DILARANG NGAJI, APA MASALAHNYA?
Motivasi
Oleh Qitfirul Azizah
Pencerah Idiologis
Muslimahkaffahmedia.eu.org-Para pengemban dakwah Islam _kaffah_ pasti sering menjumpai fenomena ini. Seorang istri mulai mengikuti kajian. Ia merasa tenang dan tercerahkan setelah mendengar pembahasan Islam _kaffah_. Tetapi justru sang suami melarang istri dan anak-anaknya untuk ikut kajian tersebut.
Jujur, saat pertama kali mendapati kasus seperti ini saya sampai bertanya-tanya:
"Apa-apaan ini? Bukankah seharusnya suami bangga, ketika sang istri mengkaji Islam, artinya beban suami untuk mendidik keluarga jadi lebih ringan."
Lalu, kenapa harus dilarang? Padahal belum tahu apa isi kajian yang diikuti.
Peristiwa ini mengingatkan saya pada kisah salah seorang sahabat terbaik Rasulullah saw., yakni Abu Bakar Ash-Shiddiq ra.
Kisah Abu Bakar dan Ibnu Dughnah
Dahulu, saat dakwah Rasulullah saw. di Mekah mendapat penolakan dan gangguan hebat dari kaum Quraisy, kaum muslimin termasuk Abu Bakar berniat hijrah ke Habasyah. Di tengah perjalanan, beliau berpapasan dengan Ibnu Dughnah, pemimpin Qarah dari Bani Hawn bin Khuzaimah.
Ibnu Dughnah bertanya, "Hendak ke mana, wahai Abu Bakar?"
Abu Bakar menjawab, "Kaumku telah mengusirku. Aku ingin mengarungi bumi dan menyembah Rabbku."
Mendengar itu, Ibnu Dughnah berkata, "Orang sepertimu tidak pantas diusir. Engkau penolong orang susah, penyambung silaturahmi, pemikul beban orang lain, dan pembela kebenaran. Aku siap menjadi pelindungmu. Kembalilah dan sembahlah Rabbmu di negerimu."
Abu Bakar pun pulang. Ibnu Dughnah lalu berkeliling menemui para pembesar Quraisy: "Apakah kalian akan mengusir orang yang suka menolong dan berbuat baik?"
Akhirnya, para pembesar Quraisy mengizinkan dengan syarat:
"Perintahkan Abu Bakar beribadah di dalam rumahnya saja. Boleh salat dan membaca Al-Qur'an, asal jangan terang-terangan. Kami takut ia menggoyahkan keyakinan istri dan anak-anak kami."
Abu Bakar menyetujuinya. Namun, lama-kelamaan beliau membangun musala kecil di halaman rumah. Dari sanalah wanita dan anak-anak musyrik sering mencuri pandang. Mereka kagum melihat Abu Bakar yang selalu menangis saat membaca ayat-ayat Al-Qur'an.
Para pembesar Quraisy resah. Mereka mengutus utusan kepada Ibnu Dughnah:
"Kami izinkan ia salat di rumah. Tapi sekarang ia melakukannya di halaman secara terang-terangan. Cegah dia. Jika tidak, tarik kembali perlindunganmu."
Ibnu Dughnah pun menemui Abu Bakar dan menyampaikan dua pilihan: membatasi ibadah di dalam rumah atau mengembalikan perlindungan.
Tanpa ragu Abu Bakar menjawab, "Aku kembalikan perlindunganmu. Aku cukup dengan perlindungan Allah Swt.."
Setelah itu, salah seorang Quraisy bahkan melempari debu ke kepala Abu Bakar saat beliau bersandar di Ka'bah. Ketika ditanya, "Bagaimana menurutmu?" Abu Bakar hanya menjawab, "Tuhanku lebih lembut darimu."
Apakah Sejarah Ini Terulang?
Dari kisah di atas, rasanya kita seperti sedang mengulang sejarah. Bedanya, dulu Islam masih baru dan wajar jika ditolak. Tetapi hari ini, jumlah Muslim sangat banyak dan informasi mudah didapat. Jika penolakan itu masih terjadi, ini jadi pertanyaan besar.
Mungkin belum banyak yang sadar: di era globalisasi ini, Islam sengaja dibuat "asing" kembali di tengah umatnya sendiri. Ketika ada yang menyampaikan kebenaran Islam, orang justru merasa aneh karena Islam yang ia kenal sejak kecil bukan seperti itu.
Semua ini bermula sejak runtuhnya Daulah Islam pada 3 Maret 1924. Mulai saat itu, Barat semakin gencar menyerang umat Islam bukan dengan pedang, tetapi dengan pemikiran. Kapitalisme, nasionalisme, pluralisme, dan isme-isme lain disusupkan ke dalam sistem negara dan benak kaum muslimin.
Tujuannya satu, yakni melalaikan umat dari Islam yang utuh. Umat disibukkan dengan urusan dunia, sampai-sampai merasa cukup "Islam" hanya karena lahir dari orang tua yang beragama Islam. Padahal Islam bukan agama warisan.
Barat paham bahwa memerangi Muslim secara fisik akan merugikan mereka karena umat ini tidak takut jihad. Maka mereka masuk lewat ide. Mereka memecah negeri-negeri Islam dengan batas _nation state_, dan menyibukkan kita agar tidak punya waktu mengkaji Islam.
Padahal Nabi saw. sudah memperingatkan:
> بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاء
> "Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awalnya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing." [HR Muslim no. 145]
Bahkan menuntut ilmu adalah kewajiban:
> طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
> "Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim." [HR Ibnu Majah no. 224]
> مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
> "Barang siapa dikehendaki Allah kebaikan, maka Allah akan memahamkannya dalam agama." [HR Bukhari no. 71, Muslim no. 1037]
Maka, wahai para suami, jangan takut jika istri dan anak kalian mengkaji Islam kaffah. Justru, ikutlah bersama mereka.
Karena ketika kehidupan diatur dengan Islam, beban mendidik keluarga jadi ringan. Kita bisa fokus memperbaiki hubungan dengan Allah Swt., dan Allah Swt. yang akan mencukupkan urusan dunia kita.
Rumah yang di dalamnya ada tilawah, ada kajian, ada obrolan tentang Islam _kaffah_, itulah rumah yang akan diturunkan sakinah dan dipayungi malaikat.
Dakwah dimulai dari ruang tamu kita sendiri. Islam kaffah bukan utopia. Ia dimulai saat kita berani belajar hari ini.
Oleh karena itu, ajak istri. Gandeng anak. Duduk bersama demi mengkaji Islam kaffah.

Komentar
Posting Komentar