Islam Menjawab Galaunya Gen Z di Masa Depan
OPINI
Oleh Venni Hartiyah
Pegiat Literasi
Muslimahkaffahmedia.eu.org-Pada saat gemuruhnya ombak perang dunia, kacaunya antrian bensin, serta di kerumunan kegalauan harga-harga barang yang melonjak tajam. Belum lagi mahalnya biaya kesehatan, serta biaya pendidikan yang menguras kantong, membuat rakyat makin kelimpungan. Hampir seluruh rakyat bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Tekanan ekonomi, tuntutan kelulusan serta prestasi pendidikan yang tinggi, tetapi sedikitnya lapangan kerja. Hal ini membuat masyarakat umumnya dan Gen Z pada khususnya membayangkan suramnya masa depan mereka.
Dilansir dari Kompas.com (12-08-26) Ketika tanggal gajian tiba, sebagian pekerja muda langsung membuka aplikasi mobile banking untuk membayar sewa tempat tinggal, tagihan listrik, atau kebutuhan bulanan lain yang tak bisa ditunda. Setelah kewajiban itu selesai, sebagian lainnya membuka keranjang belanja daring yang sudah diisi sejak beberapa hari sebelumnya. Ada yang membeli lipstik, memesan kopi atau matcha, mencoba restoran yang sedang ramai diperbincangkan, menonton film di bioskop, sampai berburu tiket konser.
Hal seperti itu menjadi sesuatu yang lumrah. Di media sosial, kebiasaan itu dikenal dengan berbagai istilah, mulai dari self-reward, little treat, hingga healing tipis-tipis. Bagi sebagian orang, pengeluaran itu dianggap sebagai bentuk pemborosan. Namun, bagi sebagian besar Gen Z, membeli sesuatu setelah menerima gaji merupakan cara sederhana untuk memberi penghargaan kepada diri sendiri setelah bekerja selama sebulan penuh.
Memberikan penghargaan kepada diri sendiri (self reward) memang tidak ada salahnya, asalkan jangan berlebihan serta sesuai dengan koridor syariat. Ketika memberikan self reward membuat pengeluaran membengkak dan akhirnya besar pasak daripada tiang maka hal itu termasuk pemborosan. Allah tidak menyukai orang-orang yang berlaku boros. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. dalam Al-Qur'an surah Al-Isra ayat 26-27 yang berbunyi:
"Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu dengan boros. Karena sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan."
Juga harus bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Ketika membeli hanya sebatas keinginan bukan kebutuhan maka pengeluaran tidak akan efektif dan efisien. Dalam hal ini self reward bisa kita kategorikan sebagai keinginan yang tidak harus dipenuhi semuanya. Melainkan hanya sesekali saja dan tidak sering.
Tidak dimungkiri dalam kapitalisme saat ini manusia memandang kebahagiaan hidup hanya dalam aspek pemenuhan jasmaniah belaka. Apalagi budaya hedonisme yang kian meracuni masyarakat. Ketika kebahagiaan hanya diukur dengan banyaknya berbelanja online, membeli barang yang disenangi untuk kepuasan sesaat, ataupun membeli makanan dan minuman favorit hanya untuk memanjakan lidah, maka sebenarnya itu hanya kebahagiaan sesaat. Selain itu, dalam kapitalisme kebahagiaan hanya diukur dari sisi banyaknya materi, seperti mempunyai mobil mewah, motor mahal, HP branded, rumah mewah, dan sebagainya.
Dalam persaingan dunia kerja saat ini, masyarakat khususnya Gen Z merasa galau akan masa depan karirnya. Lowongan kerja yang tersedia tidak sebanding dengan lulusan yang tercetak dari kampus-kampus ternama, akhirnya mereka harus memutar otak untuk berwiraswasta agar ilmu tersalurkan dan mendapat penghasilan untuk masa depan.
Ketika menghadapi permasalahan yang kompleks seperti saat ini, Gen Z juga dihadapkan dengan paparan media sosial yang menyerang mereka setiap hari. Terlebih, di medsos banyak konten-konten yang berbau flexing, iklan-iklan dagang yang masif, dan lain sebagainya. Hal ini sangat berpengaruh terhadap pola pikir dan pola sikap masyarakat khususnya Gen Z yang mudah menyerap informasi dan hidup dalam era digital. Lantas bagaimana pandangan Islam dalam memandang kebahagiaan dan masa depan kita?
Kebahagiaan sejati seorang mukmin adalah ketika dirinya dekat dengan Allah Swt., hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. Mendekati Allah dengan cara melakukan perintahnya seperti salat, berzikir menyebut asmaul husna-Nya, bertasbih, membaca Al-Qur'an, dan berbagai macam kebaikan lainnya. Serta menjauhi larangannya seperti berbuat zina, durhaka kepada orang tua, berbohong, korupsi, menyuap, dan sebagainya.
Ketenangan sejati ketika kita melihat Allah di surganya kelak. Selain itu, sebagai umat yang beriman kepada Allah dengan meyakini Allah sebagai Al-Khaliq dan Al -Mudabbir maka kita harus yakin akan qada' dan qadarnya Allah. Segala sesuatu yang terjadi dalam diri kita baik dan buruknya berasal dari Allah. Setelah kita berusaha, berdoa semaksimal mungkin untuk mencapai hasil yang terbaik maka terakhir kita wajib bertawakal kepada Allah yang sudah menuliskan takdir kita 50.000 tahun sebelum bumi diciptakan.
Kita juga harus selalu berprasangka baik kepada Allah, bahwa Allah pasti akan memberikan yang terbaik untuk kita. Bisa jadi ketika Allah memberikan apa yang kurang sesuai dengan keinginan kita itu adalah yang terbaik untuk kita. Selain itu, sebagai seorang mukmin kita harus memahami bahwa Allah menciptakan manusia di dunia bukan tanpa maksud. Allah menciptakan manusia dengan tujuan yang sangat mulia yaitu sebagai khalifah atau pemimpin di muka bumi. Seperti firman Allah dalam surah Al-Baqarah Ayat 30 yang berbunyi:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Artinya, "Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata, "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman, "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".
Maa syaa Allah, ketika kita memahami hakikat penciptaan manusia ini, maka hidup kita akan terarah. Kita diciptakan oleh Allah, untuk menyembah-Nya dan kelak kita akan kembali kepada Allah.
Selain itu, dalam kehidupan dunia ini Allah juga telah menyuruh kita untuk menerapkan Islam secara kaffah, agar rahmat bagi seluruh alam bisa dirasakan oleh seluruh umat manusia di bumi ini. Hal ini bisa terealisasi dengan adanya seorang pemimpin yang menerapkan Islam di berbagai aspek kehidupan.
Ketika seorang pemimpin (khalifah) menerapkan sistem Islam secara kaffah, maka ia akan menjamin kebutuhan dasar setiap rakyatnya. Seperti pemenuhan sandang, pangan, dan papan. Maka Gen Z tak perlu galau dengan masa depannya karena sudah dijamin oleh pemimpinnya. Oleh karena itu Gen Z akan berfokus pada pengembangan riset ilmu pengetahuan, berbagai macam tsaqafah Islam, dan sebagainya, yang memang ditujukan untuk kemajuan negaranya. Gen Z tidak dipusingkan dengan memikirkan berbagai macam biaya kehidupan yang tinggi.
Wallahualam bissawab

Komentar
Posting Komentar