori Bisnis Para Kapitalis

 


OPINI


Oleh Nurul Bariyah

Penulis Opini Islam


MuslimahKaffahMedia.eu.org, OPINI_Libur sekolah telah usai, namun anak-anak masih asyik bermain. Kondisi sebaliknya terjadi pada para orang tua. Mereka dipusingkan dengan masalah uang dan sekolah pada saat pengambilan raport kenaikan kelas atau kelulusan. Karena sudah menjadi rahasia umum saat tahun ajaran baru, orang tua harus siap mengeluarkan uang dengan jumlah besar. Pembelian seragam, buku pelajaran, uang gedung, uang kegiatan dan lainnya. Belum lagi bagi siswa baru, mereka yang harus mencari sekolah baru. Bersaing masuk ke sekolah favorit dan siap menghadapi persyaratan yang rumit.


Persyaratan Umum SPMB 2026


Dalam pelaksanaannya, SPMB 2026 menyediakan empat jalur utama yaitu :


• Jalur domisili, berdasarkan jarak tempat tinggal dengan sekolah. Dibuktikan oleh kartu keluarga.

• Jalur afirmasi, bagi siswa dari keluarga kurang mampu atau penyandang disabilitas, dengan bukti seperti KIP, PKH, atau surat keterangan resmi.

• Jalur prestasi, dari nilai akademik dan non-akademik, seperti rapor, sertifikat lomba, hingga keaktifan organisasi.

• Jalur mutasi, untuk siswa yang mengikuti perpindahan tugas orang tua.


Fakta di lapangan menunjukkan, kesalahan teknis hingga aplikasi error kerap terjadi pada tahap pendaftaran, yang menyebabkan banyak pihak merasa dirugikan. Dari  sumber tribunjabar.id (Selasa, 30 Juni 2026) diketahui pendaftaran tahap 1 kemarin menyisakan banyak masalah. Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa  Barat mendesak Dinas Pendidikan (Disdik) Jabar untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026. Karena melihat banyaknya persoalan krusial yang muncul selama pendaftaran tahap pertama. Seperti kendala teknis, mulai dari aplikasi eror, verifikasi akun sulit, data peserta hilang, hingga perubahan nilai sepihak. 


Mirisnya, para kapitalis tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengambil keuntungan. Dunia pendidikan pun tak luput dijadikan sebagai komoditas bisnis yang menghasilkan uang. Mereka tega memanfaatkan situasi agar orang tua rela membayar mahal untuk sekolah anaknya. Praktek Jual beli 'bangku', seragam sekolah yang dimonopoli pihak sekolah dan masih banyak lagi. Sebagaimana yang terjadi di Kabupaten Semarang Valeanto Soekendro selaku sekda (sekretaris daerah) meminta pengelola sekolah negeri yang melakukan transaksi jual-beli seragam mengembalikan uang ke para orang tua. Hal ini merupakan respons dari laporan para orang tua yang keberatan atas uang seragam senilai 1,4 juta yang dianggap sangat mahal dan membebani orang tua.


Dalam hal ini pemerintah sebagai pihak yang berwenang seharusnya bertindak tegas karena sebagai raa'in (pengurus) rakyat. Pemerintah wajib melakukan pengawasan melalui wakil-wakilnya di Dinas Pendidikan agar tidak terjadi kesalahan, kecurangan ataupun politik uang di lingkungan sekolah. Serta menindak instansi terkait yang terbukti melakukan kecurangan. 


Hari ini pemerintah gagal memberikan kemudahan anak-anak untuk sekolah. Alih-alih sekolah gratis, bermutu dan merata, nyatanya biaya sekolah mahal, kualitas pendidikan juga biasa saja. Bahkan di pedalaman masih banyak anak-anak yang  tidak sekolah karena tidak ada biaya. Sekolah gratis hanya angan-angan di siang bolong, jauh dari harapan. Sebagai negara yang memiliki sumber daya alam yang melimpah, harusnya kita mampu mencapai titik sejahtera itu. Lalu mengapa demikian? Ini semua akibat pengelolaan kekayaan alam yang tidak sesuai. Sumber daya alam yang seharusnya dikelola oleh negara malah diserahkan kepada swasta. Alhasil, swasta mengambil keuntungan sebesar-besarnya dengan mengeruk semua kekayaan alam. 



Pendidikan Dalam Islam


Islam memandang penting mengenai pendidikan atau menuntut ilmu, karena belajar itu adalah kewajiban bagi semua orang. Rasulullah saw. mengingatkan betapa pentingnya menuntut ilmu : 



 طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ



Artinya: "Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim." (HR. Ibnu Majah)  

HR


Dari kewajiban ini maka negara harus menyelenggarakan  pendidikan dan memastikan pendidikan merata ke seluruh pelosok negeri. Pendidikan adalah hak semua rakyat, sehingga tidak pandang bulu semua berhak mendapatkan pendidikan di sekolah. Selain itu, pendidikan terpenting yang diberikan negara adalah pendidikan agama atau tauhid. Yaitu mengenalkan anak-anak muslim kepada Sang pencipta sejak dini, membimbing agar memiliki akidah yang kuat dan keimanan yang kuat kepada Allah Swt.. 



Dalam Islam, negara tidak lepas tanggung jawab dalam urusan yang menyangkut kebutuhan dan hak rakyat. Karena pemimpin negara adalah pelayan rakyat, mengurusi kebutuhan rakyat termasuk pendidikan. Sebagaimana hadis Rasulullah saw. :



قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:

«سَيِّدُ الْقَوْمِ خَادِمُهُمْ»

(رواه أبو نعيم في الحلية




"Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.” (HR. Abu Nu‘aim dalam Hilyat al-Awliyā’)


Makna hadis ini menegaskan bahwa kedudukan pemimpin sebagai orang yang melayani rakyat. 


Dalam Islam, pendidikan gratis, tidak dipungut biaya sedikit pun. Sekalipun bayar tidak akan membuat rakyat terbebani karena biayanya murah. Pendidikan Islam dikelola dengan baik di bawah peraturan Khalifah yang berkuasa dan sesuai dengan kebijakan yang berlaku saat itu. Hal ini diwujudkan melalui pembiayaan baitulmal yang terkelola dengan baik, sehingga sekolah gratis dapat diraih. 


Di masa kekhalifahan Umar bin khatab selain pendidikan formal, juga diterapkan pendidikan ekstrakulikuler seperti memanah, bergulat, berenang dan menunggang kuda. Dengan tujuan untuk melatih masyarakat pada bidang kemiliteran (pasukan keamanan) negara. 


Selain sebagai Khalifah, Umar bin Khattab adalah seorang pendidik yang juga melakukan penyuluhan pendidikan di kota Madinah. Beliau menunjuk guru-guru yang berkualitas di setiap wilayah yang ditaklukkannya untuk bertugas mengajarkan isi Al-Qur’an seperti membaca, menulis, menghafal, dan memahami isi dari Al-Qur’an, ilmu hadis, bahasa Arab dan lainnya untuk penduduk yang baru memeluk Islam.


Demikianlah pendidikan dalam Islam yang dengan itu diharapkan terlahir pelajar-pelajar yang bertakwa, berpikiran dan berkepribadian Islami, memiliki ilmu pengetahuan dan keahlian yang baik di bidangnya masing-masing. Sehingga mereka menjadi pemimpin-pemimpin masa depan yang cerdas, berpikiran cemerlang, tangguh dan memiliki iman yang kuat.

Wallahualam bissawab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic

Retak yang Masih Mengikat

Kasus Pagar Laut, Bukti Penguasa Tunduk Kepada Pengusaha