GEN Z TERIMPIT: ANTARA TEKANAN EKONOMI, GAYA HIDUP, DAN KRISIS TUJUAN HIDUP
OPINI
Oleh Meylani Husnia dan Afiyah Rasyad
Aktivis Peduli Umat
"Berikan aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia."
Pernyataan menggugah di atas diserukan oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno. Tentu kata-kata tersebut bukan jargon tak berdasar. Potensi generasi muda begitu dahsyat. Kekuatan fisik, daya ingat, dan semangat yang bergelora ada pada pemuda. Sayang seribu sayang, hidup generasi saat ini, terutama Generasi Z, begitu dilematis. Permasalahan bertumpuk tiada tepi. Mereka banyak yang merelakan diri berada dalam pusaran gaya hidup kekinian hingga lupa akan jati dirinya.
Dilema Gen Z
Sederet fakta memprihatinkan yang menimpa Gen Z tak jauh dari impitan atau tekanan finansial, gaya hidup hedonis, hingga krisis tujuan hidup. Antrean pencari loker yang mengular sudah menjadi pemandangan biasa, dan sebagian besar pencari kerja tersebut berasal dari kalangan Gen Z. Dilema tidak berhenti di situ. Di antara mereka ada yang menjadi generasi sandwich. Hal ini kian memperparah tekanan finansial yang sudah babak belur karena biaya hidup kian melambung tidak masuk akal.
Sebanyak 48% Generasi Z dan 46% Milenial merasa tidak aman secara finansial. Data ini bersumber dari Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey, yang menunjukkan bahwa kecemasan ekonomi dan biaya hidup tinggi menjadi tantangan utama bagi anak muda saat ini [deloitte.com, 14/5/2025].
Self-reward dan self-healing turut memeriahkan penderitaan Gen Z yang salah kaprah dalam memahami hakikat hidupnya. Belum lagi, hedonisme terus mengintai dan mencari celah agar Gen Z berada dalam pusaran gaya hidup kapitalisme. _Self-reward_ dianggap sebagai penghargaan atas pencapaian diri setelah bekerja selama sebulan. Begitu tanggal gajian tiba dan mendapat notifikasi di gawai, dengan sigap mereka menunaikan kewajiban seperti membayar uang sewa hunian, membayar TDL, Wi-Fi, dan lain-lain. Setelah kewajiban itu tuntas, mereka akan berselancar di berbagai _marketplace_ yang keranjangnya telah terisi barang-barang idaman. Kadang mereka mencoba kuliner terbaru, kadang menonton di bioskop, atau konser yang telah direncanakan.
Fakta seperti itu kini menjadi hal yang lumrah. Di media sosial, kebiasaan tersebut dikenal dengan berbagai istilah, mulai dari self-reward, little treat, hingga healing tipis-tipis. Bagi sebagian orang, pengeluaran itu dianggap sebagai bentuk pemborosan. Namun, bagi banyak Gen Z, membeli sesuatu setelah menerima gaji merupakan cara sederhana untuk memberi penghargaan kepada diri sendiri setelah bekerja selama sebulan penuh [Kompas.com, 12/8/2026].
Akar Masalah
Fenomena kecemasan finansial kini tengah melanda generasi muda secara global dan nasional. Berdasarkan data Deloitte, Generasi Z secara terbuka menyatakan tidak merasa aman secara finansial akibat impitan ekonomi yang kian menyulitkan. Menariknya, di tengah stagnasi pendapatan, alokasi belanja Gen Z untuk aktivitas self reward, healing, dan gaya hidup justru terus melonjak.
Pengamat sosial dan kemasyarakatan menilai fenomena ini bukan sekadar pemborosan biasa, melainkan sebuah pelarian emosional yang dianggap sebagai kebutuhan mendasar bagi generasi yang sedang stres. Impitan ekonomi yang menimpa Gen Z, bahkan generasi lain, tentu bukan tanpa sebab. Menurut analisis para ahli, akar masalah dari fenomena ini adalah sistem kapitalis, di antaranya:
Pertama, biaya hidup terus melambung tinggi sementara gaji buruh dan pekerja mandek. Gen Z babak belur dengan berbagai tarif (pajak, listrik, air, dan lain-lain) yang meningkat. Sementara itu, harga kebutuhan hidup ikut meroket tanpa kendali.
Kedua, gaya hidup bebas. Kapitalisme menyihir para generasi Muslim, termasuk Gen Z, dengan serangan budaya dan pemikiran. Ghazwul fikri (perang pemikiran) juga berkobar di tengah peliknya gaya hidup bebas. Kapitalisme menuntun tiap individu untuk bersenang-senang. Pandangan kebahagiaan dalam kapitalisme adalah berlimpahnya materi. Serangan 4F (fun, food, fashion, and film) bergema di tengah dompet yang tengah meronta. Serangan 3S (sport, song, sex) terus berdenting meski cash in mengering.
Kapitalisme menyihir kaum Muslim, termasuk Gen Z, dengan gaya hidup glamor, sebatas having fun, dan cenderung konsumtif (tidak bisa membedakan need dan want). Serangan budaya, pemikiran, dan tsaqafah tidak lepas dari media, baik elektronik maupun cetak, terlebih dengan menjamurnya media sosial dan berbagai aplikasi yang cenderung merusak.
Tekanan ekonomi struktural tersebut kian runyam ketika berbenturan dengan nilai-nilai sekuler-liberal yang masif dikampanyekan lewat media sosial. Media digital terus-menerus mencekoki pikiran anak muda dengan tren populer yang memicu sindrom FOMO (Fear of Missing Out) dan budaya belanja impulsif.
Akibatnya, self-reward dan konsumsi hedonis dianggap sebagai satu-satunya "solusi" instan untuk melepas penat. Hal ini mencerminkan adanya krisis tujuan hidup yang sangat dalam di kalangan Gen Z. Ketika standar kebahagiaan hanya diukur dari kenikmatan materi sesaat, esensi kemuliaan hidup yang sejati menjadi kabur bahkan lenyap.
Ketiga, absennya peran negara dalam menjamin kebutuhan dasar publik. Pendidikan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan jelas tidak mencetak generasi cerdas nan beradab. Pendidikan ala kapitalisme membuat Gen Z jauh dari kosakata cerdas finansial. Selain itu, negara juga mengibarkan sistem ekonomi kapitalis. Negara berlepas tangan dari tanggung jawabnya sebagai pelayan rakyat. Negara abai dalam memenuhi lapangan pekerjaan. Generasi muda dipaksa berjuang sendiri demi bertahan hidup. Belum lagi mekanisme pasar yang amburadul menambah impitan ekonomi dan kesenjangan sosial. Lebih dari itu, kapitalisme menceraikan tanggung jawab negara dalam perkara pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Kompleks sekali dilema yang dihadapi rakyat, terutama Gen Z.
Lebih jauh, sistem kapitalis berhasil menancapkan hegemoninya di benak manusia, khususnya generasi Muslim. Akidah sekuler, yakni pemisahan agama dari kehidupan dan negara, sukses merusak naluri tadayun Gen Z sehingga melemahkan keimanan di dada. Dalam paradigma kapitalis, dunia dan seisinya dipandang dari sudut untung-rugi.
Mekanisme Sahih Membebaskan Gen Z dari Persoalan Hidup
Berharap pada sistem kapitalisme untuk melenyapkan persoalan Gen Z sangat tidak mungkin. Maka, merekonstruksi tatanan kehidupan adalah sebuah keharusan. Saatnya negara menjalankan tatanan kehidupan berbasis nilai-nilai Islam.
Islam bukan semata agama, tetapi juga ideologi, sebuah sistem yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Dalam Islam, kepala negara adalah penanggung jawab, pelayan, dan pemelihara urusan rakyat yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Sabda Nabi saw., "Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas pihak yang dipimpinnya." [HR Bukhari dan Muslim]
Sistem Islam menawarkan penyelesaian mendasar melalui peran negara, yakni Khilafah, yang wajib menjamin seluruh kebutuhan dasar rakyatnya secara mutlak. Khalifah wajib memelihara urusan rakyat dengan amanah. Adapun mekanisme Islam dalam menyelesaikan impitan ekonomi Gen Z antara lain:
Pertama, Sistem Pendidikan Islam. Negara akan memberikan pendidikan yang komprehensif berlandaskan akidah Islam. Di lingkungan keluarga, negara akan mengingatkan peran orang tua untuk memberikan hadhanah kepada anaknya dengan pendidikan berbasis akidah Islam sejak dalam kandungan. Di lingkungan masyarakat luas, negara akan mendirikan sekolah dan perguruan tinggi untuk memenuhi kebutuhan dasar pendidikan rakyat.
Negara juga akan memberikan pembinaan intensif bagi ilmuwan, peneliti, dan rakyat secara luas. Negara membiayai seluruh kebutuhan proses pendidikan secara adil dan merata. Gen Z akan memiliki tsaqafah Islam yang mumpuni, akidah yang kuat, serta syakhsiyah Islam (pola pikir dan pola sikap terikat dengan Islam). Dengan demikian, Gen Z terjaga suasana keimanannya, cerdas finansial (paham mana need dan want), serta tidak mudah terbawa arus dan terjebak FOMO.
Kedua, negara akan menegakkan Sistem Ekonomi Islam. Khalifah sepenuhnya mengontrol tiap kepala rumah tangga (laki-laki) untuk menanggung nafkah anggota keluarganya. Apabila penanggung nafkah tidak memiliki pekerjaan, negara akan membantu memberikan modal usaha, baik dagang maupun bertani, sesuai kemampuan rakyatnya. Selain itu, khalifah akan membuka lapangan pekerjaan melalui pengelolaan Sumber Daya Alam yang mandiri. Negara akan mampu menyediakan lapangan kerja layak bagi setiap laki-laki, sehingga Gen Z tidak lagi dibiarkan berjuang sendirian di tengah badai ekonomi yang dahsyat. Selain itu, negara akan menciptakan suasana pasar yang kondusif dengan terus mengontrol kehidupan pasar. Khalifah harus memastikan, lewat _qadhi hisbah_ atau petugas khusus pasar, bahwa di sana tidak ada kecurangan, penimbunan, ataupun pematokan harga.
Ketiga, Khalifah akan menutup celah serangan budaya dan pemikiran kafir masuk ke dalam kekhilafahan. Islam secara tegas menutup pintu bagi gaya hidup hedonis dan melindungi generasi muda dari paparan konten destruktif sekularisme-kapitalisme. Seluruh kanal media massa akan diarahkan untuk fungsi edukasi dan syiar Islam guna meningkatkan ketakwaan rakyat. Dengan membangun kembali paradigma hidup yang benar — bahwa hakikat penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah Swt. — generasi muda akan memiliki akidah kokoh serta visi besar sebagai pembangun peradaban mulia.
Keempat, negara akan memberikan sanksi tegas bagi setiap pelaku kemaksiatan. Bagi laki-laki yang mampu, tetapi malas memenuhi nafkah keluarganya, akan diberikan sanksi sesuai pandangan khalifah. Sebagaimana Khalifah kedua, Umar bin Khattab, yang menegur dan memberikan sanksi tegas berupa pengusiran dari masjid kepada sekelompok pemuda yang bermalas-malasan di dalam masjid sepanjang hari dengan dalih bertawakal padahal mengabaikan ikhtiar mencari nafkah.
Sanksi tegas dan adil juga akan diberikan kepada para pelaku kecurangan, penimbunan, atau penimbun harga di pasar sesuai pandangan _qadhi_ atau khalifah secara syar'i. Negara juga akan menegakkan sanksi tegas ketika ada yang menyimpang dalam perkara media, seperti judi _online_ atau pinjaman _online_ dengan riba, sekalipun itu akun pribadi. Sehingga Gen Z akan berpikir seribu kali untuk lalai, apalagi sengaja melakukan kemaksiatan.
Demikianlah mekanisme Islam dalam menuntaskan persoalan hidup, termasuk persoalan Gen Z. Maka dari itu, sudah sepantasnya penguasa Muslim melakukan perubahan fundamental dalam tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Sebab, Allah Swt. juga sudah menegaskan dalam firman-Nya, "Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?" [QS Al-Maidah: 50]
_Wallahu a’lam bishawab._

Komentar
Posting Komentar