Dilema Gen Z: Antara Masa Depan dan Beban Finansial
OPINI
Oleh Tatiana Riardiyati Sophia
Aktivis Muslimah
MuslimahKaffahMedia.eu.org, OPINI-Sebagian Generasi Z saat ini telah memasuki dunia kerja, baik formal maupun informal. Namun, di antara mereka yang beruntung mendapatkan pekerjaan, 48 persen justru merasa tidak aman secara finansial. Hal ini disebabkan penghasilan yang tidak sebanding dengan pengeluaran untuk mencukupi kehidupan sehari-hari. Di antaranya kebutuhan sewa rumah, bayar tagihan listrik, air, dan kebutuhan bulanan lainnya.
Selain memenuhi keperluan harian, ada fenomena yang muncul di kalangan Gen Z, yaitu self reward, menikmati hidup dengan healing ke tempat-tempat yang mereka sukai ataupun membeli barang-barang atau makanan yang sedang viral. Aktivitas ini diklaim sekadar untuk menghilangkan stres dan bentuk penghargaan diri sendiri atas kerja keras dalam bekerja.
Bagi sebagian orang, apalagi lintas generasi, self reward dianggap pemborosan. Namun, Senior Clinical Psychologist dan Direktur Personal Growth, Ratih Ibrahim, mengatakan bahwa kebiasaan memberi penghargaan kepada diri sendiri setelah bekerja keras itu sehat, bisa meningkatkan motivasi, rasa percaya diri, dan kesejahteraan mental. Sekalipun demikian, lanjutnya, memberi hadiah pada diri sendiri harus dilakukan dengan sadar, terencana, dan sesuai dengan kemampuan keuangan, tanpa mengorbankan kebutuhan dasar dan tujuan keuangan jangka panjang. (Kompas.com, 12/08/2026)
Sementara itu, di tengah kondisi ekonomi yang kian tertekan, alokasi belanja untuk memanjakan diri ini justru meningkat. Alasannya tidak lain untuk kesenangan secara emosional. Di sinilah muncul fenomena lipstick effect, yaitu perilaku menunda membeli barang mahal di saat krisis, dan menggantinya dengan barang-barang yang harganya terjangkau, misalnya kosmetik.
Fenomena tersebut menjadi gambaran bagaimana beban finansial mempengaruhi perilaku Gen Z dalam pola konsumsinya. Sebab, mereka tumbuh di era hegemoni kapitalisme sekuler dalam kondisi ekonomi yang makin parah. Di satu sisi dituntut untuk mandiri secara finansial. Namun, di sisi lain, dihadapkan pada tekanan ekonomi yang makin mengimpit.
Kebutuhan hidup yang kian tinggi tidak sebanding dengan penghasilan yang minimalis. Hal yang demikian berlaku bagi Gen Z pekerja. Bagaimana dengan mereka yang sampai hari ini masih menganggur? Alih-alih membayangkan memiliki hunian dan kendaraan yang layak, kebanyakan mereka masih ditopang secara ekonomi oleh keluarga karena belum mandiri secara finansial.
Lapangan kerja yang bertambah sempit memaksa anak-anak muda ini berjuang sendiri mengatasi kesulitannya. Adapun negara berlepas tangan dalam memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya. Padahal, menyediakan lowongan pekerjaan yang layak seharusnya menjadi tanggung jawab penguasa. Karena merekalah pemilik kebijakan di negeri ini.
Sayangnya, di tengah ketiadaan jaminan hidup dari negara, dan saat beban finansial yang terasa kian berat, sebagian gen z jangankan menabung atau mencari pekerjaan sampingan untuk menambah penghasilan. Mereka bahkan terjerumus dalam kehidupan hedonis sebagai pelarian. Belum lagi, tren yang tengah viral di media sosial menjadikan godaan tersendiri bagi anak-anak muda ini.
Selain itu, Gen Z yang lahir di era digital cenderung menilai eksistensi dirinya melalui validasi media sosial. Tidak sedikit dari mereka yang akhirnya terjebak dalam FOMO (Fear Of Missing Out) atau rasa takut ketinggalan tren. Standar hidup pun berubah kepada pembanding yang tidak realistis. Hal ini memicu perilaku belanja impulsif, yang pada ujungnya menjerat mereka ke dalam pinjaman online maupun paylater.
Budaya hidup yang demikian itu akibat penerapan sekularisme liberal yang melahirkan generasi tidak paham ajaran agamanya. Di sinilah letak krisisnya. Ketika generasi muda tidak lagi memahami tujuan hidup, dan meletakkan standar kebahagiaan kepada kenikmatan materi semata.
Padahal Allah Swt. telah menyatakan tujuan penciptaan manusia dalam Surah Az Zariyat ayat 56 yang artinya:
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."
Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Allah Swt. menciptakan manusia semata-mata untuk beribadah kepada-Nya. Oleh karenanya setiap muslim mestilah meletakkan standar perilaku dan kebahagiaannya kepada rida Allah Swt. saja. Bukan bersandar pada kepuasan dunia yang semu.
Namun, kesalihan yang demikian tidak dapat lahir dari individu semata. Akan tetapi, harus didukung oleh lingkungan sosial dan negara yang menerapkan hal serupa. Generasi yang menempatkan kemuliaan Islam pada posisi terdepan niscaya hadir dari penerapan syariat Islam secara kafah.
Sementara itu, berbagai aturan Islam yang sempurna hanya dapat diterapkan oleh negara Khilafah. Penguasanya berperan sebagai raa'in (pengurus) yang akan menjamin seluruh kebutuhan rakyat. Khalifah memastikan seluruh laki-laki dewasa memperoleh pekerjaan yang layak dengan cara membuka lapangan kerja seluas-luasnya. Caranya dengan mengelola sumber daya alam secara mandiri. Kemudian, hasilnya dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk berbagai jaminan kebutuhan hidup.
Dengan demikian, seorang penanggung nafkah, termasuk para Gen Z, dapat mencukupi kebutuhan keluarganya dengan baik. Bukan hanya makanan dan pakaian, namun termasuk tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, dan keamanan.
Oleh karena itu, tidak akan ada rakyat yang berjuang sendiri dalam memenuhi keperluannya. Sebab, semua itu sudah menjadi tanggung jawab negara.
Di samping itu, negara juga bertanggung jawab untuk membentengi rakyatnya dari paparan ideologi lain di luar Islam. Konten-konten media sosial akan diawasi. Penyebaran informasi terutama melalui media digital yang mengandung pemikiran sekularisme kapitalisme beserta turunannya ditolak. Islam menutup pintu terhadap segala yang dapat merusak akidah dan kepribadian generasinya.
Media di dalam Islam lebih diarahkan untuk menguatkan keimanan, ketakwaan serta membentuk pola pikir dan pola sikap Islami. Sehingga, setiap generasi memahami hakikat kehidupan dan meletakkan standar kebahagiaan hidup semata-mata meraih rida Allah Swt. bukan yang lain. Selain itu, umat akan sadar bahwa setiap aktivitas yang dilakukannya harus sesuai dengan kaidah benar salah, halal haram, serta terpuji dan tercela yang telah ditetapkan syariat.
Dengan demikian, membangun paradigma yang benar tentang hakikat hidup dan tujuan penciptaan manusia hanya dapat dilakukan oleh negara yang berideologi Islam. Sebab, amanah sebagai pengurus rakyat bukan hanya sebatas memenuhi kebutuhan rakyat secara fisik. Namun juga tanggung jawab mengokohkan akidah umat. Sehingga melahirkan generasi yang bervisi misi menjadi tonggak pembangunan peradaban Islam kembali.
Wallahualam bissawab.

Komentar
Posting Komentar