Sekolah Negeri vs Sekolah Swasta, Orangtua Memilih yang Mana?

 


OPINI

Oleh Nur Syamsiah Tahir

Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi AMK


MuslimahKaffahMedia.eu.org, OPINI-Pagiku cerahku

Matahari bersinar

Kugendong tas merahku

Di pundak

Selamat pagi semua

Kunantikan dirimu

Di depan kelasmu

Menantikan kami


Demikianlah, dua bait lirik lagu yang diputar di banyak sekolah saat menyambut kehadiran murid-muridnya. Pemandangan seperti itu banyak ditemui apalagi di awal tahun ajaran baru. Dengan seragam dan peralatan sekolah serba baru,  murid-murid penuh semangat menjejakkan kaki mereka di halaman sekolah.


Namun, tidak tampak demikian kondisinya di beberapa sekolah negeri. Sebagaimana dilansir oleh CNN Indonesia, memasuki masa awal tahun ajaran 2026/2027, sejumlah sekolah negeri di Indonesia minim mendapatkan murid baru.


Hanya saja, meski minim mendapat murid baru, Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tetap digelar menyambut pelajar baru tersebut sejak Senin (13/7). MPLS tetap digelar sepekan ke depan sebelum masa belajar mengajar secara penuh sepanjang tahun ajaran ini. Walaupun jumlah siswa sedikit, semangat tenaga pendidik dan kesiapan fasilitas di banyak sekolah tetap terjaga demi memberikan layanan pendidikan terbaik bagi setiap anak yang telah mendaftar.


Minimnya murid baru ini tercatat di sejumlah daerah di Indonesia, bahkan di kota-kota yang dikenal sebagai kawasan aglomerasi atau kota besar seperti Semarang dan Bandar Lampung, serta beberapa kota lainnya.


Fenomena Saat Ini


Fenomena ini terjadi karena jumlah anak usia sekolah yang semakin minim di sekitar sekolah. Hal ini disebabkan oleh kondisi pertumbuhan penduduk yang menurun, generasi menua, dan urbanisasi. Ketiga hal ini menjadi bukti bahwa telah terjadi kegagalan dalam kebijakan ekonomi yang dibuat oleh pemerintah. Pada akhirnya kebutuhan biaya hidup semakin tinggi dan kesejahteraan hidup pun sulit diraih sehingga menjadikan pasangan muda enggan untuk mempunyai anak. Sementara itu, kondisi ini pula yang mendorong terjadinya urbanisasi yakni mencuatnya kesenjangan pendapatan di desa dan di kota.


Menghadapi kondisi kurangnya murid ini pemerintah mengambil solusi dengan regrouping beberapa Sekolah Dasar Negeri (SDN) menjadi satu atau dimerger. Akan tetapi pilihan ini juga sulit karena jarak sekolah jadi semakin jauh. Otomatis akan menambah biaya transportasi bagi murid-murid dan guru-gurunya.


Selain itu, terjadi pula fenomena pergeseran orientasi pendidikan di tengah masyarakat. Pada faktanya orang tua banyak yang lebih memilih sekolah yang mengajarkan pendidikan agama, di antaranya ibadah, mengaji, dan penanaman akhlak. Hal ini menunjukkan munculnya rasa takut atas keselamatan anaknya karena kerusakan dan kenakalan remaja semakin hari semakin banyak.


Fakta menunjukkan berita tentang tindak kriminalitas di kalangan anak-anak, remaja, dan dewasa makin menggunung,  entah itu pencurian, perkelahian, pelecehan seksual, miras, dan narkoba. Tentu saja fakta ini makin mengkhawatirkan bagi orang tua, termasuk bagi para pendidiknya. 


Akar Masalahnya


Jika menelisik lebih jauh, sebenarnya akar masalahnya adalah sistem kapitalis sekuler yang diterapkan di negeri ini. Lahirnya berbagai kerusakan moral hingga tindak kriminal di kalangan anak sekolah tak bisa dilepaskan dari sistem yang diberlakukan. Meskipun berbagai kurikulum berulangkali diubah dan diganti nyatanya tak mampu membendung kerusakan-kerusakan itu. Hal ini disebabkan oleh sistem yang diusung semata-mata mengutamakan kemanfaatan secara material saja, bahkan kebijakan yang serba permisif justru melahirkan kerusakan-kerusakan yang baru. Alih-alih berkurang kerusakannya yang ada justru makin bertambah dan  menjadi-jadi.


Konstruksi Islam Solusinya


Berbeda dengan sistem Islam. Dalam pandangan Islam, pendidikan adalah kebutuhan dasar dan pilar penting dalam peradaban sehingga negara bertanggung jawab menjamin ketersediaan dan pemerataan pendidikan berkualitas  juga gratis bagi seluruh rakyat. 


Sebagaimana yang dipaparkan oleh Ustadz Abdurrahman Albaghdadi dalam bukunya yang berjudul Sistem Pendidikan di Masa Khilafah Islam, bahwa kurikulum pendidikan harus berdasarkan akidah Islam. Apabila akidah Islam sudah menjadi asas yang mendasar bagi kehidupan seorang Muslim, maka seluruh pengetahuan yang diterima seorang muslim harus berdasarkan akidah Islam pula.


Hal ini pun telah dilakukan oleh Rasulullah saw. tatkala mengajak manusia masuk Islam. Beliau saw. mengajak mereka memeluk agama Islam terlebih dahulu, setelah itu mengajari mereka untuk mengenal hukum-hukum Islam.


Maka dalam Islam, tujuan kurikulum dan pendidikannya adalah membekali akal dengan pemikiran dan ide-ide yang sehat, baik itu mengenai aqaid (cabang-cabang aqidah), maupun hukum. Pembentukan syakhsiyah Islam (kepribadian Islam) pada diri seorang pelajar juga salah satu tujuan pendidikan. Jadi, sistem pendidikan yang mampu mewujudkan syakhsiyah Islam dan memberinya modal pengetahuan yang selayaknya, maka sistem itu yang harus dipakai.


Pada akhirnya output pendidikannya berkepribadian Islam dan mahir dalam iptek. Untuk itu semua maka otomatis negara harus menyediakan SDM guru yang profesional, infrastruktur yang lengkap, sarana dan prasarana yang mencukupi untuk mendukung terciptanya pendidikan yang berkualitas. 


Adapun di sisi masyarakat, maka kesadaran masyarakat harus dinaikkan dari level sekadar ingin menyelamatkan anaknya dari bahaya kerusakan menjadi kesadaran politik. Artinya masyarakat harus sadar bahwa kerusakan yang ada merupakan kerusakan sistemik yakni kerusakan itu sebagai akibat dari penerapan sistem sekuler liberal.


Oleh karena itu, yang harus dilakukan adalah dakwah politik. Maksudnya adalah dakwah yang ditujukan untuk membangun kesadaran politik masyarakat. Dengan dakwah ini diharapkan mampu menggerakkan masyarakat untuk mengubah sistem sekuler liberal menjadi sistem Islam.


Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw. dan para sahabat. Dakwah yang Beliau saw. lakukan adalah dakwah politik. Dakwah mengubah masyarakat kafir Makkah dan Madinah menjadi masyarakat Islam. Di bawah kepemimpinan Beliau saw. terwujud masyarakat yang sejahtera. Bahkan,  dakwah politik model ini pun dilanjutkan oleh para sahabat hingga Islam menjadi magnet masyarakat dunia. Masyarakat di bawah kepemimpinan Islam yang hidup sejahtera sampai 13 abad lamanya dan menguasai 2/3 wilayah dunia.


Lalu, apa lagi yang dinantikan? Mari bersinergi dalam mewujudkan Islam yang totalitas melalui dakwah politik. Alhasil, orang tua pun tidak perlu bingung lagi dalam memilih sekolah bagi anak-anaknya karena negara pun pasti bersinergi dalam mewujudkan lembaga pendidikan yang berdasarkan akidah Islam saja, dengan output yang berkepribadian Islam dan mahir dalam iptek.

Wallahualam bissawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic

Kasus Pagar Laut, Bukti Penguasa Tunduk Kepada Pengusaha

Retak yang Masih Mengikat