Perempuan di Ujung Kereta: Simbol Ketangguhan atau Bukti Lemahnya Negara?


OPINI


Oleh Anita Humayroh 

(Pegiat Literasi dan Pemerhati Sosial)


Muslimahkaffahmedia.eu.org-Gerbong perisai yang seharusnya menjadi pelindung justru ditempatkan di ujung paling depan dan belakang rangkaian KRL. Ironisnya, di sanalah gerbong khusus wanita berada. Narasi “wanita tangguh” seolah menjadi legitimasi, seakan perempuan siap menghadapi risiko paling besar di titik paling rawan. Padahal, logika sederhana menunjukkan: bagian depan kereta adalah yang pertama menerima dampak ketika kecelakaan terjadi.


Peristiwa tabrakan antara KRL dan KA Agro Bromo beberapa waktu lalu menjadi alarm keras (detiknews.com, 28/04/2026). Benturan di rel bukan sekadar insiden teknis, tetapi membuka fakta yang lebih dalam—tentang bagaimana keselamatan diposisikan, dan siapa yang sebenarnya paling berisiko. Dalam setiap kecelakaan kereta, bagian depan hampir selalu menjadi titik dengan dampak paling fatal. Lalu, ketika gerbong perempuan ditempatkan di area tersebut, pertanyaan mendasarnya menjadi tak terelakkan: apakah ini bentuk perlindungan, atau justru kelalaian yang dibungkus narasi ketangguhan?


Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Ia merupakan cerminan dari cara pandang sistem yang lebih luas dalam memposisikan perempuan. Dalam sistem kapitalisme hari ini, perempuan sering kali didorong untuk menjadi “tangguh”, “mandiri”, bahkan “kuat menghadapi risiko.” Namun di balik narasi tersebut, negara justru kerap abai dalam menghadirkan perlindungan yang hakiki. Perempuan dipuji sebagai pilar, tetapi pada saat yang sama dibiarkan berdiri di garis depan tanpa perlindungan maksimal.


Istilah “tulang rusuk” yang sering dilekatkan pada perempuan dalam konteks kelembutan dan penjagaan, perlahan bergeser dalam realitas kehidupan modern. Dalam kapitalisme, perempuan bukan hanya didorong menjadi tulang punggung ekonomi, tetapi juga ditempatkan dalam berbagai kondisi yang menuntut mereka menanggung risiko besar. Ironisnya, ketika risiko itu benar-benar datang—seperti dalam kecelakaan transportasi—perlindungan yang seharusnya diberikan negara justru tampak minim.


Kasus tabrakan KRL dan KA Agro Bromo seharusnya menjadi momentum evaluasi menyeluruh, bukan sekadar perbaikan teknis sesaat. Pertanyaannya bukan hanya tentang bagaimana kecelakaan itu terjadi, tetapi juga bagaimana sistem keselamatan dirancang. Mengapa posisi gerbong tertentu tidak mempertimbangkan aspek kerentanan penumpangnya? Mengapa perlindungan tidak menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan transportasi?


Dalam sistem yang berorientasi pada efisiensi dan keuntungan, aspek keselamatan kerap kali menjadi nomor sekian. Infrastruktur dibangun, layanan ditingkatkan, tetapi perlindungan mendasar tidak selalu menjadi fokus utama. Negara hadir, tetapi lebih sebagai regulator dan fasilitator, bukan sebagai pelindung yang benar-benar memastikan keselamatan setiap individu, khususnya kelompok yang rentan.


Perempuan dalam hal ini, menjadi salah satu pihak yang paling merasakan dampaknya. Di satu sisi mereka didorong untuk aktif di ruang publik, bekerja, beraktivitas, dan berkontribusi. Namun di sisi lain, sistem yang menaungi mereka tidak sepenuhnya menjamin keamanan dan keselamatan. Ketangguhan seakan menjadi alasan untuk mengabaikan kebutuhan akan perlindungan.


Padahal, sebuah peradaban yang baik bukanlah yang menuntut rakyatnya untuk terus-menerus kuat menghadapi risiko, melainkan yang mampu meminimalkan risiko tersebut melalui sistem perlindungan yang kokoh. Negara seharusnya tidak menjadikan ketangguhan sebagai substitusi dari tanggung jawabnya, tetapi justru memastikan bahwa setiap kebijakan berpihak pada keselamatan.


Dalam perspektif Islam, negara memiliki peran sentral sebagai pelindung (ra’in) dan penanggung jawab (junnah) bagi rakyatnya, termasuk dalam hal transportasi. Keselamatan bukan sekadar aspek teknis, melainkan bagian dari amanah yang harus dijaga dengan serius. Penataan sistem transportasi tidak boleh mengabaikan faktor keselamatan, apalagi menempatkan kelompok tertentu dalam posisi yang lebih berisiko.


Perempuan dalam Islam dimuliakan dan dijaga, bukan dengan sekadar pujian atas ketangguhan, tetapi dengan sistem yang benar-benar melindungi mereka. Negara wajib memastikan bahwa setiap kebijakan publik, termasuk transportasi, mempertimbangkan keamanan secara menyeluruh—mulai dari perencanaan, operasional, hingga mitigasi risiko. Tidak ada ruang bagi kelalaian yang dapat membahayakan nyawa.


Semua itu tidak mungkin terwujud hanya dengan perubahan kebijakan parsial atau perbaikan teknis semata. Dibutuhkan sebuah sistem yang sahih yang menjadikan keselamatan dan perlindungan manusia sebagai asas utama, bukan sekadar pelengkap. Sistem yang lahir dari aturan yang benar, yang tidak tunduk pada kepentingan materi, tetapi berorientasi pada penjagaan jiwa dan kemuliaan manusia secara utuh.


Jika sistem ini diterapkan, maka tidak akan ada kebijakan yang secara tidak langsung menempatkan perempuan di titik paling rawan tanpa pertimbangan matang. Negara akan hadir secara nyata, bukan sekadar simbolik, dalam memberikan perlindungan. Pada akhirnya, tragedi di rel kereta ini harus menjadi refleksi bersama: sudah saatnya kita beralih dari sekadar bertahan dalam sistem yang rapuh, menuju sistem yang benar-benar mampu melindungi—secara adil, menyeluruh, dan berlandaskan kebenaran.


Sudah saatnya umat manusia menoleh dan mengkaji kembali sistem yang benar-benar mampu menghadirkan perlindungan hakiki, yaitu sistem Islam. Bukan sekadar sebagai wacana, tetapi sebagai solusi nyata yang telah terbukti dalam sejarah menjaga jiwa, kehormatan, dan keselamatan manusia—terutama perempuan. Islam tidak menempatkan perempuan sebagai pihak yang harus “tangguh menghadapi risiko”, melainkan sebagai sosok yang wajib dijaga dan dilindungi secara maksimal oleh negara. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kolektif untuk kembali kepada sistem yang sahih ini, memperjuangkannya dengan pemahaman yang benar, dan menghadirkannya dalam kehidupan nyata, agar tidak ada lagi nyawa yang terabaikan dan tidak ada lagi perempuan yang ditempatkan di titik paling rentan atas nama ketangguhan semu.


Wallahualam bissawab.

Komentar