Gen Z Terhimpit. Antara Tekanan Ekonomi, Hedonisme, dan Krisis Tujuan Hidup

 


OPINI

Oleh Nia Kurniawati 

Pendidik Generasi 

MuslimahKaffahMedia.eu.org, OPINI-Tanggal gajian tiba. Notifikasi transfer masuk ke telepon genggam. Dalam hitungan menit, sebagian pekerja muda langsung membuka aplikasi Mobile Banking untuk membayar sewa tempat tinggal, tagihan listrik, atau kebutuhan bulanan lain yang tidak bisa ditunda.


Setelah kewajiban selesai, sebagian lainnya membuka keranjang belanja daring yang sudah diisi sejak beberapa hari sebelumnya. Ada yang membeli lipstik, parfum, memesan kopi atau matcha, memperpanjang langganan layanan musik digital, mencoba restoran yang sedang ramai diperbincangkan, menonton film di bioskop, hingga berburu tiket konser. Kebiasaan seperti ini menjadi lumrah di medsos yang dikenal dengan berbagai istilah, mulai dari self reward, little treat, hingga healing tipis-tipis. (Kompas.com,12-08-2026).


Bagi Gen Z membeli sesuatu setelah menerima gaji merupakan cara sederhana untuk memberikan penghargaan kepada diri sendiri setelah lelah bekerja selama sebulan penuh. Lalu pertanyaannya, apakah kebiasaan self reward benar-benar mencerminkan gaya hidup konsumtif atau justru menjadi cara generasi muda bertahan menghadapi tekanan ekonomi dan psikologis?


Gen Z kerap digambarkan sebagai generasi yang melek teknologi, kreatif, adaptif, dan memiliki keberanian untuk menyuarakan berbagai persoalan sosial. Namun, di balik citra tersebut tersimpan problem yang tidak sederhana. Gen Z menghadapi tekanan ekonomi, tuntutan gaya hidup, kecemasan sosial, hingga kebingungan dalam menentukan arah kehidupan. Lebih dari 48% Gen Z disebut tidak merasa aman secara finansial, pada saat yang sama pengeluaran untuk memenuhi tuntutan gaya hidup justru semakin mendapatkan tempat. Fenomena ini menarik untuk dicermati di tengah kondisi ekonomi yang berat. Persoalannya tidak cukup dijawab hanya dengan menyalahkan Gen Z sebagai generasi konsumtif, tetapi ada kondisi struktural dan ideologis yang perlu dibenahi.


Ketika Hidup Semakin Mahal, Penghasilan Tak Seimbang


Dalam sistem kapitalis, kehidupan ekonomi sangat bergantung pada mekanisme pasar. Kebutuhan dasar seperti pangan, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, hingga transportasi semakin membutuhkan biaya besar. Di sisi lain, tidak semua anak muda memiliki akses terhadap pekerjaan dengan pendapatan yang memadai. Generasi muda akhirnya dituntut untuk mandiri secara ekonomi, sementara negara belum sepenuhnya mampu menghadirkan jaminan kehidupan yang layak bagi seluruh rakyat. Lapangan kerja berkualitas terbatas, persaingan semakin ketat, sedangkan biaya hidup terus meningkat.


Dalam kondisi seperti ini, Gen Z bukan hanya menghadapi persoalan --bagaimana mendapatkan pekerjaan --tetapi juga bagaimana bertahan hidup. Mereka dituntut produktif, kompetitif, memiliki banyak keterampilan, membangun personal branding, bahkan harus mampu mengelola citra dirinya di media sosial. Dampak dari tekanan seperti ini dapat menimbulkan kelelahan mental dan emosional.


Sekularisme Menjadikan Healing sebagai Pelarian dari Tekanan


Pembicaraan mengenai generasi muda yang masih dibantu secara finansial oleh orang tua seringkali bergerak terlalu cepat menunjukkan penilaian. Padahal jika dinilai lebih dalam, fenomena ini muncul dari pertemuan beberapa lapisan sekaligus. Kondisi ekonomi yang berubah, kesiapan individu dalam mengelola keuangan, serta relasi keluarga yang memiliki karakter tersendiri, terutama konteks Asia. Di tengah tekanan inilah muncul budaya self reward, healing, shopping, nongkrong, wisata, dan berbagai bentuk konsumsi sebagai cara memperoleh kebahagiaan. 


Memang, pada dasarnya beristirahat atau memberikan penghargaan kepada diri sendiri bukanlah sesuatu yang salah. Yang perlu dikritisi adalah ketika konsumsi dijadikan solusi utama untuk mengatasi kehampaan dan tekanan hidup.


Media sosial pun semakin memperkuat keadaan. Setiap hari Gen Z disuguhi gaya hidup yang seolah tampak sempurna: liburan ke tempat eksotis, kuliner mahal, pakaian bermerek, gawai terbaru, hingga pencapaian orang lain. Akibatnya, muncul fear of missing out (fomo), perasaan takut tertinggal dari tren dan kehidupan orang lain. Akhirnya, kebahagiaan hanya diukur berdasarkan apa yang dimiliki dan apa yang dapat ditampilkan. Ketika tidak mampu mengikuti standar tersebut, seseorang merasa gagal, tertinggal, bahkan tidak berharga.


Di sinilah budaya sekuler-liberal perlu dikritisi. Ketika agama dipisahkan dari pengaturan kehidupan, standar kebahagiaan cenderung dikembalikan kepada manusia dan dorongan hawa nafsunya. Kebahagiaan kemudian mudah direduksi menjadi kepemilikan materi, popularitas, pengalaman menyenangkan, dan standar memenuhi keinginan.


Lebih Dalam: Krisis Tujuan Hidup


Proporsi Gen Z yang masih tinggal bersama orang tua kini makin meningkat dan sempat mencapai titik tertinggi sejak masa Great Depression. Ini memberikan gambaran bahwa yang sedang berubah bukan sekedar sikap generasi tetapi kondisi yang mereka hadapi sejak awal memasuki dunia kerja. Tak hanya itu, problem Gen Z sebenarnya tidak berhenti pada ekonomi dan gaya hidup. Ada persoalan yang jauh lebih mendasar yakni krisis tujuan hidup.


Seseorang yang tidak memiliki jawaban jelas tentang untuk apa ia hidup akan mudah mencari kebahagiaan melalui berbagai hal yang bersifat sementara. Ketika mendapatkan sesuatu, ia bahagia. Ketika kehilangan sesuatu, ia terpuruk. Hidup akhirnya berputar pada siklus mengejar kenikmatan dan menghindari kesengsaraan.


Adapun Islam menawarkan paradigma yang berbeda. Manusia tidak diciptakan sekadar untuk mengejar materi, karier, popularitas, atau kesenangan duniawi. Allah SWT berfirman:

"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56)


Ayat ini memberikan fondasi penting bagi kehidupan manusia. Aktivitas mencari nafkah, belajar, bekerja, membangun keluarga, berkontribusi kepada masyarakat, bahkan menikmati hal-hal yang halal, semuanya dapat bernilai ibadah apabila dilakukan sesuai syariat dan ditujukan untuk meraih rida Allah.


Islam Membutuhkan Peran Negara yang Bertanggung Jawab


Islam tidak hanya mengajarkan kesalehan individu, tetapi juga menempatkan negara sebagai pihak yang bertanggung jawab mengurus urusan rakyat. Dalam konsep pemerintahan Islam, pengelolaan sumber daya alam tidak diserahkan begitu saja kepada kepentingan segelintir pemilik modal. Kekayaan alam yang termasuk kepemilikan umum dikelola negara untuk kemaslahatan masyarakat.


Dengan pengelolaan sumber daya yang amanah, negara memiliki sumber pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan dasar rakyat, menyediakan layanan publik, serta membuka ruang pekerjaan yang layak. Generasi muda tidak semestinya dibiarkan berjuang sendirian menghadapi kerasnya kehidupan ekonomi. Islam juga memiliki konsep pendidikan dan media yang diarahkan untuk membentuk kepribadian Islam. 



Generasi muda tidak seharusnya dibiarkan terus-menerus menjadi sasaran industri konsumsi dan propaganda gaya hidup yang merusak. Media semestinya menjadi sarana edukasi, penyebaran ilmu, dan penguatan ketakwaan. Dengan demikian, solusi persoalan Gen Z tidak cukup berupa seminar motivasi, kampanye kesehatan mental, atau ajakan agar lebih bijak berbelanja. Semua itu memang dapat membantu pada level individu, tetapi akar persoalannya membutuhkan perubahan dan peningkatan pemikiran.


Gen Z membutuhkan kehidupan ekonomi yang lebih adil, lingkungan sosial yang sehat, serta tujuan hidup yang benar. Islam memberikan ketiganya melalui penerapan syariat secara menyeluruh. Generasi muda seharusnya tidak diarahkan hanya menjadi konsumen yang terus mengejar tren. Mereka adalah generasi yang memiliki potensi besar untuk menjadi pembangun peradaban. Dengan akidah yang kokoh dan sistem kehidupan yang menjadikan syariat sebagai pedoman, energi, kreativitas, dan kecerdasan, Gen Z dapat diarahkan bukan sekadar untuk mengejar kesenangan sesaat, melainkan untuk meraih rida Allah dan membangun peradaban kehidupan yang mulia.


Tengoklah ke belakang di saat Islam diterapkan secara kafah, terlahirlah generasi muda sekaliber Ali Bin Abi Thalib sebagai gudang ilmu, Zaid bin Tsabit yang menguasai 7 bahasa asing, Usamah Bin Zaid  menjadi Panglima Perang di usia 18 tahun, dan Muhammad Al Fatih Sang Penakluk Konstantinopel di usia 24 tahun, dan banyak nama-nama generasi muda lainnya.


Oleh karena itu penting dibangun arah pandang terhadap Gen Z, bukan hanya tentang "Bagaimana saya bisa hidup nyaman, tetapi, untuk apa saya hidup, dan peradaban seperti apa yang ingin saya bangun?”


Allahualam bissawab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filisida Maternal, Rapuhnya Ibu dalam Sistem Toxic

Kasus Pagar Laut, Bukti Penguasa Tunduk Kepada Pengusaha

Akhir Jeda Sebuah Keteguhan