GEN Z, Kembali Ke Fitrah Untuk Bangkit

 


OPINI

Oleh Windi Permana, S.Sos.

Pendidik Generasi Idiologis 


Antara Kecemasan Finansial dan Kebutuhan Emosional


Data terkini mencatat bahwa lebih dari 48 persen Generasi Z di Indonesia mengaku tidak merasa aman secara finansial [money.kompas.com, 19/02/26]. Angka ini merepresentasikan hampir separuh populasi usia produktif muda yang masih berada dalam tahap awal membangun karier. Ketidakpastian lapangan kerja, laju inflasi, serta stagnasi pertumbuhan upah menjadi beberapa faktor struktural yang memengaruhi persepsi keamanan ekonomi di kalangan mereka. Dengan kata lain, mayoritas Gen Z menjalani hari-hari dengan kesadaran penuh bahwa kondisi dompet mereka rapuh dan sulit diprediksi.


Meskipun tekanan ekonomi terasa nyata, data perilaku konsumsi menunjukkan bahwa alokasi belanja Gen Z untuk keperluan self-reward, healing, dan gaya hidup hedonis justru mengalami peningkatan. Kenaikan ini tidak terjadi karena keinginan semata, melainkan didorong oleh persepsi bahwa pengeluaran tersebut berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan emosional. Bagi kelompok ini, biaya untuk rekreasi, perawatan diri, dan pengalaman sosial ditempatkan dalam kategori prioritas yang sejajar dengan kebutuhan psikologis dasar, bukan lagi sebagai pos pengeluaran tersier yang bisa ditunda.


Krisis Makna di Tengah Banjir Gaya Hidup


Sistem kapitalisme yang berlaku saat ini menempatkan Gen Z dalam posisi tertekan. Harga kebutuhan pokok naik setiap tahun, tetapi gaji nyaris tidak bergerak. Negara tidak benar-benar hadir untuk menjamin akses terhadap hunian, kesehatan, dan pendidikan yang layak. Akibatnya, generasi muda harus berjuang seorang diri melawan kerasnya kehidupan tanpa dukungan sistem yang memadai.


Tekanan finansial itu bertambah parah karena gaya hidup sekuler-liberal menawarkan jalan keluar yang justru menjerumuskan. Self-reward, healing, dan konsumtif dianggap sebagai obat untuk stres, padahal hanya memperparah isi dompet. Media sosial memperburuk keadaan dengan terus menyodorkan tren kekinian yang memicu FOMO [Fear of Missing Out] dan dorongan berbelanja tanpa pertimbangan matang. Konsumsi impulsif pun menjadi kebiasaan yang sulit diputus.


Namun, persoalan mendasar Gen Z bukan hanya di permukaan. Mereka kehilangan pegangan tentang apa sebenarnya tujuan hidup. Kebahagiaan dinilai dari seberapa banyak kesenangan materi yang bisa diraih, bukan dari nilai-nilai yang kekal. Mereka tidak memahami bahwa kebahagiaan sejati dalam hidup adalah meraih rida Allah dalam kemuliaan Islam. Tanpa kesadaran itu, Gen Z akan terus tenggelam dalam kecemasan ekonomi dan kepuasan semu yang tidak pernah membawa ketenangan.


Mengembalikan Makna Hidup yang Sejati


Islam melalui sistem Khilafah menawarkan solusi struktural yang berbeda dari kapitalisme. Dalam konsep politik Islam, pemimpin [imam/khalifah] berperan ganda: sebagai _raa’in_ — pengurus yang bertanggung jawab penuh atas rakyatnya sesuai sabda Nabi, "Setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." — dan sebagai junnah, yaitu perisai pelindung bagi keselamatan, kehormatan, dan agama umat dari segala ancaman. 


Negara tidak sekadar menjadi penonton, tetapi bertanggung jawab penuh atas pemenuhan kebutuhan dasar seluruh rakyat. Sumber daya alam dikelola secara adil dan optimal untuk kemaslahatan umat, bukan untuk segelintir pemodal. Setiap laki-laki yang mampu bekerja dipastikan memperoleh lapangan kerja yang layak, sehingga tidak ada seorang pun yang harus berjuang sendirian menghadapi kerasnya kehidupan. Dengan demikian, Gen Z pun tidak akan tercekik oleh biaya hidup yang melambung atau resah akan masa depan yang tidak pasti.


Di sisi lain, Islam secara tegas menutup pintu gaya hidup hedonis yang menjerumuskan generasi ke dalam konsumsi berlebihan dan pelarian semu. Sistem Khilafah melindungi umat dari paparan konten merusak yang bersumber dari sekularisme dan kapitalisme, seperti tayangan yang memicu FOMO, konsumerisme, dan budaya belanja impulsif. Media massa dalam naungan Khilafah tidak dibiarkan liar menyajikan tren-tren dangkal yang menguras harta dan pikiran. Sebaliknya, seluruh platform komunikasi diarahkan untuk menyampaikan edukasi yang membangun serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah, sehingga generasi tumbuh dalam lingkungan yang menyehatkan jiwa dan akal.


Yang paling fundamental, Islam membangun paradigma yang lurus tentang hakikat kehidupan manusia. Allah dengan tegas menyatakan dalam Al-Qur’an bahwa manusia diciptakan adalah untuk menjadi hamba Allah [QS Adz-Dzariyat: 56] dan untuk menjadi wakil Allah atau khalifatullah [QS Al-Baqarah: 30]. 


Pemahaman ini mengubah seluruh orientasi hidup Gen Z, dari sekadar mengejar kepuasan materi menjadi mengabdi kepada Sang Pencipta dalam setiap aspek kehidupannya. Dengan akidah yang kokoh, generasi muda tidak lagi bingung mencari tujuan hidup yang semu. Mereka memiliki visi besar sebagai pembangun peradaban Islam, yang bekerja untuk kemuliaan agama, bukan untuk gengsi sosial atau akumulasi harta yang sia-sia. Inilah kebahagiaan hakiki yang tidak pernah bisa diberikan oleh sistem mana pun, baik kapitalisme maupun sosialisme.


Sudah saatnya Gen Z berhenti berlari dalam lingkaran kecemasan yang diciptakan kapitalisme. Islam adalah jalan keluar yang nyata. Mari pelajari, pahami, dan terapkan sistem-Nya dalam kehidupan kita. Kembalikan tujuan hidup pada ibadah, bukan pada gaya hidup sesaat. Hanya dengan Islam, generasi ini akan menemukan ketenangan hakiki dan masa depan yang gemilang. 


_Wallahu a’lam bishawab._

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic

Kasus Pagar Laut, Bukti Penguasa Tunduk Kepada Pengusaha

Akhir Jeda Sebuah Keteguhan