Bangku Kosong di SD Negeri, Apa yang Hilang?
OPINI
Oleh Fadia Nur Amalia
MuslimahKaffahMedia.eu.org,OPINI-Tahun ajaran baru 2026/2027 seharusnya menjadi momen yang membahagiakan bagi sekolah-sekolah. Namun, di berbagai daerah justru muncul fenomena yang mengundang keprihatinan. Banyak SD Negeri mengalami krisis murid baru. Ada yang hanya menerima satu, dua, atau tiga siswa. Bahkan, ada yang sama sekali tidak mendapatkan murid baru.
Fenomena ini bukan hanya terjadi di satu daerah tetapi hampir di setiap wilayah, seperti di Semarang, SDN Purwoyoso 01 hanya menerima tiga murid baru, Bandar Lampung, SDN 1 Gedung Meneng hanya mendapat dua murid, Boyolali ada SD yang hanya menerima satu siswa, sementara di Temanggung hanya dua siswa selama dua tahun berturut-turut. Di Blitar, tiga SD Negeri bahkan tidak mendapatkan murid baru sama sekali. Kondisi serupa juga terjadi di Magelang, Pandeglang, dan berbagai daerah lainnya. (cnnindonesia.com, 14/07/2026)
Salah satu penyebab fenomena ini adalah perubahan struktur demografi. Jumlah anak usia sekolah terus menurun, sementara urbanisasi membuat banyak keluarga muda berpindah ke daerah lain. Akibatnya, calon siswa di sekitar sekolah negeri semakin sedikit.
Pemerintah pun mulai mencari jalan keluar. Mulai dari mendata sekolah yang jumlah siswanya sangat sedikit, mengkaji penggabungan (regrouping) beberapa SD Negeri, hingga mengevaluasi berbagai kebijakan pendidikan bersama pemerintah daerah. Sayangnya, solusi seperti regrouping juga tidak selalu mudah karena membuat jarak sekolah menjadi lebih jauh bagi sebagian anak.
Namun, jika dilihat lebih dalam, persoalan ini ternyata bukan hanya soal jumlah murid yang semakin sedikit. Ada keresahan yang sedang dirasakan banyak keluarga muslim tentang masa depan anak-anak mereka. Hari ini semakin banyak orang tua memilih sekolah swasta karena lebih menekankan pendidikan agama, pembiasaan ibadah, belajar Al-Qur’an, serta pembentukan akhlak. Fenomena ini menunjukkan bahwa ada sesuatu yang sedang dicari, sekaligus sesuatu yang sedang dikhawatirkan.
Mengapa bisa demikian? Allah Swt. berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا...
“Wahai orang-orang yang beriman Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka....” (QS. At-Tahrim [66]: 6)
Ayat ini mengingatkan bahwa orang tua tidak hanya bertanggung jawab memastikan anak memperoleh pendidikan, tetapi juga menjaga akidah, akhlak, dan kepribadiannya agar tetap berada di jalan Islam. Wajar jika banyak ayah dan ibu yang merasa cemas melihat kondisi generasi muda hari ini. Bayangkan saja, hampir setiap hari disuguhi berita tentang kenakalan remaja, perundungan, pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, tawuran, hingga berbagai tindak kriminal yang melibatkan pelajar.
Belum lagi derasnya pengaruh media sosial yang sering kali mengajak generasi muda menjauh dari nilai-nilai Islam,
karena itulah, banyak orang tua merasa bahwa sekolah tidak cukup hanya mengejar prestasi akademik. Mereka ingin anak-anaknya tumbuh dengan akidah yang kuat, terbiasa beribadah, memiliki akhlak yang mulia, dan mampu menjaga diri di tengah berbagai godaan zaman.
Sayangnya, kurikulum sudah berkali-kali berganti. Nama boleh berubah, metode boleh diperbarui, bahkan sistem penerimaan murid pun terus disempurnakan. Namun, semua itu belum mampu menghentikan kerusakan moral yang terus bermunculan di tengah generasi muda. Ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan sekadar soal kurikulum, melainkan ada persoalan yang jauh lebih mendasar.
Akar persoalannya tidak lain karena diterapkannya sistem sekuler liberal yang memisahkan agama dari kehidupan. Akibatnya, pendidikan lebih diarahkan untuk mencetak lulusan yang siap bekerja dan bersaing, sementara pembentukan kepribadian Islam tidak menjadi fondasi utama. Ilmu memang berkembang, tetapi akhlak sering kali tertinggal. Prestasi meningkat, tetapi tidak selalu dibarengi dengan ketakwaan kepada Allah Swt..
Allah Swt. tidak membiarkan manusia mengatur kehidupan berdasarkan hawa nafsunya. Allah telah menetapkan syariat sebagai pedoman dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Sebagaimana firman-Nya,
ثُمَّ جَعَلْنٰكَ عَلٰى شَرِيْعَةٍ مِّنَ الْاَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ
“Kemudian Kami jadikan engkau (Muhammad) berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Al-Jatsiyah [45]: 18)
Ayat ini menegaskan bahwa solusi atas berbagai persoalan kehidupan tidak lahir dari aturan buatan manusia, melainkan dari syariat Allah. Oleh karena itu, perubahan yang dibutuhkan bukan sekadar mengganti kurikulum atau memperbaiki tata kelola sekolah, tetapi mengembalikan pendidikan kepada aturan Islam.
Banyak orang tua memilih untuk menyekolahkan anak di sekolah berbasis agama sebenarnya menunjukkan bahwa mereka sedang berusaha melindungi anak-anaknya dari kerusakan yang semakin mengkhawatirkan. Namun, langkah ini sejatinya baru menyentuh permukaan masalah. Sebab, kerusakan yang kita saksikan hari ini bukan hanya berasal dari lingkungan sekolah, tetapi merupakan dampak dari sistem sekuler liberal yang diterapkan dalam kehidupan.
Islam memandang pendidikan sebagai kebutuhan dasar sekaligus pilar utama dalam membangun peradaban. Dalam Islam, pendidikan bukan sekadar sarana mencetak tenaga kerja, tetapi menjadi jalan membentuk manusia yang bertakwa, berilmu, dan mampu menjadi pembangun peradaban.
Sebab itulah negara bertanggung jawab menyediakan pendidikan yang berkualitas, merata, dan gratis bagi seluruh rakyat.
Pada sistem pendidikan Islam yang diterapkan secara kafah dalam institusi Khilafah, kurikulum dibangun di atas akidah Islam. Tujuannya bukan hanya melahirkan generasi yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki kepribadian Islam yang kuat. Negara juga bertanggung jawab menyediakan guru yang berkualitas, sarana yang memadai, serta lingkungan pendidikan yang mendukung lahirnya generasi bertakwa sekaligus unggul dalam berbagai bidang.
Harapan tercapainya hal itu, butuh kesadaran masyarakat juga agar tidak boleh berhenti mempunyai keinginan mencari sekolah terbaik untuk anak. Lebih dari itu, kita perlu menyadari bahwa berbagai kerusakan yang menimpa generasi hari ini merupakan dampak dari sistem yang rusak.
Perubahan sebesar ini tentu tidak akan lahir hanya dari keresahan individu. Dibutuhkan kesadaran umat untuk memahami akar persoalan sekaligus memperjuangkan solusi yang benar. Di sinilah pentingnya dakwah politik Islam. Dakwah bukan hanya mengajak individu menjadi lebih baik, tetapi juga membangun kesadaran politik umat agar memahami akar persoalan dan berjuang menghadirkan perubahan yang hakiki.
Krisis murid di sejumlah SD Negeri seharusnya menjadi pengingat bahwa persoalan pendidikan tidak bisa diselesaikan hanya dengan menambah jumlah murid, mengganti kurikulum, atau menggabungkan sekolah. Tetapi lebih dari itu, yaitu dibutuhkan sistem yang mampu melahirkan generasi berilmu sekaligus bertakwa.
Sudah saatnya kita tidak hanya sibuk mencari sekolah terbaik untuk anak-anak kita, tetapi juga memperjuangkan sistem terbaik yang mampu menjaga seluruh generasi. Selama sistem sekuler liberal masih menjadi dasar kehidupan, persoalan yang sama akan terus berulang dalam bentuk yang berbeda, karena itu, mari bersama-sama menguatkan dakwah politik Islam, membangun kesadaran umat, dan memperjuangkan tegaknya Islam secara kaffah dalam naungan Khilafah. Sebab, hanya dengan sistem yang berasal dari Allah Swt., pendidikan akan benar-benar mampu melahirkan generasi yang kokoh akidahnya, mulia akhlaknya, unggul ilmunya, serta siap menjadi pembangun peradaban Islam yang gemilang. Wallahualam bissawaab

Komentar
Posting Komentar