Peringatan Maulid Nabi di tengah Ketertindasan Anak-anak Gaza


OPINI


Oleh Adinda Khoirunnisa’ 

Aktivis Muslimah


Muslimahkaffahmedia.eu.org-Eskalasi kekerasan yang terus meningkat di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, kian menegaskan bahwa wilayah tersebut kini berada di tubir ledakan besar. Laporan dan data PBB mengonfirmasi bahwa tindakan represif militer serta aksi pemukim Israel telah mengikis habis prospek perdamaian dan menciptakan ancaman eksistensial bagi masyarakat sipil Palestina. Di tengah kepungan konflik yang berkepanjangan ini, kelompok yang paling rentan—anak-anak Palestina—menjadi korban utama dari kejahatan sistematis yang terjadi di lapangan. 


Antara Januari 2024 hingga Juli 2026, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memverifikasi kematian sedikitnya 174 anak Palestina di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur. Angka ini mencerminkan kenyataan pahit bahwa lebih dari satu anak gugur setiap minggunya akibat serangan kekerasan. Pada rentang waktu yang sama, lebih dari 1.500 anak mengalami luka-luka, di mana hampir separuh di antaranya menderita luka parah akibat terkena tembakan peluru tajam. Tidak hanya itu, otoritas militer Israel saat ini menahan sebanyak 355 anak Palestina dari Tepi Barat dalam penjara militer mereka. (Republika.co.id/12 Agustus 2026)


Di tengah krisis kemanusiaan yang teramat dalam hari ini, umat Islam memperingati Maulid Nabi Muhammad saw. Momentum kelahiran Nabi Muhammad saw. seharusnya tidak sekadar dirayakan secara seremonial, melainkan diresapi risalah dan teladan agung yang beliau bawakan. Rasulullah saw. diutus sebagai rahmatan lil 'alamin (rahmat bagi semesta alam) yang mengikis habis budaya jahiliah dan penindasan atas manusia, khususnya perlindungan penuh terhadap anak-anak dan kelompok rentan.


Dalam pelbagai risalah peperangan sekalipun, Rasulullah saw. secara tegas melarang keras para sahabat untuk melukai, apalagi membunuh anak-anak dan wanita. Beliau mengajarkan bahwa darah seorang muslim dan kehormatan manusia adalah suci. Peringatan Maulid Nabi hari ini menjadi tamparan keras dan cermin besar bagi seluruh dunia Islam: ketika teladan Agung mengajarkan kasih sayang dan perlindungan mutlak atas anak-anak, jutaan anak Palestina di Tepi Barat justru dibiarkan menghadapi kebrutalan militer tanpa pembelaan nyata dari para pemimpin negeri Muslim.


Tindakan represif yang masif di Tepi Barat ini berjalan sejajar dengan proyek perluasan pemukiman ilegal, perampasan lahan, dan pengusiran paksa warga lokal. Skema ini mengarah pada penguasaan wilayah Tepi Barat secara perlahan—sebuah genosida dalam senyap—yang pola agresi dan perampasannya mirip dengan apa yang dihantamkan terhadap Jalur Gaza. Dengan melumpuhkan fisik dan mental anak-anak, pihak oposisi berharap tidak ada lagi perlawanan di masa depan yang menuntut kembali tanah air mereka. 


Sayangnya, di tengah kejahatan yang memprihatinkan ini, reaksi dunia internasional dan para penguasa di negeri-negeri Muslim masih sangat terbatas. PBB dan berbagai lembaga hak asasi manusia terus menerbitkan laporan serta kecaman formal, tetapi kecaman tanpa tindakan nyata tidak pernah mampu menghentikan laju mesin militer. Para pemimpin di dunia Islam kerap kali terjebak dalam batas-batas diplomasi simbolis, retorika politik, serta keterikatan perjanjian internasional yang tumpul. Ketidakberanian untuk mengambil langkah konkret—seperti memutuskan hubungan diplomatik secara total atau memberikan perlawanan militer langsung—sama saja dengan memberikan lampu hijau bagi keberlanjutan kejahatan terhadap rakyat Palestina. 


Risalah Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad saw. mengajarkan bahwa pembiaran terhadap kejahatan kemanusiaan, penindasan, dan pembunuhan anak-anak adalah perbuatan yang diharamkan secara mutlak. Islam mengajarkan bahwa darah, jiwa, dan martabat setiap muslim—terutama kelompok lemah seperti anak-anak dan wanita—wajib dilindungi. Syariat tidak membenarkan sikap diam atau sebatas mengurut dada ketika menyaksikan saudara seiman dianiaya, diusir dari tanah kelahirannya, dan dibunuh secara brutal.


Prinsip dasar ini menegaskan bahwa kesengsaraan yang dialami oleh anak-anak Palestina bukanlah sekadar masalah internal suatu bangsa atau isu krisis kemanusiaan lokal. Ini adalah ujian bagi seluruh umat Islam dan para pemimpinnya. Ketika sistem hukum internasional terbukti gagal memberikan keadilan dan perlindungan, Islam menetapkan kewajiban moral dan politis bagi umatnya untuk bertindak secara nyata menghentikan kezaliman tersebut.


Menghadapi problem ini, solusi parsial seperti bantuan kemanusiaan darurat atau negosiasi perdamaian yang semu tidak akan pernah menyelesaikan akar masalah. Langkah awal yang sangat krusial adalah menembus sekat-sekat nasionalisme yang selama ini memecah belah kekuatan negeri-negeri muslim. Ukhuwah Islamiyah harus diwujudkan dalam bentuk kesatuan politik yang nyata. Persatuan negeri-negeri Muslim di bawah satu kepemimpinan yang berdaulat—yaitu penegakan Khilafah—akan menjadi kekuatan geopolitik tandingan yang sangat diperhitungkan. Persatuan ini akan menghapus ketergantungan pada institusi global yang sering kali menerapkan standar ganda dalam menangani konflik yang dialami kaum muslimin.


Tragedi yang menimpa anak-anak di Tepi Barat adalah alarm keras bagi nurani kemanusiaan dan umat Islam secara keseluruhan. Data kematian, luka-luka, dan penahanan militer yang diungkap oleh PBB hanyalah puncak gunung es dari penderitaan yang telah berlangsung selama berpuluh-puluh tahun.


Momentum Maulid Nabi Muhammad saw. harus menumbuhkan kembali keberanian dan kecintaan kita pada ajaran Islam secara kafah. Mengharapkan keadilan dari lembaga internasional atau menantikan itikad baik dari pihak penjajah adalah tindakan yang sia-sia. Solusi tunggal dan hakiki untuk mengakhiri penderitaan anak-anak Palestina adalah dengan mencabut akar masalahnya: menghentikan pendudukan melalui persatuan politik umat dan mobilisasi kekuatan tentara Islam. Hanya dengan ketegasan, persatuan ideologis, dan meneladani kepemimpinan Rasulullah saw. secara nyata, tanah Palestina dapat dibebaskan secara penuh, sehingga anak-anak di Tepi Barat dan seluruh kaum muslimin dapat kembali menikmati hak hidup, kebebasan, dan masa depan yang damai tanpa ketakutan. Wallahu’alam bi showab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic

Kasus Pagar Laut, Bukti Penguasa Tunduk Kepada Pengusaha

Akhir Jeda Sebuah Keteguhan