Maulid: Tidak Sekadar Selawat, tetapi Momen Ittiba' Risalah Nabi


OPINI


Oleh Nur Fitriyah Asri

Penulis Ideologis dan Aktivis Dakwah


Rabiul Awal, bulan kelahiran Nabi Muhammad saw. Momentum yang selalu diperingati sebagai bukti cinta kepada Nabi.  


Muslimahkaffahmedia.eu.org-Masjid-masjid ramai bergema selawat. Jalanan dipenuhi pawai diiringi selawat. Majelis tabligh akbar digelar di mana-mana. Namun, pembahasan masih terbatas pada keteladanan akhlak Rasul semata. Bahkan syariat yang dibawanya nyaris terlupakan.


Ironisnya, peringatan Maulid Nabi di beberapa daerah lebih menonjolkan tradisi. Di Jember misalnya, peringatan Maulid Nabi saw. dimeriahkan dengan tradisi "Kirab Ancak Agung" pada Sabtu, 22 Agustus 2026. Acara ini diikuti oleh seribu ancak dan sajian hasil bumi. Rute kirab dimulai dari Jalan Gajah Mada menuju Alun-Alun Jember, diiringi gema selawat. Antusiasme warga sangat tinggi hingga sebagian ancak diserbu warga di pinggir jalan sebelum mencapai garis akhir. Kendati demikian, acara tetap dilangsungkan dan memecahkan dua rekor MURI (CNNIndonesia.com, 23/8/2026).


Lebih memprihatinkan lagi, masih banyak umat Islam memperingati Maulid Nabi saw. dengan menyembelih hewan atau mempersembahkan makanan kepada penghuni alam gaib selain Allah dengan cara melarung ke laut (methik laut) atau menyajikan sesajen di tempat yang dianggap keramat dengan tujuan mencari keselamatan. Ini adalah bentuk syirik yang nyata, menyekutukan Allah Swt.


Fenomena tersebut sangat menyelisihi risalah yang dibawa Nabi saw.. Jadi, wajar jika selesai peringatan Maulid, kita kembali ke kehidupan jahiliah modern. Sistem yang menindas tetap berjalan. Hukum yang bertentangan dengan Islam tetap berlaku, yaitu sistem demokrasi kapitalis sekuler.


Sistem Demokrasi Kapitalis Sekuler, Biang Kerusakan


Akibat diterapkannya sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan, kedaulatan berada di tangan manusia, bukan di tangan syariat. Dalam demokrasi, kebenaran diukur dari suara terbanyak dan asas manfaat, bukan halal-haram.


Oleh karena itu, sistem ekonominya adalah kapitalisme berbasis riba. Judi online dan miras dilegalkan. Sumber daya alam (SDA) dikuasai korporasi, sedangkan rakyat dibiarkan miskin.

Sistem sosialnya menganut liberalisme: bebas berpacaran, bebas LGBT, dan bebas menghina agama atas nama HAM.


Ironis. Di negara dengan penduduk muslim terbesar, penghambaan kepada selain Allah Swt. masih berlangsung secara sistemik. Manusia menghamba kepada dunia dan hawa nafsu. Inilah sistem jahiliah modern. Akibatnya, kerusakan terjadi di semua aspek kehidupan.


Sayangnya, seruan untuk mengubah sistem jahiliah ini menuju sistem Islam yang menegakkan penghambaan hanya kepada Allah, hampir tidak pernah disinggung.


Padahal, tuntutan perubahan sudah muncul di tengah umat. Rakyat resah dengan mengguritanya korupsi, kemiskinan, kriminalitas, dan kerusakan moral. Banyak yang berteriak "butuh perubahan". Hanya saja, umat belum tahu arah dan metode perjuangan yang dicontohkan Rasulullah saw..


Tidak Sekadar Berselawat, Tetapi Ittiba Nyata


Mencintai Rasulullah saw. adalah kewajiban, sedangkan cinta butuh konsekuensi. Allah Swt. berfirman dalam Q.S. Ali Imran ayat 31, artinya sebagai berikut: "Katakanlah, jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu." 


Cinta harus melahirkan keterikatan pada risalah yang Beliau bawa. Rasulullah saw. tidak hanya menyampaikan tata cara ibadah. Beliau berdakwah dan berjuang untuk melanjutkan kehidupan Islam. Beliau berhasil mendirikan Negara Islam dan memimpin dengan menerapkan hukum Allah Swt. secara kafah.


Dalam perjalanannya, Beliau berhasil mengubah masyarakat jahiliah menjadi masyarakat Islam. Beliau membawa sistem dari Allah Swt. berupa Al-Qur'an dan sunah. Sistem inilah yang mengubah Jazirah Arab dari masa jahiliah menuju peradaban Islam yang menaungi dunia.


Oleh karena itu, cinta kepada Nabi saw. tidak berhenti di lisan, tetapi butuh bukti. Bukti cinta adalah menaati, mengikuti, dan memperjuangkan seluruh risalah yang diemban Beliau. Inilah ittiba, bentuk pengakuan cinta yang hakiki.


Perubahan Terjadi Jika Ada Ittiba


Allah Swt. berfirman dalam Q.S. Al-Ahzab ayat 21 yang artinya, "Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah." 


Peringatan Maulid Nabi saw. seharusnya menjadi momentum untuk membangkitkan kesadaran umat guna mengikuti risalah Beliau dan memperjuangkan kehidupan Islam.


Allah Swt. juga berfirman dalam QS. Al-Hasyr: 7, artinya, "Apa yang diberikan Rasul kepadamu terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah."


Jadi, ittiba' berarti menerima apa yang dibawa Rasul saw. dan meninggalkan apa yang dilarangnya, mencakup seluruh aspek kehidupan.


Perubahan akan terjadi jika kita mengembalikan makna ittiba'. Yaitu terikat pada syariat dan metode perjuangan Nabi saw.  


Itulah ittiba' hakiki. Mencintai Beliau saw. berarti melanjutkan risalah beliau. Sebagaimana dakwah yang dicontohkan Rasulullah saw. di Mekah, maka tugas kita hari ini adalah mengajak umat sadar dan menuntut perubahan sistemik.


Tiga Tahapan Metode Perjuangan Dakwah Rasulullah saw.


Metode Beliau saw. sangat jelas dan sistematis. Ada tiga marhalah (tahapan) perjuangan dakwah Nabi Muhammad saw., yakni:


1. Tahap Pembinaan dan Pengaderan (Marhalah at-Tatsqif)

Dilakukan untuk membentuk kader yang meyakini pemikiran Islam secara mendalam, yaitu membangun kesadaran.

Mengajarkan akidah Islam, hukum-hukum Islam, dan bahaya sistem kufur. Tujuannya adalah melahirkan pribadi-pribadi yang terikat pada Islam dan berani berjuang.

Tahap ini bertujuan membangun kerangka jemaah yang solid. Dilaksanakan secara rahasia (sirriyah) pada awal masa kenabian di Mekah.


2. Tahap Berinteraksi dengan Umat (Marhalah Tafa'ul Ma'al Ummah)

Dilakukan agar umat secara luas turut memikul kewajiban dakwah Islam.

Bertujuan menjadikan Islam sebagai solusi utama dalam kehidupan masyarakat.

Memasuki fase terang-terangan (jahriyah) serta pergolakan pemikiran dan perjuangan politik (shira' fikri wa kifah siyasi) di tengah publik.

Menjelaskan problem umat dan solusinya; bahwa solusi dari kemiskinan, korupsi, kebakaran hutan dan lahan, serta kerusakan moral adalah Islam.


3. Tahap Penerimaan Kekuasaan (Istilamul Hukmi)

Ini adalah tahap akhir, yakni mencari dan menerima kekuasaan dari umat untuk menerapkan Islam secara menyeluruh dalam kehidupan bernegara.

Merupakan puncak perjuangan saat Nabi saw. mendirikan Daulah Islam di Madinah.

Dari sinilah hukum Allah diterapkan, peradilan ditegakkan, dan negara menjadi junnah atau perisai.


Walhasil, dengan tiga tahapan inilah kehidupan Islam akan tegak kembali sehingga Islam benar-benar hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Allah Swt. berfirman:

"Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." (Q.S. Al-Anbiya: 107)


Wallahualam bissawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic

Kasus Pagar Laut, Bukti Penguasa Tunduk Kepada Pengusaha

Akhir Jeda Sebuah Keteguhan