SD Negeri Sepi Murid, Alarm Kegagalan Pendidikan Sekuler

 


OPINI

Oleh Nia Kurniawati  

Pendidik Generasi


MuslimahKaffahMedia.eu.org, OPINI-Masa awal tahun ajaran 2026/2027 sudah dimulai, sejumlah sekolah negeri di Indonesia minim mendapatkan murid baru.


SD Negeri 1 Gedung Meneng, Kecamatan Rajabasa, Bandar Lampung, hanya menerima dua siswa baru pada tahun ajaran 2026/2027. Meski hanya dua murid baru di kelas I, guru tetap semangat menyambut mereka saat pelaksanaan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) pada hari pertama masuk sekolah, Senin, 13 Juli 2026.


Sementara itu, di Bengkulu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Rejang Lebong membolehkan sejumlah sekolah di daerah itu untuk tetap menerima murid baru kendati telah melewati batas waktu.


Kepala Disdikbud Rejang Lebong, Zakaria Efendi, mengatakan, dari total 241 sekolah negeri, baik SD maupun SMP di Kabupaten Rejang Lebong, masih ada beberapa sekolah yang jumlah pendaftarnya minim sehingga belum memenuhi kuota untuk rombongan belajar (rombel).


Sementara itu, untuk tingkat SD, saat itu terdapat 13 sekolah yang tercatat belum mendapatkan siswa baru sama sekali. CNNIndonesia.com, 15 Juli 2026.


Fenomena sejumlah Sekolah Dasar Negeri (SDN) yang minim murid baru, bahkan ada yang tidak mendapatkan satu pun peserta didik, menjadi ironi di tengah besarnya anggaran pendidikan Indonesia. Pemerintah menilai kondisi ini dipicu oleh menurunnya angka kelahiran, urbanisasi, dan perubahan struktur demografi. Solusi yang ditawarkan pun sebatas regrouping atau penggabungan sekolah.


Sayangnya, cara pandang seperti ini hanya menyentuh gejala, bukan akar masalah.


Memang, penurunan angka kelahiran merupakan fakta yang tidak bisa diabaikan. Tingginya biaya hidup, sulitnya memperoleh pekerjaan yang layak, mahalnya perumahan, hingga ketidakpastian ekonomi membuat banyak pasangan muda menunda, bahkan membatasi jumlah anak. Urbanisasi pun terus meningkat karena pembangunan dan kesempatan ekonomi terkonsentrasi di kota. Semua itu menunjukkan adanya persoalan tata kelola negara yang belum mampu menghadirkan kesejahteraan secara merata.


Namun, ada fakta lain yang jauh lebih menarik sekaligus mengkhawatirkan. Banyak orang tua justru secara sadar memilih sekolah swasta, terutama sekolah yang memiliki penguatan pendidikan agama, pembinaan akhlak, pembiasaan ibadah, dan pembelajaran Al-Qur'an. Mengapa?


Jawabannya sederhana: mereka ingin menyelamatkan anak-anaknya.


Di tengah maraknya tawuran, perundungan, penyalahgunaan narkoba, kekerasan seksual, pornografi, perjudian daring, hingga berbagai bentuk kenakalan remaja, orang tua merasa pendidikan akademik semata tidak lagi cukup. Mereka membutuhkan sekolah yang mampu membentuk karakter dan menjaga keimanan anak sejak dini.


Pilihan masyarakat ini sejatinya merupakan bentuk mosi tidak percaya terhadap sistem pendidikan sekuler yang selama puluhan tahun diterapkan. Sistem tersebut terbukti gagal menjadikan agama sebagai fondasi utama pembentukan kepribadian peserta didik. Pendidikan lebih diarahkan untuk mencetak tenaga kerja dan mengejar capaian akademik, sementara pembinaan akhlak sering kali hanya menjadi pelengkap.


Tidak mengherankan jika setiap kali muncul persoalan moral di kalangan pelajar, solusi yang ditawarkan hampir selalu sama: mengganti kurikulum, menambah mata pelajaran, memperbarui metode belajar, atau memperketat tata tertib sekolah. Padahal, berkali-kali pergantian kurikulum tidak pernah benar-benar menghentikan laju kerusakan generasi.


Sebab, yang bermasalah bukan sekadar kurikulumnya, melainkan paradigma yang melandasinya.


Sistem sekuler liberal memisahkan agama dari kehidupan. Anak-anak belajar agama beberapa jam dalam sepekan, tetapi di luar sekolah mereka dibanjiri budaya liberal melalui media sosial, hiburan, lingkungan pergaulan, bahkan kebijakan publik yang semakin permisif terhadap berbagai penyimpangan. Akibatnya, sekolah berjuang membangun karakter, sementara sistem kehidupan justru terus meruntuhkannya.


Karena itu, meningkatnya minat masyarakat terhadap sekolah berbasis agama menunjukkan bahwa fitrah umat masih hidup. Mereka menyadari bahwa keselamatan generasi tidak cukup dijaga dengan prestasi akademik, tetapi harus dibangun di atas fondasi akidah dan akhlak yang kokoh.


Sayangnya, solusi yang ditempuh masih bersifat individual. Hanya mereka yang mampu secara ekonomi yang dapat mengakses sekolah swasta berkualitas. Sementara itu, negara belum menjadikan pendidikan berbasis nilai Islam sebagai orientasi utama penyelenggaraan pendidikan nasional.


Islam memiliki pandangan yang sangat berbeda. Pendidikan bukan sekadar layanan publik, melainkan kebutuhan pokok umat sekaligus pilar tegaknya peradaban. Karena itu, negara wajib menyediakan pendidikan yang berkualitas, gratis, dan merata bagi seluruh rakyat.


Dalam sistem Islam yang diterapkan secara menyeluruh melalui institusi Khilafah, kurikulum dibangun di atas asas akidah Islam. Seluruh proses pendidikan diarahkan untuk membentuk syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islam), sekaligus melahirkan generasi yang unggul dalam ilmu pengetahuan, teknologi, riset, dan berbagai bidang kehidupan. Negara bertanggung jawab menyediakan guru terbaik, fasilitas pendidikan yang memadai, serta lingkungan yang mendukung tumbuhnya ketakwaan.


Yang tidak kalah penting, negara juga menjaga masyarakat dari arus pemikiran dan budaya yang merusak akhlak. Pendidikan tidak berjalan sendiri, tetapi didukung oleh sistem sosial, ekonomi, media, dan hukum yang semuanya berlandaskan syariat Islam.


Karena itu, kesadaran masyarakat harus ditingkatkan. Jangan berhenti pada kesadaran bahwa anak perlu disekolahkan di tempat yang agamanya kuat. Kesadaran itu harus naik menjadi kesadaran politik bahwa kerusakan generasi yang terjadi hari ini merupakan buah dari sistem sekuler liberal yang diterapkan dalam kehidupan.


Selama sistem tersebut tetap dipertahankan, berbagai bentuk kerusakan akan terus lahir meskipun kurikulum berkali-kali diganti dan anggaran pendidikan terus dinaikkan.


Di sinilah pentingnya dakwah politik Islam, yaitu dakwah yang membangun kesadaran umat agar memahami akar persoalan sekaligus memperjuangkan tegaknya sistem Islam secara kafah. Sebab, hanya dengan perubahan sistemik, pendidikan benar-benar dapat menjadi sarana melahirkan generasi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, dan mampu membangun peradaban yang diridai Allah Swt.


Sepinya murid di SD negeri bukan sekadar persoalan statistik pendidikan. Ia adalah alarm bahwa masyarakat sedang mencari sistem yang mampu menjaga masa depan anak-anak mereka.


Semoga hal ini semakin membuat umat gerah akan sistem kapitalis materialistis dan semakin menguatkan opini di tengah umat bahwa kita butuh kembali kepada sistem Islam. _Wallahu a'lam bish-shawab_.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic

Kasus Pagar Laut, Bukti Penguasa Tunduk Kepada Pengusaha

Retak yang Masih Mengikat