SATU JUTA SARJANA MENGANGGUR, MAU KERJA DI MANA?


OPINI


Oleh Nur Fitriyah Asri

Penulis Ideologis dan Aktivis Dakwah


Sarjana pencari kerja antre panjang di halaman job fair [bursa kerja]. Tempat di mana berbagai perusahaan atau instansi sedang membuka lowongan pekerjaan. Fenomena ini menunjukkan gelar sarjana tidak menjamin mendapat pekerjaan seperti yang diidamkan dan diharapkan orang tua.


Di TV, pemerintah bilang ekonomi "tumbuh". Tetapi, faktanya tetap sama: lulus sarjana sulit mencari kerja. Mau kerja di mana?


Data terbaru Survei Angkatan Kerja Nasional, per Mei 2026, menyebutkan jumlah penduduk usia kerja yang menganggur mencapai 7,22 juta orang. Jumlah pengangguran berlatar belakang sarjana [S-1, S-2, dan S-3] sebanyak 1.033.182 orang. Jika ditelisik mundur, jumlah sarjana menganggur meningkat signifikan dari tahun ke tahun [Kompas.id, 4/8/2026].[Sakernas]


Dampaknya, mahasiswa turun ke jalan menagih janji 19 juta lapangan kerja. Program Makan Bergizi Gratis [MBG] dan Koperasi Desa Merah Putih [KDMP] memang ada, tetapi serapannya belum menyentuh sarjana sesuai bidang ilmunya. Sejatinya program ini bukan dirancang untuk menyerap sarjana, melainkan bantuan konsumtif. Akhirnya banyak yang "mengalah". Anak teknik jadi admin. Anak pendidikan jadi kurir. Anak hukum jualan daring. Ironisnya, di tengah kondisi ini ada yang lebih memilih menganggur dengan alasan "gengsi".


Lebih aneh lagi, pertumbuhan ekonomi disebut naik. Namun, PHK justru semakin masif. Pabrik tutup, _startup_ tumbang, dan perusahaan melakukan efisiensi. Dampaknya nyata. _Job fair_ berubah jadi pasar. Bukan pasar kerja, tetapi pasar harapan. Bahkan, sejumlah orang tua rela mengantar anaknya antre berjam-jam demi "berburu" pekerjaan. Ijazah sudah diusahakan, biaya sudah banyak dikeluarkan. Jawabannya selalu sama: tidak ada lowongan. Nasib!


Banyak pengamat ekonomi mengatakan faktor utama penyebab pengangguran sarjana adalah:


1. Ketidaksesuaian Keahlian [Mismatch]

Kurikulum di perguruan tinggi sering kali belum sepenuhnya mengikuti perkembangan zaman atau kebutuhan dunia kerja modern.


2. Minimalnya Lapangan Kerja Formal

Sektor industri dan manufaktur mengalami perlambatan, sehingga jumlah pabrik atau kantor baru yang menyerap tenaga kerja tingkat sarjana sangat terbatas.


3. Kualitas dan Relevansi Kampus

Mutu pendidikan yang belum merata serta kurangnya pengalaman praktik atau keterampilan tambahan membuat lulusan kurang siap kerja.


4. Ekspektasi dan Standar

Sebagian lulusan baru cenderung memilih pekerjaan formal tertentu dengan standar gaji atau posisi yang ideal, padahal persaingan sangat ketat.


SISTEM KAPITALIS SEKULER, AKAR MASALAHNYA


Semua itu terjadi karena negara menganut sistem kapitalis berasaskan sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Tolok ukur perbuatan bukan haram-halal, tetapi untung dan rugi. Maka lahirlah materialisme dan liberalisme. Materialisme memandang materi adalah segalanya. Liberalisme memuja kebebasan.


Wajar jika pengangguran tinggi karena:


1. Orientasi Laba dan Efisiensi

Prinsip ekonomi kapitalis selalu mencari biaya produksi paling rendah demi keuntungan maksimal. Oleh karena itu, semua sektor termasuk pendidikan dijadikan objek bisnis tanpa memikirkan kualitas pendidikan dan masa depan anak bangsa.


2. Otomasi dan Teknologi

Bagi pemilik modal, pekerja adalah biaya. Maka tenaga manusia diganti dengan mesin atau AI untuk memotong biaya. Paradigma "untung" harus tetap jalan, meski harus mengorbankan ribuan keluarga. Makanya PHK kerap terjadi, sementara lowongan kerja sulit dicari.


3. Negara Lepas Tangan

Negara dalam kapitalisme perannya sebagai regulator, pembuat undang-undang, dan penjaga iklim investasi. Alih-alih jadi penyedia lapangan kerja, justru sumber daya alam diserahkan ke swasta, asing, dan aseng dengan dalih investasi. Padahal jika dikelola negara, sektor ini bisa menyerap ratusan ribu tenaga kerja terdidik.


Ironisnya, UU yang dibuat justru memihak pemilik modal. Seperti UU Cipta Kerja yang memudahkan PHK dan sistem kontrak. Akibatnya posisi pekerja tidak stabil. Penganggur justru "dibutuhkan" sebagai cadangan tenaga kerja murah.


SOLUSI ISLAM: NEGARA HARUS JADI PENJAMIN


Dalam Islam, pengangguran [_al-bithalah_] diselesaikan secara sistemik. Bekerja bukan sekadar untuk pemenuhan kebutuhan hidup, melainkan bagian dari ibadah.


Adapun solusinya sebagai berikut:


1. Peran Penguasa sebagai Pelayan Rakyat

Rasulullah saw. bersabda: "Imam adalah pengurus rakyat dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya." [HR Bukhari]


Dalam konteks solusi pengangguran, negara wajib:

Sinkronisasi Pendidikan dan Industri: Membangun kurikulum berbasis kemaslahatan nyata. Bukan sekadar mencetak lulusan bergelar, melainkan membekali keahlian [skill] yang dibutuhkan umat.

Menyediakan Lapangan Kerja: Negara wajib membangun industri strategis: energi, transportasi publik, rumah sakit, sekolah, riset, pertanian, dan teknologi. Semua butuh sarjana. Dengan begitu penyerapan tenaga kerja terdidik jadi besar dan terarah.

Mengelola SDA: Tambang, energi, dan hutan hukumnya milik umum. Haram diserahkan ke swasta/asing. Negara wajib mengelolanya untuk kemakmuran rakyat. Ini membuka lapangan kerja seluas-luasnya, serta mempermudah regulasi usaha.

Pemberian Modal Usaha: Memberikan bantuan modal tanpa riba melalui skema qardhul hasan atau mudharabah bagi lulusan yang ingin berwirausaha.


2. Distribusi Kekayaan yang Adil

Mencegah harta agar tidak beredar di kalangan orang kaya saja [melalui aturan zakat, larangan riba, melarang penimbunan harta/emas-perak].


3. Jaminan Kebutuhan Pokok

Jika ada kepala keluarga yang belum mendapatkan pekerjaan atau terdampak PHK, negara wajib memberi nafkah dari Baitulmal sampai ia bekerja. Ini hak. Menelantarkan rakyat adalah dosa.


4. Reformasi Mindset Individu

  Islam melarang sikap malas dan terlalu pilih-pilih pekerjaan. Rasulullah saw. pernah mencium tangan seorang sahabat yang melepuh karena bekerja dan menyebutnya tangan yang dicintai Allah Swt..

  Kewajiban Mandiri: Islam mengharamkan meminta-minta. Mencari nafkah adalah kewajiban syar'i bagi laki-laki yang mampu.


Kisah seorang Anshar datang meminta-minta kepada Rasulullah saw. Rasulullah saw. tidak langsung memberikan uang, melainkan membelikan kapak agar ia mandiri mencari kayu bakar. Ketika orang tersebut kembali dengan membawa keuntungan, Rasulullah saw. bersabda: "Ini lebih baik bagimu daripada meminta-minta yang akan menjadi noda di wajahmu di hari kiamat."


Kisah ini menunjukkan bahwa solusi Islam adalah pemberdayaan alat produksi dan kemandirian, bukan sekadar bantuan sosial yang memanjakan.


Ukuran berhasilnya ekonomi Islam apabila setiap individu terpenuhi kebutuhan pokoknya. Meliputi pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Kalau masih ada sarjana menganggur, berarti sistemnya yang salah.


PENUTUP


Satu juta sarjana menganggur itu cermin bobroknya sistem demokrasi kapitalis sekuler. Karena sejatinya masalah ekonomi adalah masalah di mana aturan Allah Swt. tidak diterapkan secara kaffah.


Allah Swt. berfirman:

"Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit." [QS Thaha: 124]


Oleh karena itu, saatnya kembali pada sistem yang diridai Allah Swt.. Dengan Islam, satu juta pengangguran sarjana akan kembali punya tempat. Bukan di antrean _job fair_, tetapi di barisan terdepan membangun peradaban.


_Wallahu a’lam bishawab._

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic

Kasus Pagar Laut, Bukti Penguasa Tunduk Kepada Pengusaha

Akhir Jeda Sebuah Keteguhan