Gen Z: Gaji Tak Cukup, Bahagia Pun Harus Dibeli


OPINI


Oleh Fadia Nur Amalia

Aktivis Muslimah 


Muslimahkaffahmedia.eu.org-Ada masa ketika anak muda bekerja untuk menata masa depan. Menabung, membeli rumah, membantu keluarga, lalu menikmati hasil kerja dengan tenang. Kini, sebagian Gen Z justru harus bekerja sambil bertanya-tanya apakah penghasilannya cukup untuk melewati bulan berikutnya. Ketika tekanan finansial semakin berat, self-reward dan healing pun muncul sebagai cara untuk menghibur diri. Masalahnya, kalau dompet sedang sesak tetapi hati terus dipaksa mencari kesenangan, sebenarnya kita sedang mencari bahagia atau sekadar melarikan diri?


Lebih dari 48 persen Gen Z menyatakan tidak merasa aman secara finansial. Di tengah kondisi tersebut, pengeluaran untuk self-reward, healing, dan gaya hidup justru tetap menjadi bagian dari pola konsumsi karena dianggap sebagai kebutuhan emosional, bukan sekadar kemewahan. Fenomena ini menunjukkan adanya tekanan yang cukup berat di kalangan generasi muda, ketika kebutuhan untuk merasa bahagia harus berjalan beriringan dengan kebutuhan untuk bertahan secara finansial. (Kompas.com, 12/08/2026)


Kita tentu tidak bisa langsung menyalahkan anak muda yang sesekali ingin membeli makanan kesukaan, jalan-jalan, menonton konser, atau membeli barang yang sudah lama diinginkan. Setelah bekerja keras, menikmati hasil kerja adalah hal yang wajar. Persoalannya muncul ketika self-reward berubah menjadi pelarian utama setiap kali merasa lelah, sedih, atau tertekan. Akhirnya, setiap masalah terasa memiliki satu jawaban yang sama, “Ya sudah, healing dulu.”


Masalahnya, rasa senang dari konsumsi biasanya hanya berlangsung sementara. Barang baru bisa membuat hati berbunga-bunga hari ini, tetapi tagihan tetap datang bulan depan. Liburan mungkin membuat pikiran lebih ringan selama beberapa hari, tetapi tekanan hidup tidak otomatis menghilang setelah koper kembali masuk lemari. Jika pola tersebut terus berulang, seseorang bisa terjebak dalam lingkaran lelah, belanja, senang sebentar, menyesal, lalu kembali lelah.


Kondisi ini tidak muncul begitu saja. Gen Z hidup dalam situasi ekonomi yang tidak mudah, ketika biaya kebutuhan terus meningkat sementara penghasilan tidak selalu bergerak sebanding. Kesempatan memperoleh pekerjaan yang layak juga tidak selalu mudah, terutama bagi generasi muda yang baru memasuki dunia kerja. Negara yang seharusnya memastikan kebutuhan dasar rakyat terpenuhi justru cenderung menyerahkan banyak persoalan ekonomi kepada mekanisme pasar.


Tekanan tersebut kemudian bertemu dengan budaya digital yang tidak pernah berhenti menawarkan sesuatu untuk dibeli. Buka media sosial, ada teman yang liburan. Geser lagi, muncul orang yang membeli barang terbaru. Lihat beberapa menit kemudian, muncul tren baru yang membuat kita merasa ketinggalan jika tidak ikut memilikinya. Tanpa sadar, muncul FOMO atau rasa takut tertinggal yang membuat seseorang membeli bukan karena benar-benar membutuhkan, tetapi karena tidak ingin merasa berbeda dari lingkungan.


Pada akhirnya, media sosial bukan hanya menjadi tempat berbagi kehidupan, tetapi juga menjadi etalase gaya hidup. Kebahagiaan seolah-olah bisa diukur dari tempat yang dikunjungi, barang yang dipakai, makanan yang dimakan, atau seberapa sering seseorang mampu memberikan hadiah kepada dirinya sendiri. Generasi muda terus dijejali gambaran bahwa hidup yang menyenangkan adalah hidup yang banyak mengonsumsi. Ketika standar bahagia dibangun seperti itu, wajar jika dompet ikut menjadi korban.


Lebih dalam lagi, persoalan Gen Z sebenarnya bukan hanya tentang uang. Ada pertanyaan yang jauh lebih besar tentang untuk apa manusia menjalani kehidupan. Ketika tujuan hidup tidak jelas, kebahagiaan akhirnya mudah disandarkan pada sesuatu yang bisa dilihat dan dirasakan sesaat. Uang, barang, popularitas, perjalanan, dan hiburan menjadi tempat mencari rasa cukup yang sebenarnya tidak pernah benar-benar menetap.


Cara pandang seperti ini tidak bisa dilepaskan dari sekularisme dan liberalisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Agama ditempatkan sebagai urusan pribadi, sedangkan kehidupan sehari-hari diarahkan oleh keinginan, tren, dan ukuran materi. Manusia akhirnya mudah mengira bahwa semakin banyak yang dimiliki, semakin bahagia pula hidupnya. Padahal, hati manusia tidak akan pernah benar-benar tenang hanya dengan mengejar kenikmatan dunia.


Islam memberikan jawaban yang berbeda tentang hakikat kehidupan. Allah Swt. tidak menciptakan manusia hanya untuk bekerja, membeli sesuatu, menikmati hiburan, lalu mengulang siklus yang sama sampai tua. Allah Swt. berfirman,


وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ


Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)


Ayat tersebut memberikan arah yang jelas bahwa tujuan utama manusia adalah beribadah kepada Allah Swt. Kebahagiaan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada berapa banyak barang yang mampu dibeli atau tempat yang mampu dikunjungi. Seorang Muslim boleh menikmati dunia, tetapi kenikmatan tersebut tidak boleh menjadi tujuan hidup. Dunia digunakan sebagai bekal untuk mendapatkan ridha Allah dan menjalankan peran sebagai hamba-Nya.


Islam juga tidak membiarkan generasi muda berjuang sendirian menghadapi tekanan ekonomi. Negara dalam sistem Khilafah bertanggung jawab menjamin kebutuhan dasar rakyat dan menciptakan kondisi agar setiap laki-laki yang mampu bekerja mendapatkan kesempatan memperoleh pekerjaan yang layak. Pengelolaan sumber daya alam yang menjadi kepemilikan umum juga dilakukan untuk kemaslahatan rakyat, bukan diserahkan kepada segelintir pemilik modal. Dengan pengelolaan tersebut, kekayaan negara dapat digunakan untuk membiayai kebutuhan masyarakat sekaligus mengembangkan sektor-sektor yang membuka lapangan pekerjaan.


Perlindungan terhadap generasi juga tidak berhenti pada urusan ekonomi. Islam menutup jalan yang mendorong manusia tenggelam dalam gaya hidup berlebihan dan konsumtif. Media pun seharusnya tidak terus-menerus mendorong masyarakat mengejar tren, melainkan diarahkan untuk memberikan edukasi, menyebarkan informasi yang bermanfaat, serta meningkatkan ketakwaan. Generasi muda akhirnya tidak dibiarkan menghadapi derasnya arus budaya sendirian.


Gen Z tidak seharusnya dipaksa memilih antara memenuhi kebutuhan hidup atau mencari kebahagiaan. Mereka berhak mendapatkan kehidupan yang layak, pekerjaan yang manusiawi, lingkungan yang sehat, sekaligus pendidikan yang membantu mereka memahami tujuan hidup. Healing sesekali bukanlah masalah, tetapi menjadikannya pelarian dari kehidupan yang kehilangan arah tentu tidak akan menyelesaikan persoalan. Sudah saatnya generasi muda tidak hanya diajak bertanya, “Apa yang ingin aku beli setelah menerima gaji?” tetapi juga, “Untuk apa Allah memberikan aku kehidupan dan kemampuan ini?”


Tekanan ekonomi dan budaya hedonis hanyalah gejala dari persoalan yang lebih besar. Ketika negara tidak menjamin kebutuhan rakyat dan kehidupan terus diarahkan pada konsumsi, generasi muda akan semakin mudah merasa lelah, tertinggal, dan kehilangan tujuan. Islam menawarkan pandangan hidup yang menempatkan kesejahteraan manusia sekaligus ketakwaan sebagai perkara penting. Dengan menerapkan Islam secara kaffah dalam naungan Khilafah, Gen Z tidak hanya diarahkan menjadi generasi yang mampu bertahan hidup, tetapi juga generasi yang memiliki tujuan, menjaga kehormatan diri, dan membangun peradaban dengan mencari ridha Allah Swt. Wallahu a'lam bissawaab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic

Kasus Pagar Laut, Bukti Penguasa Tunduk Kepada Pengusaha

Akhir Jeda Sebuah Keteguhan