GEN Z Terimpit di Usia 81 Tahun RI



OPINI

Oleh Qitfirul Azizah

Pencerah Ideologis


Ironi di Hari Kemerdekaan

81 tahun Indonesia merdeka. Bendera Merah Putih berkibar di setiap sudut negeri. Upacara khidmat digelar. Pidato tentang "Visi Indonesia Emas 2045" dan "bonus demografi" kembali menggema.  Namun, di balik gegap gempita seremonial itu, ada suara lirih yang jarang didengar, yakni suara Gen Z.


Generasi yang lahir antara 1997-2012 ini disebut-sebut sebagai penentu masa depan bangsa. Akan tetapi data terbaru justru menunjukkan potret suram. Survei Deloitte 2026 mencatat lebih dari 48% Gen Z menyatakan tidak merasa aman secara finansial. Kompas Money pada 12 Agustus 2026 juga menyorot fenomena paradoks: di tengah tekanan ekonomi, alokasi belanja Gen Z untuk self-reward, healing, dan gaya hidup justru meningkat.


Gaji pas-pasan, harga kos, BBM, dan kebutuhan pokok terus naik. Mimpi memiliki rumah dan menikah kian jauh dari jangkauan. Di tengah kondisi itu, negara seolah berbisik, "Silakan berjuang sendiri."


Ini paradoks kemerdekaan. Di usia 81 tahun, justru generasi penerus bangsa merasa paling tidak merdeka. Tidak merdeka dari impitan ekonomi. Tidak merdeka dari jeratan FOMO [Fear of Missing Out]. Bahkan, yang paling berbahaya adalah tidak merdeka dari krisis tujuan hidup.


Berdasarkan hal itu, jika ditelaah secara mendalam sebenarnya ada 3 akar permasalahan yang melatarbelakangi kondisi ini. 


Akar Pertama: Sistem Ekonomi Kapitalisme yang Mengimpit


Akar pertama dari krisis Gen Z adalah sistem ekonomi kapitalis. Dalam sistem ini, negara diposisikan hanya sebagai regulator, bukan penanggung jawab urusan rakyat.


Konsekuensinya bisa kita lihat hari ini. Biaya pendidikan, kesehatan, dan perumahan melambung setiap tahun. Sementara upah riil stagnan selama satu dekade terakhir. Status pekerja kontrak, alih daya, dan "pekerja lepas daring" menjadi norma baru.


Negara abai dalam mengelola sumber daya alam. Padahal SDA seperti tambang, minyak, gas, dan hutan harusnya dikelola negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Faktanya, banyak yang diserahkan pada swasta dan asing atas nama investasi dan pertumbuhan ekonomi.


Apa akibatnya pada Gen Z? Mereka dipaksa menjadi "pekerja multitasking". Pagi kerja kantoran, sore jualan daring, malam jadi pencipta konten. Itu bukan karena cita-cita mereka, tetapi karena takut tidak bisa makan besok hari. Lebih miris lagi, karena takut tidak sesuai "standar" pergaulan: tidak punya gawai terbaru, tidak bisa nongkrong di kafe estetik, termasuk tidak bisa healing ke Bali.


Kapitalisme menciptakan kompetisi tanpa henti. Yang kuat bertahan, sedangkan yang lemah tersisih. Negara lepas tangan. Padahal dalam Islam, negara wajib menjamin kebutuhan pokok setiap individu rakyat, seperti: pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Bukan menyuruh rakyat "bertahan hidup sendiri".


Akar Kedua: Budaya Sekuler-Liberal yang Menawarkam Pelarian


Ketika tekanan ekonomi memuncak, sistem tidak menawarkan solusi. Ia menawarkan pelarian. Selanjutnya lahirlah industri "self-reward" dan "healing" yang dipromosikan masif oleh korporasi dan influencer.


Budaya sekuler-liberal telah berhasil memisahkan agama dari kehidupan. Agama hanya ada di masjid. Sedangkan di ruang publik, tolok ukur kebahagiaan digeser, dari ketenangan jiwa karena taat menjadi kenikmatan materi sesaat.


Media sosial menjadi corong utama. Algoritma TikTok, Instagram, dan YouTube terus mencekoki Gen Z dengan 3 hal, yakni gaya hidup hedonis, FOMO, dan konsumerisme. Kafe estetik, pakaian bermerek, liburan ke luar negeri, dan gawai terbaru. Semua dibungkus dalam narasi "kamu berhak bahagia" dan "produktif tapi tetap foya".


FOMO - Fear of Missing Out - menjadi bahan bakar. Takut tertinggal. Takut tidak dianggap sukses. Takut tidak "selevel" dengan teman.


Ironisnya, pelarian ini justru menambah masalah baru, di antaranya: utang pinjaman daring, stres finansial, dan rasa bersalah. Kapitalisme menciptakan luka psikologis, lalu menjual obatnya dalam bentuk produk dan jasa. Gen Z terjebak dalam lingkaran setan, berupa kerja keras untuk membayar gaya hidup, lalu butuh _healing_ karena stres kerja.


Akar Ketiga: Krisis Tujuan Hidup dan Kosongnya Kompas Peradaban


Dari semua impitan di atas, ini yang paling fundamental, yakni krisis makna.


Karena sekuler, Gen Z tidak pernah diajarkan menjawab 3 pertanyaan mendasar: "Aku berasal dari mana, untuk apa aku hidup, dan akan ke mana setelah mati?"


Tanpa jawaban atas pertanyaan itu, tolok ukur hidup menjadi sangat dangkal. Bahagia, manakala gaji besar. Sukses, saat bisa liburan ke luar negeri. Tenang jika banyak pengikut dan tanda suka.


Hasilnya bisa kita lihat: tingkat kelelahan kerja, kecemasan, dan depresi pada Gen Z tertinggi dalam sejarah. Banyak yang "sukses" secara materi tetapi merasa hampa. Sudah healing, tetapi tetap kosong.


Allah Swt. telah mengingatkan 1.400 tahun lalu: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." [QS Adz-Dzariyat: 56]


Ketika ayat ini dicampakkan dari sistem pendidikan dan ruang publik, maka lahirlah generasi yang secara fisik produktif, tetapi secara ruhiah mati. Mereka tidak punya visi besar selain "bertahan hidup" dan "menikmati hidup".


Solusinya Adalah Kontruksi Islam Sebagai Jawaban Tuntas


Keluar dari krisis ini tidak bisa dengan seminar motivasi 2 jam atau kiat "menabung 50-30-20". Namun, diperlukan perubahan sistemik berbasis akidah Islam.

Pertama: Negara Harus Hadir Menjamin Urusan Rakyat

Dalam Islam, negara adalah raa’in, pengurus urusan rakyat. Kewajiban utama negara adalah menjamin kebutuhan pokok rakyatnya.


Bagaimana caranya? Melalui pengelolaan SDA secara mandiri oleh negara. Sebagaimana sabda Nabi saw.: "Kaum muslim berserikat dalam 3 hal: air, padang rumput, dan api." [HR Abu Dawud]. Artinya, SDA yang merupakan kebutuhan dasar umat tidak boleh dikuasai individu atau asing. Hasilnya harus dikembalikan untuk pos anggaran jaminan sosial, pendidikan gratis, kesehatan gratis, dan penciptaan lapangan kerja.


Negara juga wajib membuka lapangan kerja seluas-luasnya, terutama bagi laki-laki sebagai penanggung nafkah. Adapun perempuan, Islam memuliakannya di rumah sebagai madrasah pertama. Ia boleh bekerja pada bidang-bidang yang sesuai fitrah dan tidak melanggar syariat, seperti dokter, guru, atau perawat. Dengan demikian tidak ada lagi perempuan yang terpaksa menjual "bakatnya" di ruang publik yang rawan tabaruj, ikhtilat, dan khalwat. Dengan sistem ini, Gen Z tidak lagi berjuang sendirian. Inilah kemerdekaan ekonomi yang sejati.


Kedua: Menutup Pintu Kerusakan dan Mengarahkan Media 

Negara dalam Islam memiliki fungsi ri’ayah, menjaga umat dari kerusakan. Negara wajib menutup pintu hedonisme, sekularisme, dan konten merusak dari ruang publik.


Media tidak dibiarkan menjadi mesin penjual FOMO. Media berada di bawah naungan negara dan difungsikan sebagai alat mencerdaskan umat, berdakwah, dan meningkatkan ketakwaan. Tontonan yang merusak akhlak dan memicu konsumerisme harus dihentikan. Generasi butuh tayangan yang menguatkan, bukan yang membuat resah.


Ketiga: Meluruskan Paradigma Hidup Berbasis Akidah  

Solusi paling mendasar adalah mengembalikan kompas hidup. Pendidikan berbasis akidah Islam wajib diterapkan. Sejak kecil, anak diajarkan bahwa tujuan hidupnya adalah beribadah kepada Allah Swt. dan membangun peradaban Islam.


Ketika tujuan hidup jelas, maka tekanan ekonomi tidak akan melumpuhkannya. Self healing berjuang. Dengan akidah yang kokoh, Gen Z akan memiliki visi: bukan sekadar "bertahan", tetapi menjadi khalifah di muka bumi yang siap membangun peradaban.


Memaknau Merdeka yang Sejati

Peringatan 17 Agustus harus melampaui seremonial. Ia harus menjadi momentum muhasabah nasional.


Merdeka bukan hanya bebas dari penjajahan fisik 350 tahun lalu. Merdeka yang sejati adalah ketika rakyatnya terjamin kebutuhannya, akalnya terpelihara dari pemikiran rusak, dan hidupnya memiliki arah yang jelas.


Gen Z tidak butuh jargon kosong "generasi emas". Gen Z butuh sistem yang menanggung urusannya dan ideologi yang mengarahkan.


Jika kita terus membiarkan generasi ini tumbuh dalam impitan sistem kapitalis-sekuler yang zalim dan kehampaan makna, maka "bonus demografi" hanya akan menjadi "bom waktu demografi".


Sudah saatnya kita berani menawarkan alternatif. Alternatif yang tidak hanya menambal, tetapi mencabut akar masalahnya.


Sejatinya, Indonesia akan benar-benar merdeka, jika dan hanya jika generasi mudanya merdeka, merdeka secara ekonomi, merdeka secara pemikiran, dan merdeka dalam tujuan hidupnya. Realitanya, kemerdekaan itu hanya bisa diwujudkan dalam naungan sistem Islam secara kaffah.


Wallahu a’lam bishawab.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic

Kasus Pagar Laut, Bukti Penguasa Tunduk Kepada Pengusaha

Akhir Jeda Sebuah Keteguhan