PERUNDUNGAN PASIEN BPJS, KOK BISA?


OPINI


Oleh Nur Fitriyah Asri  

Penulis Ideologis dan Aktivis Dakwah


"BPJS ya wajar nunggu 8 jam." 

"Kalau mau cepat, bayar umum saja."


Itulah sebagian komentar yang muncul di unggahan Yurizal di platform Threads. Seorang pasien BPJS Kesehatan bernama Yurizal Chaerawan, warga Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, mengeluh belum mendapat ruang rawat inap meski telah menunggu 8 jam di RSCM, rumah sakit rujukan nasional, pada 22 Juli 2026.


"Delapan jam belum dapat ruangan. Tidak mau spill RS-nya, soalnya gue pakai BPJS," unggah Yurizal.


Alih-alih simpati, yang datang justru cibiran. Ironisnya, beberapa komentar diduga berasal dari akun yang mengatasnamakan dokter dan tenaga kesehatan. Bahkan ada yang tega mengatakan, "Sana ke kamar mayat, masih kosong..." Konsil Kesehatan Indonesia telah mengidentifikasi 10 tenaga kesehatan yang diduga terlibat. [CNNIndonesia.com, 7/8/2026]


Ironis memang. Di saat tubuh sedang sakit, di saat mental sedang cemas, yang ia dapat bukan pelukan kemanusiaan, tetapi perundungan.


Kini Yurizal dikabarkan meninggal dunia pada 31 Juli 2026. Unggahannya kembali viral dan memicu investigasi serta tanggapan resmi dari Kementerian Kesehatan.


Ke mana perginya empati? Sistem apa yang telah membuat manusia, terutama para tenaga kesehatan, kehilangan rasa?


Kesehatan Sekuler: Nirempati dan Diskriminatif


Empati adalah ruh dari profesi kesehatan. Rasulullah saw. bersabda:  

  

"Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya seperti ia mencintai untuk dirinya sendiri." [HR Bukhari dan Muslim]


Namun, fenomena perundungan terhadap pasien BPJS menunjukkan nirempati — cacat rasa, cacat syaksiyah Islam (kepribadian Islam). Padahal, Allah Swt. telah berfirman:  


"Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa." [QS Al-Maidah: 2]


Merundung orang sakit jelas bukan tolong-menolong dalam kebajikan. Sikap ini lahir dari sistem pendidikan sekuler yang gagal. Pendidikan yang hanya mengedepankan kecerdasan ilmiah secara teknis, tetapi kosong secara spiritual. Wajar jika membentuk karakter yang pola pikir dan pola sikapnya tidak Islami, yaitu nirempati. 


Padahal ada ungkapan, "Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan."  

Bagaimana dengan orang sakit yang menunggu 8 jam? Sungguh, ini kezaliman. Pasien tersiksa, rasa sakitnya bertambah, cemas dan gelisah mendera. Pada akhirnya, nyawanya pun terenggut.


Yurizal adalah salah satu korban. Masih banyak lagi "Yurizal-Yurizal" lainnya. Korban kebijakan BPJS yang pada saat itu membatasi rawat inap hanya tiga hari. Meski dalam keadaan masih sakit, bahkan kondisi parah, ya dipulangkan. Benar-benar hilang rasa kemanusiaannya.


Inilah potret sistem kesehatan sekuler kapitalistik yang memandang kesehatan bukan sebagai hak dasar. Kesehatan adalah komoditas. Ada kasta: pasien umum yang punya uang, kamar VIP dilayani cepat. Pasien BPJS disuruh mengantre padahal sudah iuran BPJS. Bagaimana dengan rakyat miskin di pelosok pedalaman yang faktanya sulit mengakses kesehatan?


Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena asas negara ini adalah sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Sistem yang memandang materi adalah segalanya, sehingga tolok ukurnya manfaat dan untung-rugi, bukan halal-haram.


Oleh karena itu, hubungan negara dengan rakyat bukan lagi sebagai pengayom dan pelindung, tetapi berubah menjadi pedagang yang mencari untung dan sebagai regulator yang membuat undang-undang atau kebijakan yang berpihak pada pemilik modal.


Akibatnya, negara lepas tangan dan tidak bertanggung jawab atas kesehatan dan keselamatan warganya. Justru malah membebani rakyat dengan iuran paksa BPJS. Sementara itu, rumah sakit didorong menjadi badan usaha. Dokter dikejar target. Sedangkan rakyat miskin dianggap beban bagi negara.


Rumah sakit penuh sampai berakibat pasien meninggal dunia. Ini bukti negara abai terhadap kesehatan dan kesejahteraan rakyat. Mengapa? Karena sistem kapitalis inilah yang menjadi akar masalah dan penyebab tingginya angka kemiskinan ekstrem. Sumber Daya Alam milik rakyat yang harusnya dikelola negara dikuasakan pada swasta dan asing. Wajar jika kemiskinan menjadi penyebab banyak rakyat sakit karena kurang asupan gizi. Masihkah sistem yang rusak ini dipertahankan?


Kesehatan dalam Pandangan Islam


Jika sekularisme melahirkan nirempati, maka Islam datang membawa rahmat dan sistem yang memanusiakan manusia.


Dalam pandangan Islam, kesehatan adalah nikmat terbesar setelah keimanan. Tubuh adalah amanah Allah Swt. yang harus dijaga dan tidak boleh dirusak.


Oleh karena itu, Islam mewajibkan negara untuk menyediakan pelayanan kesehatan — fisik, mental, dan spiritual — secara gratis tanpa membebani biaya, sebagaimana dicontohkan pada masa kepemimpinan Rasulullah saw. dan para Khulafaur Rasyidin.


Lihat sejarah. Pada masa Khilafah Abbasiyah, Khalifah Al-Walid membangun rumah sakit di tiap provinsi. Pasien miskin dan cacat diberi tunjangan. Dokter digaji layak oleh negara sehingga fokus mengabdi. 


Di Baghdad ada dokter keliling yang membawa obat gratis ke rumah-rumah. Tidak ada istilah menunggu 8 jam karena sistemnya memang untuk melayani masyarakat, tidak diskriminatif, dan bukan mencari untung.


Pengelolaan kesehatan berbasis syariat yang mandiri dari kepentingan bisnis atau kapitalisasi layanan kesehatan.


Sebab, pembiayaannya dari Baitulmal. Sumbernya dari pengelolaan harta milik umum: migas, tambang, hutan, laut. Bukan dari pajak dan iuran BPJS yang mencekik rakyat.


Dalam sistem Islam, yakni Khilafah, fungsi negara sebagai raa’in adalah sebagai pengatur dan pengurus urusan umat dengan syariat Islam yang menjamin kesejahteraan, termasuk kesehatan rakyat.  


Rasulullah saw. bersabda:  

"Seorang imam adalah pengurus dan ia bertanggung jawab atas yang diurusnya.[HR Bukhari dan Muslim]


Alhasil, sistem Islam melahirkan empati. Sistem kapitalis melahirkan nirempati.


PENUTUP


Perundungan terhadap pasien BPJS adalah cermin. Buah dari sistem sekuler yang menimbulkan kerusakan di semua lini kehidupan, termasuk kesehatan. 


Selama agama dipisahkan dari pengaturan negara, maka kesehatan diperlakukan sebagai bisnis. Perundungan dan kezaliman akan terus ada.


Padahal Allah Swt. telah berfirman:  

"Barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah ia telah memelihara kehidupan manusia semuanya." [QS Al-Maidah: 32]


Saatnya kita kembali pada sistem yang adil, yakni aturan Allah Swt. sebagai asas. Dengan demikian, menjadikan negara sebagai pelayan, pelindung, dan pengayom untuk kesejahteraan rakyatnya.


Mari sembuhkan negeri ini. Dimulai dengan menyembuhkan sistemnya.  


_Wallahu a’lam bissawab._

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic

Kasus Pagar Laut, Bukti Penguasa Tunduk Kepada Pengusaha

Akhir Jeda Sebuah Keteguhan