Senjata Dilucuti Demi Kedamaian Semu, Palestina Kian Lumpuh
OPINI
Oleh Syifaul Afida
Aktivis Muslimah
MuslimahKaffahMedia.eu.org, OPINI-Dikutip kantor berita AFP, Jumat (31/7/2026), Trump mengumumkan bahwa Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian telah meraih kesepakatan pelucutan senjata bagi Hamas maupun kelompok bersenjata lainnya di Gaza. Bagi Trump, pencapaian tersebut merupakan langkah monumental menuju perdamaian dan keamanan yang langgeng.
Pelucutan senjata disepakati akan dilaksanakan secara bertahap. Pasukan Zionis akan mundur setelah pelucutan senjata selesai. Lalu, tanggung jawab atas Gaza akan diambil alih oleh Pasukan Stabilisasi Internasional, bekerja sama dengan pasukan polisi Palestina yang baru. [news.detik.com, 31-07-2026]
Hamas pun sepakat untuk melakukan pelucutan senjata, namun harus disertai dengan penghentian serangan dan penarikan pasukan Zionis dari Jalur Gaza.
Sayangnya, serangan di Jalur Gaza lagi-lagi dilancarkan oleh pasukan Zionis beberapa hari setelah Trump menyampaikan kesepakatan pelucutan senjata. Kesepakatan tersebut ternyata masih belum mendapat tanggapan dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Bahkan, Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir mengingkari rencana tersebut dan mendesak militer untuk terus memburu para pemimpin Hamas.
Pasukan Zionis melancarkan serangan udara di Jalur Gaza pada Sabtu dan Minggu, 1–2 Agustus 2026, yang menewaskan sedikitnya 8 warga Palestina. Rangkaian serangan dilakukan menggunakan pesawat tempur, drone, hingga rudal, dengan sasaran permukiman warga, tenda pengungsian, hingga fasilitas medis penting. Bahkan gudang obat dan gedung klinik rawat jalan menjadi sasaran. [idntimes.com, 02-08-2026]
Pelucutan senjata Hamas dan kelompok-kelompok bersenjata di Gaza sesungguhnya merupakan bagian dari siasat Amerika Serikat dan Zionis melalui Board of Peace (BoP) untuk melumpuhkan perjuangan rakyat Palestina.
Sayangnya, kesadaran umat untuk menolak skema ini mulai surut karena BoP terus-menerus dinarasikan sebagai jalan menuju perdamaian. Padahal, menerima BoP artinya sama dengan merelakan Gaza kepada pihak yang selama ini menjadi tameng utama penjajahan Zionis. Sementara itu, Hamas dan kelompok perlawanan lainnya justru diminta melucuti senjata.
Pelucutan senjata juga tidak bisa mewujudkan perdamaian, keamanan, maupun pembebasan Gaza. Akar persoalan Palestina tetap terletak pada penjajahan, perampasan tanah, blokade, dan genosida yang terus dilakukan Zionis. Buktinya, setelah pengumuman kesepakatan, Zionis kembali menyerang Gaza.
Di saat yang sama, proyek New Gaza terus dipersiapkan dengan melibatkan aktor-aktor lokal agar lebih mudah diterima masyarakat. Narasi yang dibangun dikemas seolah-olah demi menyelamatkan penduduk Gaza dan menghadirkan masa depan yang lebih baik. Padahal, jika tujuan utamanya adalah mewujudkan keselamatan rakyat Palestina, langkah-langkah tersebut seharusnya dilakukan sejak dahulu tanpa diawali perang berkepanjangan, penghancuran wilayah, dan gugurnya begitu banyak korban sipil.
Kehadiran pasukan stabilitas internasional juga tidak bisa dilihat sebagai langkah untuk membebaskan Palestina dari penjajahan Zionis. Pasukan tersebut lebih ditujukan untuk menjaga stabilitas keamanan dalam kerangka kesepakatan yang telah disusun, bukan untuk menghentikan penjajahan atau mengembalikan hak-hak rakyat Palestina yang dirampas. Dengan kata lain, keberadaan mereka berfungsi menjaga tatanan setelah pelucutan senjata agar tetap berjalan sesuai skema yang telah ditetapkan.
Berbagai perkembangan yang terjadi di Palestina menunjukkan bahwa Amerika Serikat dan Zionis terus menghadirkan siasat-siasat baru untuk mempertahankan penjajahan atas tanah Palestina. Beragam skema yang dikemas dengan narasi perdamaian, stabilitas, maupun kemanusiaan perlu dicermati secara kritis agar umat Islam tidak mudah terjebak dalam agenda yang justru menguntungkan pihak penjajah.
Karena itu, umat harus terus membaca dan memahami setiap perkembangan berdasarkan pandangan Islam agar tidak mudah menerima berbagai solusi yang pada hakikatnya hanya memperpanjang dominasi penjajah atas Palestina.
Selain itu, umat Islam juga perlu terus melakukan kritik dan koreksi atas pengkhianatan pemimpin negeri-negeri Muslim yang bersekutu dengan Amerika Serikat dan BoP-nya. Sikap diam, bahkan ikut terlibat dalam berbagai bentuk kerja sama yang menguntungkan musuh umat, hanya akan semakin memperlemah posisi kaum Muslimin dan memperpanjang penderitaan rakyat Palestina.
Dengan demikian, aktivitas amar makruf nahi mungkar terhadap penguasa harus terus dijalankan agar para pemimpin tersebut tidak menggadaikan kepentingan umat Islam demi kepentingan politik maupun tekanan kekuatan asing.
Kondisi ini juga menunjukkan pentingnya perjuangan untuk menyatukan umat Islam di seluruh dunia di bawah kepemimpinan Khilafah Islam. Kehadiran Khilafah akan mampu menghimpun kekuatan politik, militer, dan ekonomi kaum Muslimin di seluruh dunia. Ketika kaum Muslimin bersatu dalam berbagai kekuatan tersebut, kaum Muslimin akan lebih mampu menghadapi berbagai bentuk penjajahan dan intervensi terhadap negeri-negeri Islam, termasuk dari Amerika Serikat dan Zionis.
Khilafah adalah junnah atau pelindung bagi umat Islam. Rasulullah saw. bersabda:
“Sesungguhnya imam atau khalifah adalah junnah atau perisai. Orang-orang berperang di belakangnya dan menjadikannya sebagai pelindung.” [HR Muslim]
Karena itu, perjuangan menyatukan umat bukan sekadar cita-cita politik, melainkan ikhtiar untuk menghadapi berbagai bentuk penjajahan. Bahkan, persatuan ini juga akan mengumpulkan kepingan negeri-negeri kaum Muslimin yang telah tercerai-berai dalam batas-batas negara bangsa atau nation state.
Dengan demikian, pembebasan Palestina tidak hanya dipahami sebagai persoalan diplomasi atau kesepakatan politik, melainkan sebagai bagian dari kewajiban umat untuk mengakhiri penjajahan, sebagaimana firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 190–193.
Dengan begitu, Palestina akan memperoleh pembebasan secara menyeluruh ketika umat Islam memiliki kekuatan dan kepemimpinan yang mampu melindungi kaum Muslimin serta mengakhiri penjajahan atas tanah Palestina. Wallahu a’lam bissawab.

Komentar
Posting Komentar